KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #12: BAGIAN 12 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  
الْحَمْدُ اللهِ رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita akan membicarakan manasik haji.

Manasik haji yang dimaksud adalah 3 (tiga) jenis tata cara menunaikan ibadah haji.

 ◆ Tata cara menunaikan ibadah haji

⑴ Tamattu’

Tamattu’ adalah berihrām pada miqāt dibulan-bulan haji dengan berniat umrah yaitu mengucapkan, “Labaika umratan,” atau, “Allahumma Labaika umratan.”

Setelah itu melakukan amalan-amalan umrah dimulai dari thawāf, sai, kemudian bertahallul.

Setelah itu dia lepas dari larangan-larangan ihrām dan tinggal di Mekkah dalam keadaan biasa tanpa berihrām.

Kemudian tanggal 08 Dzulhijjah dia berihrām kembali dengan niat haji yaitu dengan mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan atau Labaika hajjan.” Setelah itu dia mengerjakan seluruh amalan-amalan haji (In syā Allāh akan kita bahas pada pertemuan yang akan datang).

Seperti:

√ Bertolak ke Mina.
√ 08 Dzulhijjah bermalam di Mina.
√ 09 Dzulhijjah wuqūf di ‘Arafāh.
√ 09 Dzulhijjah malam bermalam di Muzdalifah.
√ 10 Dzulhijjah (pagi) bertolak dari Muzdalifah ke Mina untuk melempar jumrah ‘Aqabah.
√ Setelah itu thawāf ifadhah.
√ Mengerjakan 3 (tiga) jamarat pada hari-hari tasyrik.
√ Mengerjakan thawaf wadā’.

Itulah yang disebut dengan haji Tamattu’.

⇒Ringkasnya haji Tamattu’ adalah umrah dulu baru setelah itu haji.

Bagi yang menunaikan ibadah haji dengan cara Tamattu’ diwajibkan baginya untuk menyembelih hadyu.

⇒Hadyu adalah hewan dari bahimatul an’am yaitu satu ekor kambing atau satu ekor sapi dalam tujuh orang atau satu ekor unta dalam tujuh orang.

Hadyu tersebut disembelih di tanah suci dan jika tidak mampu maka berpuasa 3 (tiga) hari di tanah suci dan 7 (tujuh) hari ketika kita pulang ke daerah masing-masing. 

⑵ Haji Qirān

Haji Qirān adalah berihrām pada bulan-bukan haji dari mulai Syawwāl, Dzulqadah, Dzulhijjah dengan berniat melakukan ibadah haji dan umrah secara bersamaan.

Yaitu ketika kita berihrām, di dalam ihrām kita, kita berniat melakukan haji dan umrah secara bersamaan dengan mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan wa ‘umratan,” atau’ “Labaika hajjan wa ‘umratan.”

Kemudian ketika sampai di Mekkah dia melakukan thawāf qudum (thawāf kedatangan), kemudian jika dia ingin melakukan sa’i diperbolehkan, jika tidak ingin melakukan sa’i juga diperbolehkan.

Setelah itu dia berdiam di Mekkah sampai tanggal 08 Dzulhijjah dalam keadaan berihrām artinya larangan-larangan ihrām tetap berlaku padanya sampai tanggal 08 Dzulhijjah.

Kemudian ketika sampai tanggal 08 Dzulhijjah melakukan amalan-amalan haji hingga selesai.

Haji Qirān diwajibkan juga menyembelih hadyu dan bila tidak mampu sama seperti haji Tamattu’ boleh diganti dengan berpuasa selama 3 (tiga) hari di tanah suci dan 7 (tujuh) hari ketika pulang ke daerahnya masing-masing.

⇒ Ringkasnya haji Qirān adalah berihrām dari miqāt pada bulan-bulan haji dengan niat menunaikan ibadah haji dan umrah secara bersamaan.

⑶ Haji Ifrad

Haji ifrad adalah berihrām di miqāt pada bulan-bukan haji dengan berniat haji saja, yaitu mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan,” atau, “Labaika hajjan.”

Jika sudah sampai di Mekkah setelah berihrām dia melakukan thawāf qudum, jika ingin mengerjakan sa’i dipersilahkan dia sa’i, kalau tidak juga dipersilahkan.

Dan menunggu sampai tanggal 08 Dzulhijjah dalam keadaan berihrām.

Larangan-larangan ihrām ketika dalam keadaan menunggu ini tetap berlaku. Kemudian dia melakukan seluruh amalan-amalan ibadah haji sampai selesai.

Bagi yang menunaikan ibadah haji ifrad tidak ada kewajiban menyembelih hewan hadyu (dam).

Dalīl yang menunjukkan tentang 3 (tiga) manasik ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā.

‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā meriwayatkan bahwasanya beliau bercerita:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

“”Kami pernah keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada tahun haji wadā’ (tahun ke-10 hijriyyah), maka di antara kita ada yang berihrām dengan ihrām umrah (haji Tamattu’), ada di antara kita yang berihrām dengan ihrām haji dan umrah (haji Qirān atau Ifrad).”

(HR Bukhari nomor 1460, versi Fathul Bari nomor 1562)

Hadīts yang lain yang menunjukkan akan hal itu adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ  ” مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ فَلْيُهِلَّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ “

Kami pernah keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian beliau bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin berniat haji dan umrah maka hendaklah dia kerjakan dan barangsiapa yang ingin berihrām dengan niatan haji saja maka hendaklah dia berihrām dengan niatan haji dan barangsiapa yang ingin berhaji dengan umrah saja maka hendaklah dia berihrām dengan niatan umrah.”

(HR Muslim nomor 2111, versi Syarh Muslim nomor 1211)

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 13, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #11: BAGIAN 11 DARI 30

 بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته 

Alhamdulillāh segala syukur hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Kemudian syarat berikutnya, adalah:

⑹ Adanya mahram bagi wanita.

Mahram bagi wanita adalah seorang lelaki yang bāligh dan tidak bisa menikahi wanita tersebut.

Mahram bagi wanita ada beberapa orang, yaitu:

1. Suami
2. Mahram yang disebabkan karena pertalian darah dan ini ada 7 (tujuh) orang.

Diantaranya:

√ Bapak,
√ Anak laki-laki,
√ Paman, saudara bapak,
√ Paman, saudara ibu,
√ Keponakan, dari saudara laki-laki,
√ Keponakan, dari saudari perempuan,
√ Saudara laki-laki dari wanita tersebut baik kakak ataupun adik.

Ingat!

Mahram selalu laki-laki dan bāligh.

3. Mahram yang disebabkan karena pernikahan.

Diantaranya:

√ Mertua laki-laki dari wanita tersebut,
√ Menantu laki-laki dari wanita tersebut,
√ Bapak tiri dari wanita tersebut,
√ Anak tiri laki-laki dari wanita tersebut.

Dalīl wanita ketika melaksanakan ibadah haji harus dengan mahram adalah hadīts riwayat Bukhāri, bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

لاَ لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ فَقَالَ اخْرُجْ مَعَهَا

“Janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang lelaki menemuinya, melainkan wanita tersebut disertai mahramnya.”

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, aku terdaftar di dalam peperangan ini dan peperangan ini, sesunguhnya istriku sekarang ingin menunaikan ibadah haji apa yang harus aku lakukan?”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Berhajilah bersama istrimu.”

(HR Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246)

Hadīts yang sangat jelas yang mewajibkan adanya mahram bagi wanita ketika menunaikan ibadah haji.

Pendapat yang lebih kuat bahwa seorang wanita salah satu syarat wajibnya haji adalah adanya mahram.

Tentunya ketika saya mengatakan pendapat yang paling kuat berarti terjadi perbedaan pendapat.

Ulamā dari madzhab Hambali dan Hanafi mengatakan bahwasanya:

“Wajib bagi wanita disertai mahram ketika menunaikan ibadah haji.”

Mereka berdalīl dengan hadits ini.

Adapun madzhab Syāfi’i mengatakan syarat adanya mahram bagi wanita: “Tidak wajib.”

Mereka berdalīl dengan sebuah hadīts Bukhāri yaitu ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menceritakan bahwa nanti di akhir zaman akan ada seorang wanita menaiki unta dari negeri Syām ke negeri Mekkah seorang diri dan dia tidak takut kepada seorangpun kecuali kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang bermadzhab yang berpendapat tidak wajib adanya mahram ketika menunaikan ibadah haji, “wanita ini pergi seorang diri tidak ditemani seorangpun”, menunjukkan bahwasanya jika aman maka boleh tanpa mahram.

Oleh karena itu, mereka mesyaratkan kalau wanita dalam keadaan aman ditengah-tengah wanita lain, misalnya mereka bersama-sama 10 orang maka mereka aman, jarang diganggu oleh laki-laki maka tidak wajib adanya mahram, menurut madzhab Syāfi’i.

Dan ini juga salah satu pendapatnya Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah rahimahullāh bahwasanya beliau memperbolehkan perginya wanita berhaji yang wajib.

Disana ada perbedaan antara haji wajib dengan haji sunnah.

Kalau haji wajib kata Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah boleh tanpa mahram.

Tapi, Wallāhu Ta’āla A’lam, pendapat yang lebih kuat kita berdalīl dengan hadīts Bukhāri diatas bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang seorang bepergian terutama pergi haji kecuali bersama mahram.

Itu yang bisa saya sampaikan, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla apa yang buruk itu dari saya pribadi.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 12, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #10: BAGIAN 10 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh segala syukur hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Kemudian syarat berikutnya, adalah:

⑷ Merdeka

Merdeka bukan budak. Budak tidak diwajibkan haji karena budak adalah harta dan salah satu syarat haji adalah mampu.

Seandainya seorang budak menunaikan ibadah haji dia dihukumi belum mampu karena dia sendiri adalah harta yang diperjualbelikan.

Merdeka adalah syarat wajib, bila seorang belum merdeka masih berstatus budak maka tidak wajib baginya untuk berhaji.

Dalam hadīts yang sama dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhuma Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ, ثُمَّ أُعْتِقَ, فَعَلَيْهِ [ أَنْ يَحُجَّ ] حَجَّةً أُخْرَى }

Budak mana saja yang menunaikan ibadah haji kemudian dia merdeka maka wajib baginya untuk menunaikan ibadah haji.”

(Shahih: Irwā ul Ghaliīl 986, Al Bahaqi V/156)

Kenapa wajib menunaikan ibadah haji? Karena saat budak dia belum wajib menunaikan ibadah haji.

⑸ Mampu

Maksud mampu adalah mampu dalam bekal harta dan kesehatan.

Kesehatan disini maksudnya adalah mampu untuk menunggangi kendaraan dan menunaikan ibadah haji.

Dalīl mengenai hal ini adalah surat Ali Imrān ayat 97: 

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengerjakan haji adalah kewajiban yang diwajibkan oleh Allāh terhadap manusia untuk pergi ke Baitullāh mengadakan perjalanan haji bagi siapa yang mampu.”

Penafsiran mampu di sini ada dua, yaitu:

① Harta.
② Sehat dalam berkendaraan.

Penafsiran yang lain, mampu maksudnya bekal harta biaya dan punya kendaraan, sebagaimana yang ditafsirkan oleh ‘Abdullāh bin ‘Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhuma.

Kalau sudah kita pahami syarat kelima ini adalah syarat wajib, artinya orang yang tidak mampu tidak diwajibkan atasnya haji, maka dari sini kalau ada orang yang dari sisi harta dia tidak mampu misalkan dia miskin tidak ada bekal untuk menunaikan ibadah haji maka tidak pantas baginya untuk berhutang.

Kalau ada yang bertanya  bolehkah berhutang untuk menunaikan ibadah haji?

Jawabannya:

Orang yang berhutang saja tidak diwajibkan atasnya menunaikan ibadah haji, (misalnya) saya punya hutang dan saya punya biaya untuk menunaikan ibadah haji maka yang harus saya lakukan terlebih dahulu adalah membayar hutang (tidak wajib bagi saya menunaikan ibadah haji).

Lalu bagaimana kalau seandainya ada orang berhutang untuk melaksanakan ibadah haji? Ini namanya memberatkan diri sendiri.

Coba perhatikan perkataan ulamā besar diabad ke-15 Hijriyyah ini (salah satu ulama dari kerajaan di Arab Saudi) yaitu Muhammad bin Shālih Utsaimin rahimahullāh, kata beliau:

” الذي أراه أنه لا يفعل ؛ لأن الإنسان لا يجب عليه الحج إذا كان عليه دَيْن ، فكيف إذا استدان ليحج ؟! فلا أرى أن يستدين للحج ؛ لأن الحج في هذه الحال ليس واجباً عليه

ولذا ينبغي له أن يقبل رخصة الله وسعة رحمته

ولا يكلف نفسه دَيْناً لا يدري هل يقضيه أو لا ؟ ربما يموت ولا يقضيه ويبقى في ذمته ”
 “مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين”

“Saya berpendapat bahwasanya orang tersebut tidak berhutang untuk berhaji, karena seorang manusia tidak wajib baginya menunaikan ibadah haji kalau seandainya dia memiliki hutang, bagaimana dia berhutang untuk haji? Maka saya tidak berpendapat seorang berhutang untuk menunaikan ibadah haji, karena haji dalam keadaan seperti ini tidak wajib atasnya.

Lebih baik dia mengambil keringanan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla yaitu kalau seandainya dia tidak mampu ya sudah jangan memaksakan diri dan mengambil luasnya rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Janganlah dia memberatkan dirinya dengan sebuah hutang dan dia tidak mengetahui apakah dia bisa membayar atau tidak hutang tersebut, mungkin saja dia meninggal dan belum membayar hutang dan akhirnya hutang tersebut ada di dalam tanggung jawabnya.”

(Majmū’ Fatāwā Syaikh Ibnu ‘Ūtsimin)

Misalnya:

Anda memiliki hutang 20 juta dan anda memiliki harta 50 juta dan sudah anda setorkan ke petugas yang mengurus haji.

Maka pada saat itu anda sebetulnya tidak wajib untuk menunaikan ibadah haji, tetapi anda harus membayar hutang dulu dari 50 juta tadi dibayarkan hutang sisanya 30 juta.

Kalau masih bisa untuk menunaikan ibadah haji silahkan anda berhaji, tapi seandainya tidak bisa maka tunggu sampai mampu.

Padahal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ

“Jiwa seorang berimān tertahan dengan hutangnya.”

Lain lagi jawaban dari seorang ulamā besar dari Al Aalama Syaikh Shālih bin Abdillāh Al Fauzan Hafizhahullāh, beliau termasuk majelis ulamā besar dikerajaan Arab Saudi beliau mengatakan:

الفقير ليس عليه حج إذا كان لا يستطيع نفقة الحج؛ لقوله تعالى: {وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً} [سورة آل عمران: آية 97]،

 ولا يجوز له أن يستدين من أجل أن يحج؛ لأن هذا تكلف لم يأمر الله به، ولأنه يشغل ذمته بالدين من غير داع إلى ذلك؛ فعليه أن ينتظر حتى يغنيه الله من فضله، ويستطيع الحج، ثم يحج.

“Orang miskin tidak wajib baginya haji jika dia tidak sanggup membiayai haji berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Ali ‘Imrān ayat 97.”

“Dan tidak boleh baginya untuk berhutang agar bisa berhaji. Karena perbuatan seperti ini terlalu membuat-buat sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla atasnya.

Karena dia menyibukan tanggung jawabnya pada dirinya dengan hutang yang mana sebenarnya dia tidak perlu untuk berhutang, maka coba dia tunggu sampai Allāh memberikan kekayaan kepadanya, kemudian kalau dia sanggup dia berhaji lalu dia kerjakan haji tersebut.”

⇒Lalu bagaimana kalau sampai orang tersebut meninggal dan tidak diberikan kekayaan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Selesai, tidak akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk sesuatu yang tidak diwajibkan atasnya.

Maka kita katakan tadi syarat mampu adalah syarat wajib artinya kalau belum mampu tidak wajib, jangan memaksakan kehendak (sampai berhutang-hutang apalagi dengan hutang riba).

Ada pertanyaan, bolehkah kita berhaji dengan harta harām?

Imām An Nawawi rahimahullāh dalam kitāb beliau Al Majmu’ mengatakan:

إذا إذا حج بمال حرام أو راكبا دابة مغصوبة أثم وصح حجه وأجزأه عندنا, وبه قال أبو حنيفة ومالك والعبدري, وبه قال أكثر الفقهاء.

“Bila seseorang mengerjakan haji dengan harta yang harām atau dia menaiki hewan tunggangan curian maka dia berdosa tetapi sah hajinya dan mencukupi. Ini adalah pendapat Imām Abū Hanifa, Imām Mālik dan Al ‘Abdari dan juga kebanyakan para ahli fiqih.”

Arti kata mencukupi di atas adalah gugur haji Islāmnya (artinya) dia dinyatakan sudah melaksanakan haji wajib.

Ustadz, bukankah dia berhaji dengan harta harām kenapa dinyatakan sah hajinya?

Jawabannya:

Kalau dia mengumpulkan rukun dan kewajiban haji maka sah hajinya tidak ada urusan dengan harta. Karena harta dengan haji tidak ada sangkut pautnya.

Wallāhu Ta’āla a’lam, ini  pendapat yang lebih kuat dan dinyatakan oleh Imām An Nawawi rahimahullāh.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 11, In syā Allāh
______

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #9: BAGIAN 09 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh segala syukur hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita duduk bersama untuk melanjutkan kembali kajian Islam Intensif kita tentang manasik haji.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita melanjutkan permasalahan selanjutnya yaitu:  Syarat-syarat haji.

Yang dimaksud dengan syarat-syarat haji adalah sesuatu yang harus ada di dalam atau ketika ingin melaksanakan amal ibadah haji.

Jika tidak ada maka tidak sah ibadah hajinya. 

Misalnya:

Syarat sahnya shalāt adalah berwudhū, jika tidak ada wudhū maka tidak sah shalātnya.

Tetapi bila orang berwudhū apakah harus shalāt terus?

Jawabannya: “Tidak.”

Begitu juga syarat haji adalah sesuatu yang harus ada dalam amal ibadah haji, tetapi jika ada syaratpun tidak harus melaksanakan ibadah haji terus menerus.

◆ Syarat ibadah haji

⑴ Islām

Islām adalah syarat sah, artinya orang kāfir tidak akan sah ibadah hajinya.

Kalau dia menunaikan ibadah haji dari mulai dari thawāf, sai, wuqūf di ‘Arafāh, mabit di Mudzalifah, Mina, thawāf ifadhah, thawāf wada, seluruhnya dia kerjakan sempurna tetapi dalam kekāfiran maka tidak sah ibadah hajinya.

Hal ini berdasarkan sebuah ayat di dalam Al Qurān yang menunjukkan bahwasanya amalan-amalan orang kāfir dan musyrik dijadikan seperti debu yang berterbangan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang berterbangan.”

(QS Al Furqān: 23)

Dan dalam hadīts riwayat Bukhari dan Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita:

بَعَثَنِي أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ فِي الْحَجَّةِ الَّتِي أَمَّرَهُ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ فِي رَهْطٍ يُؤَذِّنُونَ فِي النَّاسِ يَوْمَ النَّحْرِ لاَ يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلاَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

Aku pernah diutus oleh Abū Bakar ketika menunaikan ibadah haji yang dipimpin oleh Abū Bakar As shidiq atas perintah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebelum haji wada, untuk berseru dihadapan manusia:

“Tidak boleh setelah tahun ini (ke-9 Hijriyyah) seorang musyrikpun melakukan ibadah haji, dan tidak boleh orang ber thawāf dalam keadaan telanjang.”

(HR Muslim nomor 2401, versi Syarh Muslim nomor 1347)

Kebiasaan orang kāfir Quraisy, mereka mewajibkan siapa yang datang ke Mekkah untuk memakai pakaian yang mereka sediakan ketika ingin thawāf, jika pakaian itu habis maka mereka harus melepas pakaian mereka dan thawāf dalam keadaan telanjang.

Ini untuk menunjukkan kewibawaan orang kāfir Quraisy bahwasanya merekalah yang menguasai Ka’bah pada waktu itu.

⑵ Berakal

Berakal adalah syarat sah, artinya orang yang gila tidak sah menunaikan ibadah haji.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd nomor 3823 (versi baitul Afkar nomor 4401) bahwa menantu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu) meriwayatkan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena atas tiga orang yaitu orang gila yang hilang akalnya sampai sadar, orang yang tertidur sampai bangun dan anak kecil sampai bāligh.”

⇒Maksud diangkat pena adalah tidak dicatat sebagai amalan, baik dia melakukan amalan dosa atau amal baik.

Anak kecil ketika yang belum bāligh melaksanakan ibadah haji pahalanya untuk orang tuanya karena pahalanya tidak dicatat.

Anak kecil yang belum bāligh dan telah melaksanakan ibadah haji, kalau sudah bāligh dia masih wajib untuk melaksanakan ibadah haji lagi karena haji sebelumnya disebut haji sunnah.

 ⑶ Bāligh

Bāligh adalah sebuah keadaan pada diri seseorang yang dibatasi oleh syari’at Islām.

Ketika seseorang sampai kepada batas itu, maka diwajibkan atasnya menunaikan beban-beban syari’at di dalam agama Islām.

Bāligh bisa diketahui dengan beberapa hal, yaitu:

① Bermimpi dan keluar mani.

② Berumur sampai 15 tahun.

Jika seseorang sudah berumur 15 tahun berarti dia sudah bāligh. Sebagaimana dalīlnya bahwasanya para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum tidak diizinkan berperang atau ikut berperang ketika mereka berumur masih 14 tahun, tahun. depannya baru diizinkan untuk berperang yaitu dalam perang badar dan perang uhud.

Menunjukkan bahwa umur 15 tahun adalah batas terendah seseorang sampai pada derajat bāligh.

⑶ Tumbuh bulu-bulu disekitar kemaluan

Tumbuh bulu-bulu disekitar kemaluan maka ini menunjukkan kepada kebālighan seseorang. 

Bila sudah bāligh maka diwajibkan atasnya beban-beban syari’at yang dibebankan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla seperti: shalāt, puasa, zakāt, haji bagi yang mampu dan lain-lainnya.

Dan apabila dia melakukan dosa maka dicatat atasnya dosa tersebut.

Ini bedanya orang yang bāligh dengan orang yang tidak bāligh.

Kemudian khusus untuk wanita ada tambahan tanda bāligh yaitu dengan keluarnya darah hāidh pada wanita tersebut. Meskipun umur anak wanita tersebut belum sampai 15 tahun.

Dan kembali kepada syarat apabila seorang yang belum bāligh menunaikan ibadah haji maka hajinya sah tetapi dia wajib untuk menunaikan ibadah haji lagi.

Syarat ketiga ini (bāligh) adalah syarat wajib bukan syarat sah.

Jika ada anak umur 10 tahun, belum bāligh, menunaikan ibadah haji, hajinya sah asalkan dia menunaikan kewajiban dan rukun-rukun haji, akan tetapi tidak diwajibkan.

Artinya seandainya dia nanti bāligh maka dia wajib menunaikan ibadah haji lagi.

Hal ini sebagaimana dalam hadīts ‘Abdullāh bin ‘Abbāsra radhiyallāhu Ta’āla ‘anhuma Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ, ثُمَّ بَلَغَ اَلْحِنْثَ, فَعَلَيْهِ [ أَنْ يَحُجَّ ] حَجَّةً أُخْرَى, وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ, ثُمَّ أُعْتِقَ, فَعَلَيْهِ [ أَنْ يَحُجَّ ] حَجَّةً أُخْرَى } رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ, وَالْبَيْهَقِيُّ وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ, إِلَّا أَنَّهُ اِخْتُلِفَ فِي رَفْعِهِ, وَالْمَحْفُوظُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ

“Anak kecil mana saja yang melaksanakan ibadah haji kemudian dia bāligh maka pada saat itu wajib baginya menunaikan ibadah haji yang lain.”

(Shahih: Irwā ul Ghaliīl 986, al Bahaqi V/156)

Karena haji yng sebelumnya tidak dinamakan haji Islām atau haji wajib karena dia mengerjakan pada saat yang belum diwajibkan dia Menunaikan ibadah haji.

Dalīl yang menunjukkan syarat bālighnya seseorang adalah hadīts dari Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena atas tiga orang yaitu orang gila yang hilang akalnya sampai sadar, orang yang tertidur sampai bangun dan anak kecil sampai bāligh.”

(HR Imām Abū Dāwūd nomor 3823, versi baitul Afkar nomor 4401)

Para ulamā menyatakan dari hadīts ini setiap anak yang bisa mengeluarkan mani baik lewat mimpi atau lewat paksaan artinya kalau ada anak yang berusaha dia mengeluarkan maninya dengan usahanya maka dia telah bāligh meskipun dia tidak mimpi.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 10, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #8: BAGIAN 08 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh segala syukur hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita duduk bersama untuk melanjutkan kembali kajian Islam Intensif kita mengenai manasik haji.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian haji dan umrah diwajibkan dengan syarat-syarat haji dan umrah.

Siapa yang terkumpul syarat-syaratnya maka wajib haji dan bila tidak terkumpul maka tidak wajib haji, bahkan nanti ada orang yang tidak sah melaksanakan ibadah hajinya ketika kita membicarakan masalah syarat-syarat wajib menunaikan ibadah haji.

Sebelum itu saya ingin menegaskan kepada para Ikhwāh sekalian, bahwa kalau sudah kita ketahui hukum haji adalah wajib bagi yang mampu sekali seumur hidup, maka di sana ada pembicaraan diantara para ulamā.

Apakah kalau ada seorang muslim yang sudah mampu, apakah wajib segera dia menunaikan ibadah haji?

Atau boleh ditunda pada tahun-tahun yang akan datang?

Disebutkan oleh para ulamā dalam permasalahan:

 هل الحج يجب على الفور أم 
Apakah haji itu diwajibkan pengerjaannya segera atau tidak.

Misalnya:

Anda sudah mengumpulkan uang dan wajib menunaikan ibadah haji. Kalau dilihat dari sisi mampunya anda wajib menunaikan ibadah haji, tetapi anda ingin berangkat hajinya tahun depan saja (misalnya) karena pekerjaan kantor masih banyak.

Padahal anda izinpun bisa dan diizinkan.

Tetapi anda ingin berangkat haji tahun depan yang dengannya anda bisa menunaikan ibadah haji dengan tenang dan nyaman tidak terdesak dengan pekerjaan kantor.

Kalau kita katakan haji wajib bagi yang mampu disegerakan maka orang ini kalau menunda berarti berdosa atau tidak? 

Kalau seandainya kita katakan haji tidak wajib untuk disegerakan meskipun dia mampu, dan ini merupakan salah satu pendapat para ulamā (nantinya akan saya jelaskan), maka orang yang menunda ibadah haji meskipun dia mampu tetapi dia tunda entah itu tahun depan, dua tahun yang akan datang dan dia merasa belum siap untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini maka dia akhirkan.

Kalau kita berpendapat bahwa tidak wajib disegerakan maka berdosa atau tidak?

Jawabannya: “Tidak.”

Haji ini wajib bagi yang mampu dan segera dilaksanakan atau tidak?

Itu permasalahan kita.

Pendapat yang paling kuat, Wallāhu A’lam, dengan dalīl-dalīl yang ada bahwa haji wajib disegerakan bagi yang mampu, hal ini berdasarkan dalīl surat Ali ‘Imrān ayat 97.

 وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan manusia mempunyai kewajiban terhadap Allāh untuk menunaikan ibadah haji bagi siapa yang mampu dan barangsiapa yang kufur terhadap kewajiban haji maka Allāh tidak butuh terhadap semesta alam ini.”

Darimana sisi pendalīlan dari ayat ini bahwa haji wajib bagi yang mampu untuk disegerakan?

Ingat ini penting!

Kalau setiap orang mampu dari sisi biaya tetapi menunda untuk melaksanakan haji, bila haji dikatakan wajib disegerakan maka orang yang mengundur-undur atau menunda melaksanakan haji berdosa, dalīlnya surat Ali ‘Imrān 97.

Sisi pendalīlannya darimana?

Coba perhatikan perkataan seorang ahli tafsir diabad ke-14 hijriyyah Al Mufasir Al Alamah Syaikh Muhammad Al Amin As Shinqiti rahimahullāh dalam kitāb beliau tafsir Adhwa’ul Bayan, beliau mengatakan:

“Termasuk dalīl para ulamā yang berpendapat bahwasanya kewajiban haji harus disegerakan (jangan ditunda) adalah bahwa Allāh didalam surat Ali ‘Imrān 97 memerintahkan untuk menunaikan ibadah haji tersebut, dan sekelompok ulamā dari para ilmu ushul fiqih berpendapat bahwasanya baik secara syari’at atau bahasa atau akal seluruhnya menunjukkan bahwasanya konsekwensi sebuah perintah adalah dikerjakan dengan segera.”

Contohnya:

Saya memiliki anak bernama ‘Abdullāh, saya katakan:

“Abdullāh, tolong ambilkan buku di atas meja.”

Kira-kira kita ingin sekarang atau nanti?

Pastinya kita ingin sekarang.

Makanya seorang ahli fiqih yang lain diabad ini (15 Hijriyyah) Al Imām Ibnu Utsaimin rahimahullāh mengatakan:

” الصحيح أنه واجب على الفور ، وأنه لا يجوز للإنسان الذي استطاع أن يحج بيت الله الحرام أن يؤخره ، وهكذا جميع الواجبات الشرعية ، إذا لم تُقيد بزمن أو سبب ، فإنها واجبة على الفور ”
“فتاوى ابن عثيمين” (21/13) .

“Pendapat yang benar bahwasanya haji ini wajib dikerjakan dengan segera.Harām bagi orang yang mampu untuk berhaji ke Baitullāh dia mengakhirkannya. Demikianlah seluruh kewajiban-kewajiban yang syari’, kalau seandainya ada kewajiban dari Allāh tidak dibatasi dengan sebuah waktu, tempat maka ketahuilah kewajiban dari syari’at itu dikerjakan dengan segera.”

(Fatwa Ibnu ‘Ūtsaimin)

Jadi kalau kita dapat perintah dari Al Qurān atau hadīts Nabi, perintah apa saja bukan hanya haji yang tidak dibatasi dengan waktu dan tempat maka ketahuilah perintah itu dikerjakan dengan segera.

Contoh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang berimān bertaubatlah kepada Allāh dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

(QS At Tahrīm: 8)

Ini perintah taubat tidak dibatasi dengan waktu, kira-kira boleh diakhirkan tidak?

Tidak, dan harus dikerjakan dengan segera.

Berarti selama ini dari kaum muslim yang sudah mampu dari sisi biaya dan dia menunda nunda, berdosa tidak?

Jawabannya: “Berdosa.”

Ini yang ingin saya tuju, kalau tidak mampu lain urusan.

Bila kita sudah mengumpulkan uang dan ingin berhaji akan tetapi tiba-tiba ibu kita sakit, maka ibu harus di dahulukan karena berbakti kepada kedua orang tua wajib, ini lain hal.

Akan tetapi bila dia sudah mengumpulkan biaya (bekal) dan sudah cukup tetapi masih diundur-undur dengan berbagai macam alasan yang tidak sekuat alasan tadi maka ini berdosa.

Ini menunjukkan bahwasanya haji itu benar-benar memenuhi panggilan Allāh.

Kemudian bila kita lihat dari sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalīl nya dari hadīts riwayat Imām Ahmad nomor 2721 dan dihasankan oleh Syaikh Al Bāniy rahimahullāh dari. ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ta’āla ‘anhuma, Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 تَعَجَّلُوا إِلَى الحَجِّ – يعني: الفَرِيضَةَ – فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

“Bersegeralah kalian menunaikan ibadah haji (maksudnya) ibadah haji yang wajib karena salah satu di antara kalian tidak mengetahui apa yang akan menghadang dia nantinya.”

Mungkin tahun ini sebenarnya dia mampu tetapi mencari-cari alasan tahun depan, tahun depan ada alasan lagi sampai mati belum  mengerjakan ibadah haji.

Begitu juga sebuah hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd nomor 1732, dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhuma Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ

“Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji, maka bersegeralah.”

Dalam riwayat lain, riwayat Imām Ibnu Mājah (nomor 2874 versi Maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 2883).

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيضُ وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ ” .

“Siapa yang ingin menunaikan ibadah haji, maka bersegeralah. Karena bila tidak disegerakan seseorang bisa sakit, bisa tersesat (hilang/habis bekalnya) atau kadang seseorang dihadapkan pada sebuah keperluan.”

Ingat! Ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengajak kita untuk bersegera menunaikan ibadah haji, ketika kita mampu berarti siapa yang menunda-nunda akan mendapatkan kesengsaraan dunia akhirat.

Dan ini merupakan kaidah umum dalam beragama.

Perhatikan baik-baik!

Apa saja yang anda kerjakan dari perintah Allāh maka pasti di dalamnya ada kebaikan dunia dan akhirat.

Kebalikannya apa saja yang anda kerjakan dari larangan Allāh pasti di dalamnya terdapat keburukan di dunia dan di akhirat.

Contoh:

Orang yang menunda-nunda ibadah haji padahal dia mampu, sedangkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan dia untuk bersegera.

Lihat! Orang tersebut akan mendaparkan ancaman dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam sebuah hadīts riwayat Ibnu Hibban, Abū Said Al Qudri radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu menceritakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allāh berfirman:

“إنَّ عبدًا أصححت له جسمه، وأوسعت عليه في معيشته، فمضى عليه خمسة أعوام لا يَفِد إلي لمحروم”.

“Sesungguhnya seorang hamba yang aku telah sehatkan badannya, aku luaskan rizkinya, selama lima tahun, dia tidak memenuhi panggilan/undanganku, maka niscaya dia adalah orang yang sangat merugi.”

Jadi poin pertama, hukum haji dan dari poin tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa haji hukumnya wajib bagi yang mampu dan wajibnya disegerakan.

 Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 09, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #7: BAGIAN 07 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh segala syukur hanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita duduk bersama untuk melanjutkan kembali kajian Islam Intensif kita tentang manasik haji.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Hukum haji wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Hal ini berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam surat Ali ‘Imrān ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewajibkan kepada manusia untuk manunaikan ibadah haji ke baitullāh bagi siapa yang mampu mengadakan perjalanan ke baitullāh. Barangsiapa yang kafir/mengingkari, maka sesungguhnya Allāh Maha Kaya atas alam semesta ini.”

Para ikhwan yang rahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jika kita perhatikan ayat ini, maka ayat ini menunjukkan kepada kewajiban, dari sisi mana ?

Imam Ibnu Katsir rahimahullāhu ta’āla, di dalam tafsirnya, beliau menjelaskan ayat ini:

هذه آيَةُ وُجُوبِ الْحَجِّ عِنْدَ الْجُمْهُورِ

Ayat ini, adalah ayat tentang wajibnya menunaikan ibadah haji menurut pendapat jumhur para ulama.

Ayat lain:

وَأَتِمُّواْ الحج والعمرة لله

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS Al Baqarah: 196)

Mayoritas para ulama memakai dalil:

 وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا,

Untuk menunjukkan kepada sebuah kewajiban, bahwasanya haji wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu.

Jika kita lihat dari Al Qurān atau dari sunnah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا

“Wahai manusia, Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mewajibkan atas kalian ibadah haji, maka berhajilah kalian.”

(HR Muslim nomor 2380 versi Syarh Muslim nomor 1337)

Jadi haditsnya shahih, tidak perlu diragukan lagi, agar meyakinkan para ikhwah sekalian, bahwasanya hadits tersebut shahih.

Kemudian dalil dari ijma’ (kesepakatan atau konsensus para ulama dalam suatu zaman pada sebuah permasalahan, ijma ini juga berdasarkan qurān dan sunnah). Imam Ibnul Mundzir dalam kitabnya Al Ijma’, mengatakan:

وأجمعوا على أن على المرء في عمره حجة واحدة: حجة الإسلام إلا أن ينذرنذراً فيجب عليه الوفاء به

“Para ulama telah bersepakat bahwa seorang (muslim) diwajibkan atasnya untuk menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup, yaitu haji (sebagai rukun) Islam. Kecuali jika dia bernadzar, maka wajib baginya menunaikan haji (berdasarkan nadzarnya selain yang satu kali seumur hidup).”

Adapun hukum umrah, maka terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Wallahu A’lam, pendapat yang kuat adalah umrah disyariatkan sebagaimana haji dan diwajibkan sekali seumur hidup.

Hal ini berdasarkan perkataan ‘Abdullāh bin ‘Ūmar radhiyallāhu ‘anhumā, beliau mengatakan:

لَيْسَ أَحَدٌ إِلاَّ وَ عَلَيْهِ حَجَّةٌ وَ عُمْرَةٌ

“Tidak ada seorangpun kecuali atasnya kewajiban satu kali haji dan satu kali umrah.”

Begitu juga perkataan ‘Ābdullāh bin ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau mengatakan:

إِنَّهَا لَقَرِينَتُهَا فِى كِتَابِ اللَّهِ ( وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ )

“Sesungguhnya umrah benar-benar merupakan temannnya haji di dalam Al Quran yaitu firman Allah yang artinya: “Dan Sempurnakanlah haji dan umrah hanya untuk Allah.”

Maksudnya, sebagaimana haji diwajibkan sekali seumur hidup, maka umrah juga demikian.

Oleh karenanya ‘Abdullāh bin ‘Ābbas radhiyallāhu ‘anhumā membaca ayat:

 وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ.

Para ikhwah yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sering orang bertanya:

“Jika dia telah menunaikan ibadah haji yang wajib. Kemudian setelah itu, dia merasa ada yang kurang, bolehkah dia menunaikan ibadah haji lagi dan itu dianggap haji wajib?”

Maka jawabannya:

“Jika dia sudah mengumpulkan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban ketika pertama kali, itulah ibadah haji wajibnya.

Adapun kesalahan-kesalahan yang dia lakukan, maka itulah ibadah haji wajibnya disebut dengan haji Islam.”

Adapun haji-haji setelahnya disebut dengan haji sunnah dan semoga haji-haji sunnah tersebut bisa menambal haji wajibnya.

Oleh karenanya di sini harap diperhatikan oleh seluruh kaum muslim yang ingin menunaikan ibadah haji, pelajari manasik haji dengan baik dan benar secara teliti, sehingga dia nantinya ketika melaksanakan haji Islam (haji pertama), dia menunaikannya dengan maksimal. Sesuai dengan contoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berapa banyak orang yang menyesal ketika dia hanya berpatokan kepada harta (yang penting saya mampu dari sisi harta), tidak pernah ikut manasik ataupun pembelajaran tentang tatacara menunaikan ibadah haji.

Akhirnya di lapangan dia mengerjakan ibadah haji yang tidak sesuai dengan contoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Itu sebuah poin dalam permasalahan hukum haji dan umrah.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 08, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #6: BAGIAN 06 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

(4) Haji termasuk amalan yang paling mulia.

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ e : أَيُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : ((إِيْمَانٌ بِاللهِ)). قَالَ : ثُمَّ مَاذَا ؟ قَالَ : ((الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)). قَالَ : ثُمَّ مَاذَا ؟ قَالَ : ((حَجٌّ مَبْرُوْرٌ)).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:

“Amal perbuatan apa yang paling utama?”

Beliau menjawab:

“Beriman kepada Allah.”

Penanya berkata:

“Kemudian apa?”

Beliau menjawab:

“Berjihad di jalan Allah.”

Penanya berkata:

“Kemudian apa?”

Beliau menjawab:

“Haji yang mabrur.”

(HR Bukhari nomor 1422, bersi Fathul Baru nomor 1519, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

–> Salah satu jawaban Rāsulullāh shālallāhu ‘alayhi wassalam adalah, “Haji yang mambrur.”

(5) dan (6) Haji menghilangkan kefakiran dan dosa.

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Abdulllah bin Masud rādiallāhu’anhu meriwayatkan bahwa Rāsulullāh shālallāhu ‘alayhi wassalam bersabda:

تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ ، فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ ، كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ

“Ikutilah antara haji dan umrah, karena sesungguhnya kedua nya, haji dan umrah tersebut, menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa, sebagaimana ubupan menghilangkan karat-karat besi, emas dan perak. Tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga.”

–> Ikutilah antara haji dan umrah artinya selalu kerjakan haji dan umrah.

–> Ubupan (yaitu untuk memanaskan tungku api).

(7) Haji adalah jihad bagi muslimah.

Saya lanjutkan kepada keistimewaan yang lain yang ketujuh, haji adalah jihad bagi wanita muslimah.

Ini bagi ibu-ibu dan saudari-saudari muslimah yang ingin menunaikan ibadah haji.

Ketika anda melengkapi syarat-syarat untuk menunaikan ibadah haji, kemudian anda menunaikan ibadah haji, maka ingatlah bahwa haji adalah jihad bagi seorang perempuan.

Rāsulullāh shālallāh ‘alayhi wassalam pernah ditanya Aisyah :

 يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ لَا لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

“Wahai Rāsulullāh, kami melihat jihad itu adalah amalan yang paling utama, bolehkah kami para wanita berjihad?

Rāsulullāh shālallāhu ‘alayhi wassalam mengatakan, “Tidak, tetapi jihad yang utama (bagi para wanita) adalah haji yang mabrur.”

(HR Bukhari nomor 1423, versi Fathul Bari nomor 1520)

Bapak ibu saudara saudari yang dimuliakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta’ala.

(8) Langkah kaki orang berhaji mengangkat derajat dan menuliskan pahala.

Orang yang keluar dari rumah menuju Baitullāh dalam rangka ingin menunaikan ibadah haji maka tidaklah satu langkahnya kecuali akan mengangkat derajatnya dan tidaklah satu langkah yang lain kecuali akan menuliskan baginya pahala.

Coba berapa langkah kita ketika haji?

Dan alat transportasi yang paling istimewa ketika haji apa? Kaki.

Maka perhatikan nih kaki. Itu semua dirasakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji. Baik yang pakai kereta, baik yang pakai bus eksklusif, pakai kaki, ngelontar pake kaki. Jalan dari jumrah ke jumrah pakai kaki.

Coba perhatikan, keistimewaan yang sangat luar biasa ini.

Rāsulullāh shālallāh ‘alayhi wassalam sebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Atthābrāni dalam kitabnya Al Mu’jam Al Ausat, ‘Ubadah Ibnu Shāmat eādiallāhu ‘anhu berkata, Rāsulullāh shālallāhu ‘alayhi wassalam bersabda:

فإن لـك مـن الأجـر إذا أممـت البيـت العتيـق أن لا ترقـع قدمًـا أو تضعهـا أنـت ودابتـك ؛ إلا كتبـت لـك حسـنة، ورفعـت لـك درجـة

“Sesungguhnya bagi engkau dari pahala jika engkau menuju baitul ‘Atīq, tidaklah kamu mengangkat kakimu dan meletakkan kakimu dan juga tidaklah hewan kendaraanmu, kecuali langkahan kaki tersebut dituliskan bagimu satu pahala dan diangkatkan bagimu satu derajat.”

–> Baitul ‘atīq yaitu Al Ka’bah Al Musyarafah, dalan rangka menunaikan ibadah haji.

–> hewan kendaraanmu, maksudnya onta yang engkau tunggangi untuk menunaikan ibadah haji, dia mengangkat kakinya atau meletakkan kakinya.

Siapa yang tidak ingin ?

Oleh karenanya orang ketagihan ingin menunaikan ibadah haji.

(9) Tidak ada wukuf kecuali ketika haji.

Jadi keistimewaan orang yang menunaikan ibadah haji adalah wukuf di Arāfah.

Tidak ada ibadah yang berupa wukuf kecuali diamalkan oleh orang yang menunaikan ibadah haji wukuf di Arāfah.

Allāh Subhanahu wa Ta’ala akan membagakan seluruh orang yang berwukuf di Arāfah.

Coba perhatikan dalam sebuah hadits, Rāsulullāh shālallāh ‘alayhi wassalam bersabda dari,l Abdullah bin Umar rādiallāhu’anhu, hadits riwayat Ibnu Hibban:

وأما وقوفك عشية عرفة، فإن الله يهبط إلى سماء الدنيا، ثم يباهي بكم الملائكة، فيقول: هؤلاء عبادي جاءوني شعثاً سُفْعاً، يرجون رحمتي ومغفرتي؛ فلو كانت ذنوبكم كعدد الرمل، وكعدد القطر، وكزبد البحر، لغفرتها، أفيضوا عبادي مغفوراً لكم، ولمن شفعتم له

“Ketika engkau berwukuf pada siang hari Arāfah, maka Allāh akan turun ke langit dunia, lalu Allāh membagakan kalian (orang-orang yang wukuf di Arāfah), Allāh berfirman:

“Mereka adalah hamba-hamba-Ku, datang mendatangi-Ku dalam keadaan lusuh penuh dengan debu, mereka mengharap rāhmat-Ku dan ampunan-Ku.

Kemudian Allāh mengatakan kepada penghuni atau yang lagi wukuf di Arāfah:

“Kalaupun seadainya dosa kalian sebanyak pasir atau sebanyak rintikan hujan atau sebanyak buih di lautan, niscaya pasti aku akan ampuni. Silahkan wahai hamba-hamba-Ku, kalian pulang dari Arāfah ini, kembali kalian ke Mina, kembali kalian bermalamlah kalian di Muzdhalifah. Sungguh Aku telah ampuni bagi kalian dan orang-orang yang kalian do’akan ketika tadi di Arāfah.”

Dan ini ingat, perhatikan, kepada bapak-bapak, saudara-saudari sekalian yang menunaikan ibadah haji pada tahun ini.

Ketika anda wukuf di Arāfah, maka pastikan anda benar-benar di dalam Arafah.

Jangan-jangan nyari gunung yang paling tinggi, ternyata dia bukan Arafah, Habis itu sampai maghrib dia di sana, pulang ke Mina. Tidak sah hajinya.

Pastikan ini, bertanya untuk memastikan.

Tanya sama petugas, tanya sama panitia, tanya, lihat batas-batas.

Alhamdulillah, negara Arāb Saudi sangat memperhatikan untuk jama’ah haji mereka mempunyai syiar .. “Mengabdi kepada jama’ah haji itu adalah kemuliaan bagi kita, karena itu termasuk amal ibadah.”

Ketika wukuf, yang punya mobil tidak bisa pakai mobil. Yang punya pakaian paling mahal, tidak bisa pakai pakaiannya kecuali pakaian ihram. Datang dalam keadaan lusuh, dari setiap atau arah penjuru dunia, yang sangat dalam.

Mereka datang kenapa?

Karena mengharap rahmat dan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Makanya, ketika di Arāfah jangan main-main.

Saya berikan tips ketika di Arāfah.

Sebelum tanggal Arāfah jangan kemana-mana, tidak perlu mencari keluarga, tetangga dan lain sebaginya yang mengakibatkan pada hari Arāfah, tanggal 9, bisa lelah dan tidur.

Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk berdzikir dalam segala keadaan ketika wukuf di Arāfah, karena waktunya terbatas.

Jadi mulai setengah satu sampai maghrib, terbatas waktunya.

Nanti amalan-amalam ketika Arāfah akan saya sebutkan, mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 07, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #5: BAGIAN 05 DARI 30

 

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beberapa keutamaan ibadah haji:

(1) Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya, kecuali surga.”

(HR Bukhari nomor 1650, versi Fathul Bari nomor 1773 dan Muslim nomor 2403, versi Syarh Muslim nomor 1349)

Jika kita berbicara mengenai surga, luar biasa, yang ada hanya kata-kata māsyā Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjanjikan dalam hadits qudsi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ اللهُ : أَعْدَدَتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر، وَاقْرَأُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

“Aku telah menyiapkan bagi hamba-hambaku yang shalih (di surga) kenikmatan-kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata-mata, dan tidak pernah terdengar oleh telinga-telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.”

(HR Bukhari nomor 4407, versi Fathul Bari nomor 4780)

Bagi yang sedang tertipu dengan dunianya, yang seakan-akan dia masih hidup sekian tahun, ingatlah surga, tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, terbetik di dalam hati.

Ada orang yang merencanakan, saya sekian tahun lagi, saya nanti begini, saya nanti begini, anak-anak saya begini.

Ternyata besok mati. Yang ada setelah itu hanya pertanyaan, surga dan neraka.

Betikkan saja apa nikmat-nikmat yang ingin anda rasakan, tidak akan pernah sama dengan surga.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Haji yang mabrur, Imam Nawani rahimahullāh mengatakan dalam Syarh Muslim:

أن المبرور هو الذي لا يخالطه إثم

“Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosapun.”

–> Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosapun atau haji yang diterima Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang tidak ada riya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak fusuq.

(2) Haji sebagai penghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Keutamaan yang kedua adalah haji sebagai penghapus dosa-dosa yang telah lalu, sehingga ketika dia selesai menunaikan ibadah haji seakan dia baru keluar dari rahim ibunya.

Siapa yang tidak ingin seperti ini?

Kenapa?

Karena manusia sudah disifatkan oleh Allāh dengan beberapa sifat yang dengan sifat itu kita banyak melakukan dosa.

Suka berbuat zhalim, tidak bersyukur kepada nikmat Allāh. Dengan dua sifat ini saja kita akhirnya banyak melakukan dosa.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua bani Ādam adalah orang-orang yang selalu melakukan kesalahan/dosa dan sebaik-baik pelaku kesalahan adalah orang-orang yang selalu bartaubat.”

(HR Tirmidzi nomor 2423, versi Maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 2499 dan Ibnu Majah nomor 4241, versi Maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 4252)

Berarti, keistimewaan yang kedua dalam amal ibadah haji ini sangat kita butuhkan, yaitu dihapuskan dosa karena kita tidak lepas dari dosa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang datang ke Baitullāh (untuk berhaji) tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasiq. Dia akan pulang sebagaimana dia dikeluarkan dari rahim ibunya.”

–> Rafats adalah perbuatan zina dan seluruh yang berkaitan dengan zina, maksudnya setiap syahwat yang diharamkan antara lelaki dan perempuan.

Hati-hati, jaga lisan dari sekarang.

Jika mempunyai kebiasaan ngobrol dengan teman-teman yang menjurus dibawah pusar dan diantara dua paha, baik laki-laki atau perempuan.

Hal tersebut tidak boleh ketika haji, karena salah satu yang menghilangkan pahala haji adalah perkara ini.

Orang lain berdoa dan berdzikir, dia malah membicarakan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilihat, terkadang istri orang lain.

Alat-alat elektronik yang anda bawa ketika menunaikan ibadah haji, jangan sampai wukuf di Arafah buka facebook. Bukankah di dalam facebook banyak yang berbau rafats, seperti foto perempuan, foto orang tidak/kurang berpakaian yang tidak boleh kita lihat baik di luar haji, apalagi ketika berhaji.

Oleh karenanya jauhi.

Jaga lisan, jaga mata, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan sebuah syarat. Inginkah anda ketika pulang haji dalam keadaan seperti baru keluar dari rahim ibu tanpa dosa? Syaratnya berhaji tanpa berbuat rafats.

Kemudian syarat lainnya adalah tidak berbuat fasiq/dosa.

Sebagian para ulama menafsirkan, bahwa fasiq adalah perbuatan dosa yang diperlihatkan dan sebagian lagi menafsirkan fasiq adalah perbuatan kemungkaran seperti bertengkar, kemudian berkelahi. Maka jaga kesabaran ketika menuniakai ibadah haji.

Dia akan pulang sebagaimana dia dikeluarkan dari rahim ibunya, maksudnya tanpa dosa.

(3) Haji sebagai sarana seseorang dibebaskan dari neraka

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمْ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

Tidak ada satu hari pun yang di hari itu Allāh lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka daripada hari ‘Arafah, sebab pada hari itu Dia turun kemudian membangga-banggakan mereka di depan para malaikat seraya berfirman: “Apa yang mereka inginkan? “

(HR Muslim nomor 2402, versi Syarh Muslim nomor 1348)

Coba perhatikan, ketika menunaikan ibadah haji.

Saat pagi-pagi Bapak menuju Arafah, tanggal 9 Dzulhijjah, Bapak rasakan hadits ini, “Ya Allāh, ini hari yang paling banyak Engkau membebaskan hambamu dari api neraka, semoga saya termasuk di dalamnya.”

Karena ini amalan, tidak akan didapatkan kecuali oleh orang yang menunaikan ibadah haji, yang wukuf di Arafah. Berarti anda sekarang dipilih oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla menunaikan ibadah haji.

Karena tidak semua orang kaya bisa haji, tidak semua orang yang sehat bisa haji, banyak orang yang lebih kaya dari anda tetapi dia tidak/belum menunaikan ibadah haji atau belum merasa terpanggil/tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji.

“Belum dipanggil saya”, padahal sudah dipanggil, sudah diundang oleh Nabi Ibrāhim ‘alayhi wa sallam ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman kepada Nabi Ibrāhim.

وَأَذِّنْ فِي النَّـاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيـقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

(QS Al Hajj: 27)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa Nabi Ibrāhim ketika mendapatkan perintah ini dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, beliau ‘alayhi wa sallam mengatakan:

يا رب ، وكيف أبلغ الناس وصوتي لا ينفذهم؟

“Wahai Allāh, bagaimana aku bisa menyeru manusia? Suaraku terbatas, tidak sampai kepada seluruh alam semesta.”

Kemudian kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

ناد وعلينا البلاغ

“Sampaikan seruan dan Kami yang akan menyampaikannya.”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menjamin akan suara itu sampai. Akhirnya disebutkan dalam riwayat Imam Ibnu Katsir rahimahullāh, seluruh gunung menunduk, seluruh pohon menunduk, sampailah suara Nabi Ibrahim ‘alayhi wa sallam kepada seluruh manusia pada saat itu, bahkan sampai kepada calon-calon manusia di tulang-tulang sulbi manusia.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و اﻟسّلامــ عليكـمــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ 

Bersambung ke bagian 06, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq
 

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #4: BAGIAN 04 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

(2) Telah kafir orang yang tidak mengakui kewajiban haji.

Kedudukan yang kedua dari ibadah haji adalah haji adalah barang siapa yang meninggalkan haji dengan sengaja karena tidak mengakui kewajiban haji, maka sungguh ia telah kafir.

Jika ada seorang yang mengaku muslim beranggapan bahwa ibadah haji tidak wajib meskipun mampu, maka orang ini telah keluar dari agama Islam.

Kedudukan yang tinggi baginya, amal ibadah haji tidak sembarangan. Dalam surat Ali ‘Imrān ayat 97:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Melaksanakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allāh bagi siapa yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullāh. Barangsiapa yang kafir/mengingkari, maka sesungguhnya Allāh Maha Kaya atas alam semesta ini.”

Ini adalah menjadi dasar pokok syarat-syarat ibadah haji, yaitu harus mampu/sanggup. 

Sanggup yang bagaimana?

Bukan yang bermodal nekat.

Terutama saya peringatkan kepada kawan-kawan yang berusaha untuk membantu teman-temannya menunaikan ibadah haji bersama-sama, maka jagalah amanah orang. Jangan diterlantarkan, karena doa orang yang dizhalimi itu terkabul, terutama di tempat-tempat suci. Hati-hati.

Misal:

Jamaah haji dimasukkan ke dalam satu kamar yang sempit untuk 100 orang. Kemudian ada yang merokok. Belum lagi bersatunya laki-laki dan perempuan. Belum lagi sulit air, sulit makan. Padahal dijanjikan macam-macam.

Hati-hati terhadap doanya orang yang terzhalimi, karena terkabul.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Berhati-hatilah kamu terhadap do’anya orang yang dizhalimi karena antara do’anya dan Allāh tidak ada penghalangnya.”

Ayat ini (Ali ‘Imrān ayat 97), menunjukkan, bahwa, “Barangsiapa yang kafir/mengingkari,” maksudnya tidak percaya atau tidak mengakui kewajiban menunaikan ibadah haji, maka sesungguhnya Allāh Maha Kaya atas alam semesta ini.

Tidak butuh Allāh Subhānahu wa Ta’āla terhadap haji kita, tetapi kita yang membutuhkannya.

Ini kedudukan yang tinggi yang dimiliki oleh Haji.

(3) Kerugian bagi siapa yang mampu akan tetapi tidak melaksanakan haji dan umrah.

Kedudukan yang ketiga dari ibadah haji adalah:

Bagi siapa yang sebenarnya mampu, tetapi dia tidak menunaikan ibadah haji atau umrah, maka yang dia dapatkan hanya kerugian.

Artinya kedudukan haji yang tinggi adalah, saking tingginya di sisi Allāh, jika seandainya ada seorang muslim mampu menunaikan ibadah haji, diluaskan rizkinya, disehatkan badannya, tapi dia tidak menunaikan ibadah haji/umrah, maka yang dia dapat hanyalah kerugian.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban nomor 3703 dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

“إنَّ عبدًا أصححت له جسمه، وأوسعت عليه في معيشته، فمضى عليه خمسة أعوام لا يَفِد إلي لمحروم”.

“Sesungguhnya seorang hamba yang aku telah sehatkan badannya, aku luaskan rizkinya, selama lima tahun, dia tidak memenuhi panggilan/undanganku, maka niscaya dia adalah orang yang sangat merugi.”

Ini keutamaan ibadah haji.

Jika sudah kita pahami, maka kita akan semangat untuk menunaikan ibadah haji, karena kita tahu kedudukan ibadah haji itu sangat tinggi.

Sekarang kita akan membahas keistimewaan/keutamaan orang yang menunaikan ibadah haji.

Sebelumnya saya akan cerita, saya pernah menyebarkan sebuah tulisan tentang keutamaan orang yang menunaikan ibadah haji. Antara lain ada 11 keutamaan.

Ada seseorang yang membacanya, dia memberikan komentar, “Jadi, orang seperti saya tempatnya di neraka dong, karena saya orang miskin tidak mungkin menunaikan ibadah haji, tidak mungkin mendapatkan keistimewaan yang luar biasa dari 11 keistimewaan tersebut.”

Coba lihat, bagaimana dia benar-benar terenyuh hatinya dengan keistimewaan ibadah haji tersebut.

Ini tentu jawabannya sangat mudah, ketika anda tidak diberi keluasan rizki oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka tidak wajib bagi anda untuk menunaikan ibadah haji.

Ketika seseorang tidak sanggup, maka tidak wajib menunaikan ibadah haji, tidak akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan in syā Allāh akan dimasukan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ke dalam surga dengan amal ibadah lainnya. Bahkan mungkin lebih tinggi daripada orang-orang yang menunaikan ibadah haji.

Tetapi yang ingin saya petik dari cerita ini adalah, bagaimana orang tersebut semangat, merasa rugi, ketika terpampang di depannya 11 keutamaan ibadah haji.

Oleh karena itu, jika nanti di lapangan ketika pelaksanaan ibadah haji, mungkin tidak begitu lancar, ada yang sedikit dibohongin. Di Mina dijanjikan ada tenda ternyata tidak ada tenda, kemudian dijanjikan bimbingan ternyata dibiarkan saja.

Para ikhwan yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika kita menunaikan ibadah haji seperti itu, ingat ! Setiap amalan pasti ada rintangannya dan itu sudah dinyatakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadits Muslim:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Surga itu diliputi dengan sesuatu yang dibenci.”

(HR Muslim nomor 5049, versi Syarh Muslim nomor 2822)

Artinya, kita akan melewati yang kita dibenci.

Berwudhu harus sempurna meskipun dalam keadaan musim dingin.

Benci dan sulit bagi kita tetapi kita lewati, pasti dibelakangnya ada surga dan kebaikan, nikmat, anugrah, pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Begitu juga, nanti ketika mengerjakan ibadah haji, mungkin tidak lancar, saya berdoa semoga diberi kelancaran dan dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla serta akhirnya pulang mendapatkan haji mabrur (āmīn).

Jika tidak lancar, maka ingat ! Keistimewaan-keistimewaan ini. Maka akan bertambah semangat. Yang kita cari bukan itu kok, yang kita cari bukan penginapan, bukan tempat mandi, tapi yang kita cari adalah 1, 2, 3 dst…

Tetapi ini bukan alasan bagi penyelenggara ibadah haji untuk semena-mena terhadap kawan-kawannya dengan misalnya mengatakan:

“Anda kan nyari hari mabrur, masa nyari kamar di sini.”

Ini tidak benar juga. Karena kita butuh fit dalam amal ibadah, tidak ingin sakit dan sengsara ketika mengerjakan amal ibadah tersebut.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 05, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #3: BAGIAN 03 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang kedua, syarat amal ibadah adalah mutaba’ah atau sesuai dengan contoh dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Banyak sekali ibadah-ibadah, terkhusus haji, yang mana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan, bukan hanya menganjurkan, dan asal hukum perintah adalah sebuah kewajiban, wajib kita mengikuti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti beliau secara khusus dalam masalah haji.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّي لاَ أَدْرِي لَعَلِّي لاَ أَحُجُّ بَعْدَ عَامِي هَذَا

“Wahai manusia, ambillah manasik kalian (dariku), karena sesungguhnya aku tidak mengetahui siapa tahu aku tidak melakukan haji lagi setelah tahunku ini.”

(HR Muslim, Nasā’i nomor 3012, versi maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 3062)

–> Maksudnya, “Belajarlah tatacara berhaji dariku.”

Itulah haji Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pertama dan terakhir, oleh karenanya disebut haji wada.

Dalam riwayat lain, beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

خذوا عني مناسككم

“Ambillah dariku manasik-manasik kalian.”

(HR Ahmad, Baihaqi)

–> Artinya, “Pelajari dariku tatacara menunaikan ibadah haji kalian.”

Ini perintah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan ingat, ibadah apapun, misal:

– Thawaf, harus tahu Rasūlullāh thawaf bagaimana.
– Sa’i, sa’inya Rasūlullāh bagaimana, jangan asal-asalan.

Terutama zaman sekarang yang jauh dari zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Terkadang sebagian orang ketika menunaikan ibadah haji, latah. Orang lain ke sini dia ikut ke sini, orang lain ke sana dia ikut ke sana.

Tetapi orang yang berilmu, tahu cara manasik Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dia tidak akan pernah bingung dalam ibadah hajinya.

Ingat, ibadah apapun yang tidk sesuai dengan contoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, jangan pernah diremehkan.

Mengira yang penting ikhlas, yang penting hatinya, tidak bisa begini.

Seorang sahabat, Abu Burdah bin Niyār dalam riwayat Bukhari, pernah menyembelih kurban sebelum shalat ketika hari raya Iedul Adha, padahal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا وَنَسَكَ نُسْكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ نَسَكَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَتِلْكَ شَاةُ لَحْمٍ

فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ نَسَكْتُ قَبْلَ أَنْ أَخْرُجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ فَتَعَجَّلْتُ وَأَكَلْتُ وَأَطْعَمْتُ أَهْلِي وَجِيرَانِي

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ شَاةُ لَحْمٍ قَالَ فَإِنَّ عِنْدِي عَنَاقَ جَذَعَةٍ هِيَ خَيْرٌ مِنْ شَاتَيْ لَحْمٍ فَهَلْ تَجْزِي عَنِّي قَالَ نَعَمْ وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita dan melaksanakan manasik (penyembelihan kurban) seperti kita berarti telah mendapatkan pahala berkurban. Dan barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat maka itu hanyalah kambing yang dinikmati dagingnya.”

Maka Abu Burdah bin Niyar berdiri dan berkata:

“Wahai Rasūlullāh, aku telah menyembelih sebelum aku keluar untuk shalat, dan aku mengetahui bahwa hari ini adalah hari makan dan minum, aku lalu menyegerakan penyembelihannya, kemudian aku berikan kepada keluarga dan para tetanggaku.”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun bersabda:

“Itu hanyalah kambing yang dinikmati dagingnya.”

Abu Burdah bertanya lagi:

“Namun aku masih memiliki anak kambing yang lebih baik dari kambing yang telah aku sembelih itu. Apakah dibenarkan kalau aku menyembelihnya?”

Beliau menjawab:

“Ya. Akan tetapi tidak boleh untuk seorangpun setelah kamu.”

(HR Bukhari nomor 930, versi Fathul Bari nomor 983)

Niat Abu Burdah baik, bedanya hanya sebelum shalat dan setelah shalat. Tetapi tidak diterima sebagai kurban.

Oleh karenanya, perhatikan, setiap ibadah harus mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Misalkan dalam masalah iththiba’, (menyelendangkan kain ihram), kapan itu terjadi.

Kapan dilepas dan kapan dikembalikan lagi di atas pundak. Harus mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Jika tidak dikhawatirkan termasuk yang diancam dalam hadits riwayat Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.”

(HR Muslim nomor 3243, versi Syarh Muslim nomor 1718)

Mengapa?

Karena dia sudah sok tahu terhadap amalan, padahal sudah dicontohkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Baik, itulah poin yang kedua, sebelum kita melanjutkan membahas mengenai manasik haji dan umrah ini.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Setiap dari kita sangat menginginkan amal ibadah yang kualitasnya tinggi. Mendapatkan pahala yang begitu luar biasa dari Allāh dan merupakan hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla agar umat Islam semangat mengerjakan ketaatan kepada Allāh dalam bentuk apapun.

Agar umat Islam semangat memperbaiki kualitas ibadah, maka Allāh menyebutkan keistimewaan/keutamaan amal ibadah tersebut serta kedudukannya. Begitu pula haji.

Dan ini hikmah Allāh Subhānahu wa Ta’āla, ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan sebuah ibadah. Mungkin sebagian manusia malas, untuk apa berhaji, butuh biaya banyak, tenaga, cuti, terkadang cuti tidak mendapat ijin, maka harus meliburkan diri, yang penting haji.

Inipun menjadi introspeksi diri.

Mungkin sekarang sudah ada yang Sr3500, ada yang Sr4000, ada juga yang Sr5,500, belum lagi yang dari Indonesia ada yang Rp35 jutaan, itu baru ONHnya. Belum lagi belanjanya, uang sakunya.

Maka rugi jika kita tidak ikhlas. Rugi jika setelah haji hanya ingin dipanggil H. (Haji Fulan).

KEDUDUKAN HAJI

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyebutkan kedudukan haji dalam Islam, semoga dengan penyebutan ini, orang yang ingin menunaikan ibadah haji benar-benar tergugah, ingin menunaikan ibadah haji bukan hanya sekedar menunaikan, tetapi juga menunaikannya dengan maksimal, agar benar-benar mendapatkan keistimewaan kedudukan haji yang disebutkan ini.

Inilah faedahnya.

Kedudukan haji antara lain:

(1) Haji adalah rukun Islam yang kelima.

Kedudukan haji yang pertama, haji adalah rukun Islam yang cukuplah ini kedudukan yang paling penting. Jika tidak ada kedudukan haji yang lain, maka cukuplah ia sebagai rukun Islam.

Arti rukun secara bahasa adalah bagian yang paling kuat dari sesuatu.

Jika tidak ada bagian tersebut maka tidak ada sesuatu itu.

Jika kita katakan, haji adalah rukun Islam, berarti haji adalah bagian yang terkuat dari dalam Islam, jika tidak ada haji, maka tidak ada Islamnya.

Dalil yang menunjukkan kedudukan haji ini, bahwa haji adalah rukun Islam.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā.

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara; dua kalimat syahadat (persaksian tidak ada ilah selain Allāh dan sesungguhnya Muhammad utusan Allāh), mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.”

(HR Bukhari nomor 7, versi Fathul Bari nomor 8)

Inilah salah satu lafazh dari hadits ini. Ada lafazh yang lain yang membalik urutannya, “Dan berpuasa Ramadhan dan berhaji.”

Ini kedudukan yang pertama.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 04, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq