KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #22: BAGIAN 22 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #22: BAGIAN 22 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  ​​​

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membicarakan amalan-amalan haji.

Haji itu sebenarnya hanya 6 (enam) hari, yaitu tanggal 8 sampai tanggal 13 Dzulhijjah.

6 hari itu kita perjuangkan. Apakah kita termasuk hamba-hamba Allāh yang mendapatkan ampunan sebagaimana yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla firmankan di dalam hadīts qudsi.

يا عبادي أفيضوا مغفورا لكم

“Wahai hamba-hambaku, bertolaklah kalian dari ‘Arafāh menuju Minā dalam keadaan kalian sudah diampuni ataukah kita termasuk orang-orang yang hanya mendapatkan capai dan kehabisan tenaga serta kehabisan harta.”

Kita berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semoga seluruh jama’ah haji yang mengerjakan ibadah haji dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mudah-mudahan amal ibadah kita diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan mendapatkan haji yang mabrūr dan kembali kerumahnya masing-masing dalam keadaan seperti keluar dari rahīm ibunya.  (Āmīn)

⑴ Amalan haji yang pertama tanggal 8 Dzulhijjah.

Disebut juga dengan hari Tarwiyyah.

Kenapa hari Tarwiyyah?

Apa arti:

 رَوَى – يَرْوِيْ

Artinya:  haus.

Orang Arab biasanya pada tanggal 8 Dzulhijjah mengumpulkan air minum untuk persiapan besok (dulu tidak seperti sekarang), sehingga tanggal 8 Dzulhijjah disebut dengan hari Tarwiyyah.

• Bagi yang berhaji Tamattu’ maka berihrām kembali tetapi ditempat tinggalnya masing-masing.

√ Jika dia sudah tinggal di Minā maka dia berihrām.
√ Jika dia tinggalnya masih di Mekkah maka dia berihrām di tempat tinggalnya.

Dan tidak ada kewajiban untuk pergi ke masjidil Harām, hal ini berdasarkan sebuah hadīts riwayat Imām Muslim, bahwa Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita:

أَمَرَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا أَحْلَلْنَا أَنْ نُحْرِمَ إِذَا تَوَجَّهْنَا إِلَى مِنًى . قَالَ فَأَهْلَلْنَا مِنَ الأَبْطَحِ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah memerintahkan kami, ketika kami selesai bertahallul dan kami ingin bertolak ke Minā kami berihrām di mana di tempat tinggal kami, maka kamipun berihrām di Abthah (sebuah tempat dekat kota Mekkah).”

(HR Muslim nomor 1214)

Ini menunjukkan bahwa berihrām di tempat masing-masing.

• Bagi yang berhaji Qirān dan Ifrad, mereka sudah dalam keadaan ihrām pada tanggal 8 Dzulhijjah dan sebelumnya. Mereka tetap dalam keadaan berihrām karena setelah mereka melakukan thawāf qudūm.

Bila mereka ingin menunaikan sa-i haji, mereka tetap dalam keadaan ihrām dan tidak keluar dari ihrām.

• Hal-hal yang dilakukan sebelum berihrām

Seperti:

⑴ Membersihkan tubuh sebagaimana yang telah kita sebutkan ketika kita membicarakan ihrām (memotong kuku, menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak, dll) ini bagi yang berhaji Tamattu’ dan bagi yang tidak berkurban.

⑵ Bagi yang berkurban maka jangan melakukan itu, karena meskipun dia berhaji tetapi dia juga ingin berkurban tidak boleh dia mengambil sesuatu dari rambut dan tubuhnya sedikitpun.

Dari hadīts ummu Salamah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً 

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah satu dari kalian ingin berkurban maka tidak boleh dia mengambil rambutnya atau sesuatu apapun dari tubuhnya.”

(HR Muslim 1977)

⑶ Berihrām dengan mengucapkan siar masuk ke dalam haji.

Bagi yang berhaji Tamattu’ (“Labbaika hajjan”), adapun bagi yang melaksanakan haji Ifrad atau  Qirān tidak perlu lagi dia mengucapkan itu.

Mulai saat itu dia dianjurkan dengan sangat untuk membaca talbiyyah dan dia bertolak pergi ke Minā sebelum tergelincir matahari tepat di atas kepala kita (sebelum zhuhur).

Kita ambil kesimpulan, dianjurkan ihrāmnya sebelum zhuhur.

• Permasalahan.

Bolehkan ihrām setelah zhuhur?

Jawabannya:

Boleh, kemudian dia bertolak ke Minā (jika dia belum berada di Minā).

Adapun yang tendanya sudah di Minā, berihrām-nya di Minā dan dianjurkan memperbanyak talbiyyah.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts riwayat Muslim dari Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, dia bercerita:

فلمافَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلًا حَتَّى طَلَعَتْ الشَّمْسُ

“Ketika hari Tarwiyyah maka mereka menuju Minā, lalu mereka berihrām haji kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menaiki untanya dan sampai di Minā beliau shalāt zhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isyā, Subuh. Kemudian beliau berdiam sejenak sampai terbit matahari.”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

⇒Ini menunjukkan bahwa tanggal 8 Dzulhijjah dianjurkan shalāt zhuhur di Minā dan dianjurkan sebelum zhuhur bertolak menuju Minā.

• Permasalahan.

Jika anda mendapati tempat anda di Muzdalifah (tenda jenis ‌Ha dan Wau) maka tetap saja anda berada disitu tidak usah anda pergi ke Minā, ini sudah mencukupi.

Juga ‘Abdullāh ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bercerita:

“‘Abdullāh bin ‘Umar senantiasa shalāt lima waktu ketika di Minā dan memberitahukan kepada para shahābatnya bahwa Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakan seperti itu.”

Kalau sudah seperti itu, dianjurkan bagi jama’ah haji untuk bermalam di Minā pada malam hari ‘Arafāh tanggal 8 malam 9 Dzulhijjah. Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam selama ini memperbanyak talbiyyah.

Jadi mulai kita berihrām tanggal 8 Dzulhijjah (bila haji Tamattu’) atau haji Ifrad dan Qirān (yang tidak bertahallul), terus bertalbiyyah tidak terputus talbiyyahnya. Dan boleh juga bertakbir karena ini adalah waktu-waktu takbir.

Perhatikan!

Bagi yang tinggal di pemondokan-pemondokan (Aziziyyah misalnya) bahwanya bermalam pada malam hari ‘Arafāh hukumnya sunnah (tidak wajib).

Bagi siapa  yang ingin mengerjakan kesempurnaan maka itulah yang seharusnya dikerjakan.

والله تبارك وتعالى أعلم
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 23, In syā Allāh
________

Yuk…. Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah dan Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
________

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #21: BAGIAN 21 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #21: BAGIAN 21 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  ​​​

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sekarang kita membicarakan tentang sa-i.

Pengertian sa-i adalah perjalanan dari Shafā ke Marwah sebanyak 7 (tujuh) putaran, dimulai dari Shafā dan berakhir di Marwah.

⇒ Shafā adalah kaki gunung Abū Khubaizh atau kaki jabal Abū Khubaizh di mana Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām beliau  mengumandangkan:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (الحج: ٢٧)

⇒ Marwah adalah kaki gunung Khu’ay.

◆ Syarat sahnya sa-i, di antaranya:

⑴ Niat.
⑵ Dimulai dari Shafā dan diakhiri di Marwah.
⑶ Sa-i dilakukan setelah thawāf.

Permasalahan:

Bagi wanita yang sedang hāidh bagaimana?

Bukankah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

افْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

“Kerjakan apa yang dikerjakan oleh jama’ah haji kecuali thawāf di Ka’bah sampai engkau suci.”

(HR Bukhari 294, versi Fathul Bari nomor 305)

Seandainya orang yang sedang hāidh dan dalam keadaan berihrām kemudian mengerjakan sa-i dahulu (thawāfnya nanti bila sudah suci) bolehkah? 

Jawabannya:

Allāhu A’lam, pendapat yang lebih kuat, bahwasanya lebih baik kerjakan sesuai yang disunnahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu jangan kita memulai sa-i kecuali setelah thawāf.

⑷ Sa-i, 7 (tujuh) putaran dengan hitungan;

⇒ Dari Shafā menuju Marwah 1 putaran.
⇒ Dari Marwah ke Shafā 1 putaran (putaran yang kedua).

⑸ Ketika kita melakukan sa-i harus sempurna sampai ke Shafā dan Marwah.

⑹ Sa-i dilakukan di tempat sa-i tidak boleh ditempat lain.

◆ Sifat-sifat sa-i.

Setelah shalāt dua raka’at di maqām Ibrāhīm atau di belakang maqām Ibrāhīm setelah itu dianjurkan untuk kembali ke hajar aswad dan sebelumnya kita dianjurkan untuk minum air zam-zam.

Setelah minum air zam-zam kita kembali ke hajar aswad (melakukan salah satu dari empat yang sudah kita sebutkan), kalaupun tidak dilakukan tidak mengapa.

Kalau tidak dilakukan langsung menuju Shafā.

Ketika naik kebukit Shafā membaca:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ

Kemudian melakukan beberapa hal di Shafā:

√ Mengangkat tangan.
√ Menghadap Ka’bah
√ Bertakbir tiga kali.
√ Mengucapkan kalimat tauhīd:

 لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ

√ Berdo’a (proses ini diulangi untuk kedua kalinya). Kemudian untuk ketiga kalinya baru kita berjalan menuju Marwah.

Di tengah perjalanan nanti kita akan mendapati lampu hijau yang pertama.

⇒ Bagi laki-laki yang tidak membawa keluarga wanita, anak kecil atau orang tua maka disunnahkan untuk berlari sampai lampu hijau kedua, setelah itu berjalan seperti biasa sampai ke Marwah.

⇒ Bagi wanita, dia berjalan seperti biasa ditemani keluarganya yang laki-laki (mahrāmnya).

Itu disebut dengan satu putaran, perjalanan dari Shafā menuju Marwah.

Di Marwah apa yang kita lakukan?

Di Marwah kita melakukan persis seperti yang kita lakukan di Shafā, baru setelah itu kita berjalan dari Marwah menuju Shafā.

Di tengah perjalan nanti kita akan  temui lampu hijau (sama seperti yang kita lakukan tadi bagi laki-laki berlari dari lampu hijau pertama hingga kedua dan bagi wanita berjalan, lalu berjalan menuju ke Shafā)

Ini disebut dengan putaran yang kedua. Dan seterusnya seperti itu dihitung putaran ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6, ke-7 berhentinya di Marwah.

Selama melakukan sa-i perjalanan yang panjang silahkan baca apa saja, boleh kita mencontoh bacaan shahābat Nabi yang berbunyi:

رب اغفر وارحم وأنت الأعز الأكرم

Setelah selesai di Marwah kita melakukan tahallul, bagi yang melaksanakan umrah maka dia bertahallul.

Tahallulnya dengan cara mencukur rambutnya.

◆ Mencukur rambut ada dua cara:

⑴ Menggundul habis rambutnya.
⑵ Memendekkan seluruh rambutnya.

Bagi yang haji Tamattu’ maka dilihat waktunya, jika waktunya masih panjang sekitar satu minggu, dua minggu dan kira-kira rambutnya tumbuh dengan cepat maka silahkan dia menggundulnya (lebih utama) dan diperbolehkan dia hanya memendekan rambutnya saja.

Jika waktunya pendek, misalnya 2 hari lagi tanggal 08 Dzulhijjah (dimulai waktu haji) sedangkan dia baru datang tanggal 06 Dzulhijjah jika dia menggundul habis rambutnya maka saat tahallul haji dia tidak memiliki rambut, maka cukup dia dengan memendekkan rambutnya saja.

Kalau dia haji Ifrad atau Qirān maka setelah dia melakukan sa’i (kalau dia ingin dan ini adalah sa’i haji baginya) maka dia berdiam diri di Mekkah dalam keadaan ihrām sampai tanggal 08 Dzulhijjah dia melaksanakan aktifitas ibadah haji.

Tidak ada bagi yang mengerjakan haji Ifrad atau Qirān untuk bertahallul.

Untuk wanita seperti itu pula, kalau dia berumrah maka dia bertahallul dengan cara memotong rambutnya.

Wanita memotong rambutnya dengan cara mengumpulkan ujung-ujung rambut dan dipotong seujung ruas jari tangan, jika dia umrah atau haji Tamattu’.

Untuk haji Ifrad dan Qirān bagi wanita maka dia tetap dalam keadaan ihrām sampai tanggal 08 Dzulhijjah.

Alhamdulillāh mudah-mudahan berkah dan bermanfaat dan ikhlās kita karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 22, In syā Allāh
________
Yuk.. Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #20: BAGIAN 20 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #20: BAGIAN 20 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kalau sudah berihrām kita sekarang membicarakan tentang “thawāf”.

Thawāf adalah mengelilingi Ka’bah dimulai dari hajar aswad dan berakhir di hajar aswad sebanyak 7 (tujuh) putaran.

Dan yang harus kita ketahui sebelum kita berthawāf adalah syarat-syarat sahnya thawāf.

Syaratnya adalah:

⑴ Harus suci dari hadāts besar dan kecil.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Khuzaimah dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلاَ يَتَكَلَّمَنَّ إِلاَّ بِخَيْرٍ .

“Thawāf mengelilingi Ka’bah itu seperti shalāt, kecuali kalian boleh berbicara ketika thawāf, maka siapa yang berbicara ketika thawāf janganlah dia berbicara kecuali dalam pembicaraan yang baik.”

(HR Tirmidzi nomor 960)

⑵ Suci dari najis, baik badan maupun pakaian.

Dalīlnya sama seperti dalīl yang kita sebutkan di atas karena thawāf itu seperti shalāt. Pada shalāt kita diwajibkan suci dari najis.

Dalīl yang lain surat Al Hajj ayat 26, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan sucikanlah rumahku untuk orang-orang yang thawāf, orang-orang yang shalāt, ruku’ dan sujud.”

⑶ Menutup aurat.

Menutup aurat ketika thawāf karena Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mengutus para shahābatnya ketika musim haji. Sebelum haji beliau untuk mengumandangkan sebuah pengumuman di tengah-tengah kota Mekkah.

Yaitu:

لاَ يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ وَلاَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

“Tidak boleh seseorang setelah tahun ini untuk thawāf satu orang musyrikpun, tidak boleh atau untuk thawāf dibaitullāh seorang yang bertelanjang.”

(HR Muslim nomor 2401, versi Syarh Muslim nomor 1347)

⑷ Thawāf sebanyak 7 (tujuh) putaran secara sempurna.

Thawāf sebanyak 7 (tujuh) putaran secara sempurna ini mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman di dalam Al Qurān:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah nampak bagi kalian di dalam diri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suri tauladan yang baik.”

(QS Al Ahzāb: 21)

⑸ Thawāf dilakukan dengan tertib.

Tertib artinya menjadikan Ka’bah bagian kiri badan kita, kemudian setelah itu dia thawāf dari mulai hajar Aswad ke hajar Aswad.

⑹ Berurutan.

Berurutan artinya setelah mengerjakan putaran pertama dari hajar Aswad ke hajar Aswad dilanjutkan kembali keputaran kedua dan tidak terpotong dengan hal-hal yang tidak diperlukan ketika mengerjakan thawāf.

Disini ada permasalahan yang sering ditanyakan, kalau thawāf kita terpotong dengan shalāt wajib bagaimana nasib thawāf kita?

Jawabannya:

Ketika dikumandangkan adzān atau iqamah kita berhenti, kita wajib shalāt bersama Imām pada saat itu.

Kemudian setelah selesai shalāt kita lanjutkan dengan hitungan dari sebelumnya.

Misalkan ini hajar Aswad kemudian kita jalan, ditengah-tengah (misalnya dirukun Yamani) dikumandangkan iqamah shalāt zhuhur maka kita berhenti disitu dan pada waktu itu adalah sedang dalam putaran ke-5 mau masuk putaran ke-6.

Maka pada saat itu kita berhenti ikut shalāt berjama’ah (wajib) setelah salam maka kita lanjutkan, dan kita lanjutkan tetap pada putaran ke-5 (tidak mengulangi).

Kecuali kalau terpotongnya karena kita batal wudhūnya, maka saat itu kita harus ke luar berwudhū kembali kemudian kita lanjutkan atau kita mulai thawāf kita dari putaran pertama.

⑺ Niat.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ

◆ Tata cara thawāf

⑴ Memutus talbiyyah kita.

Dari mulai ihrām kita bertalbiyyah (dari mulai miqāt sampai datang ke Mekkah). Ketika kita ingin mengerjakan thawāf kita putus talbiyyah kita.

Kemudian setelah itu kita menuju hajar aswad.

Sebelum kita menuju hajar aswad kita melakukan idhthiba’

Idhthiba’ adalah menyelendangkan kain di bawah ketiak kanan kita dan perlu diketahui bahwasanya idhthiba’ hanya dilakukan ketika thawāf, baik thawāf umrah maupun thawāf qudum.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم طَافَ بِالْبَيْتِ مُضْطَبِعًا وَعَلَيْهِ بُرْدٌ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam thawāf dalam keadaan idhthiba’ dan beliau memakai burdun (selendang).”

(HR Tirmidzi nomor 859)

Di dalam hadīts yang lain, hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd dan Imām Ahmad:

“Ketika beliau datang ke kota Mekkah beliau thawāf dalam keadaan idhthibā’ (dengan memakai kain yang datang dari negeri Hadramaut).”

Setelah idhthibā’ kita menuju hajar aswad.

Ada beberapa proses ketika kita berhadapan dengan hajar aswad, silahkan pilih salah satu darinya.

√ Sunnah yang pertama yaitu mengusap dengan tangan dan menciumnya kemudian mengucapkan, “Allāhu Akbar,” (paling sempurna dalam berinteraksi dengan hajar aswad).

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Abdullāh bin Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā dari riwayat Bukhāri dan Muslim, beliau bercerita:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengusapnya dan menciumnya (sekaligus).”

(HR Bukhari nomor 1507, versi Fathul Bari nomor 1611)

Jadi dalīl ini adalah kesunnahan pertama bagaimana tatkala kita berinteraksi dengan hajar aswad.

√ Kalau tidak mampu seperti itu, maka kita usap dengan tangan kanan kita dan kita cium tangan tersebut.

Sebagaimana hadīts riwayat Bukhāri bahwa Nāfi’ rahimahullāh (seorang tabi’in) bercerita:

 رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِيَدِهِ ثُمَّ قَبَّلَ يَدَهُ وَقَالَ مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُهُ

Aku pernah melihat ‘Abdullāh bin Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, beliau mengusap dengan tangan kanannya hajar aswad dan beliau cium tangan tersebut kemudian beliau berkata:

“Aku tidak pernah meninggalkan hal ini (yaitu dengan mengusap kemudian aku cium tangan) semenjak aku melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengerjakannya.”

(HR Muslim nomor 2225, versi Syarh Muslim nomor 1268)

√ Kalau tidak bisa maka dengan sesuatu yang kita kenakan ke hajar aswad lalu sesuatu tersebut kita cium, seperti dengan tongkat kemudian tongkatnya kita cium.

Sebagaimana dikerjakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, Abū Thufail radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَيَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ مَعَهُ وَيُقَبِّلُ الْمِحْجَنَ .

“Aku pernah melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam thawāf di Ka’bah dan beliau mengusapkan tongkatnya ke hajar aswad dan beliau cium tongkat tersebut.”

(HR Muslim nomor 2237, versi Syarh Muskim nomor 1275)

√ Kalau tidak mampu maka boleh memberikan isyarat.

Dalīlnya adalah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bercerita:

طَافَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam thawāf di Ka’bah dengan mengendarai unta, setiap kali lewat hajar aswad beliau memberikan isyarat dengan tangan kanan dan cukup sekali saja.”

(HR Bukhari nomor 1613)

Setiap salah satu dari empat yang kita lakukan tadi kita dianjurkan mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

Yang sering dikerjakan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah ucapan,  “Allāhu Akbar.”

Dan ucapan, “Bismillāhi Allāhu Akbar,” itu dikerjakan oleh ‘Abdullāh bin ‘Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā sebagaimana yang disebutkan oleh hadīts riwayat Imām Baihaqi.

⑵ Setelah kita dihajar aswad kemudian kita mengelilingi Ka’bah dari mulai hajar aswad sampai ke rukun Yamani.

Orang yang thawāf tidak boleh masuk ke dalam Hijr (Hijr Ismāil) kenapa?

Karena Hijr Ismāil adalah bagian dari Ka’bah.

Sedangkan pengertian thawāf adalah mengelilingi luar Ka’bah bukan mengelilingi dalam Ka’bah. dan hijr Ismāil adalah termasuk dari Ka’bah.

Setelah kita dari hajar aswad dengan mengerjakan salah satu dari 4 (empat) yang sudah saya sebutkan, maka kita berjalan melewati hijr Ismāil sampai rukun yamani.

Di rukun yamani ada keistimewaan untuk mengusap rukun yamani tersebut, sebagaimana sebuah hadīts dari ‘Abdullāh ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā dari  riwayat Imām Ahmad dan yang lainnya, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسْحَ الرُّكْنِ الْيَمَانِي وَالرُّكْنِ الْأَسْوَدِ يَحُطُّ الْخَطَايَا حَطًّا

“Sesungguhnya mengusap hajar Aswad dan rukun Yamani menggugurkan dosa-dosa sekaligus.”

(HR Ahmad nomor 5364)

Hanya yang perlu diperhatikan di sini, haji dan umrah sah meskipun tidak mengusap hajar aswad dan rukun Yamani.

Tidak ada kaitan antara kesahan haji atau tidak sahnya haji dalam perkara mengusap rukun hajar aswad dan rukun Yamani.

Dan perlu diperhatikan, tidak ada yang perlu diusap atau dipegang dari Ka’bah kecuali hajar aswad dan rukun Yamani.

Dari mulai rukun Yamani sampai hajar aswad kita membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Hal ini berdasarkan sebuaj hadīts dari ‘Abdullāh ibnu Sa’id radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dāwūd beliau bercerita:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ
{ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ }

Saya mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengucapkan di antara dua rukun:

“RABBANĀ ĀTINĀ FID DUNYĀ HASANAH, WA FĪL ĀKHIRATI HASANAH, WA QINĀ ‘ADZĀBANNĀR (Wahai Tuhan Kami, berikanlah kepada Kami di dunia kebaikan dan di Akhirat kebaikan dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).”

(HR Abu Daud nomor 1616, versi Baitul Afkar Ad Daulah nomor 1892)

Jadi do’a tersebut dibacanya ketika berada dirukun Yamani sampai hajar aswad.

Ketika sampai hajar aswad lagi berarti kita sudah menyempurnakan satu putaran.

Ketika sampai hajar Aswad lagi berarti kita mengerjakan salah satu dari 4 (empat) tadi, salah satunya:

⇒ Mengusap dan mencium, atau mengusap dengan tangan dan tangannya dicium, atau mengusap dengan tongkat kemudian tongkatnya dicium atau memberikan isyarat.

Setiap kali kita melewati hajar aswad kita mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu akbar.”

Itulah putaran ketika thawāf.

Ketika thawāf kita akan melewati hajar aswad, berarti kita akan melewati aswad 7 kali atau 8 kali?

Jawabannya:

√ 8 kali, karena hitungan dari mulai pertama, sampai terakhir nanti dihitung juga. Karena di akhir thawāf kita juga akan melewati hajar aswad.

√ 8 Kali kita mengucapkan, “Allāhu Akbar,” atau, “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

√ 8 Kali kita berintekasi dengan hajar aswad, tetapi hanya 7 putaran.

Kemudian setelah kita menyelesaikan putaran yang ke-7, kita menuju maqām Ibrāhīm dengan membaca ayat dari surat Al Baqarah: 125:

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan ambilah dari maqām Ibrāhīm sebagai tempat shalāt.”

Ayat di atas dibaca dari mulai selesai thawāf sampai menuju maqām Ibrāhīm.

Kemudian shalātlah di sana, akan tetapi bila seandainya dipiringan Ka’bah penuh, maka janganlah memaksakan shalāt di sana (jangan mengganggu orang yang sedang thawāf), tapi shalāt lah dibelakangnya. Dibelakangnya terus dibelakang lagi atau dimana saja dimasjidil Harām.

Shalāt setelah thawāf (dua raka’at):

⑴ Raka’at pertama membaca surat Al Fāthihah kemudian surat Al Ikhlās.

⑵ Raka’at kedua membaca surat Al Fāthihah kemudian surat Al Kāfirun.

Kemudian perlu diingat!

Untuk thawāf umrah dan thawāf qudūm dianjurkan melakukan raml (berlari-lari dengan mendekatkan langkah kaki).

Ini ditunjukkan dari hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dari Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, beliau bercerita:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَلَ ثَلَاثَةَ أَطْوَافٍ مِنْ الْحَجَرِ إِلَى الْحَجَرِ

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau melakukan raml 3 (tiga) putaran thawāf pertama dari hajar aswad sampai ke hajar aswad lagi.”

(HR Ahmad nomor 14707)

–> Ini hanya di thawāf umrah dan thawaf qudūm.

Saat kita berhaji ada thawāf ifadhah, perlu tidak kita raml?

Jawabannya:

⇒Tidak.

Di dalam haji sebelum kita meninggalkan kota Mekkah ada namanya thawāf Wadā, perlukah kita melakukan raml?

Jawabannya:

⇒Tidak.

Raml dilakukan hanya ketika thawāf umrah bila kita melakukan haji Tamattu’ atau kita sedang berumrah atau saat kita thawāf Qudūm ketika kita haji Qirān atau haji Ifrad.

Wallāhu Ta’āla A’lam.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 21, In syā Allāh
________
Yuk.. Ikut Saham Akhirat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islām

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islām
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #19: BAGIAN 19 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #19: BAGIAN 19 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, larangan ihrām berikutnya adalah:

⑷ Memakai pakaian yang berjahit yang membentuk tubuh.

Pakaian yang berjahit maksudnya adalah pakaian yang membentuk tubuh. Seorang muslim dilarang  untuk memakai pakaian yang membentuk tubuh.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim ketika beliau ditanya, “Apa yang dipakai oleh orang yang sedang berihrām?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

لاَ تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْعَمَائِمَ، وَلاَ الْبَرَانِسَ

َ”Jangan kalian memakai gamis, celana, imamāh (surban) dan tidak pula baju burnus (baju yang memiliki tutup kepala).”

(HR Bukhari nomor 1838)

Semuanya membentuk tubuh.

Maka termasuk larangan dalam agama Islām bagi yang sedang berihrām untuk memakai pakaian yang berjahit yang membentuk tubuh.

⑸ Sengaja memakai minyak wangi dalam keadaan Ihrām baik di pakaian ihrāmnya atau di badannya ataupun di makanannya atau di minumannya.

Jauhi hal -hal yang wangi-wangi.

Di sana ada banyak pertanyaan, tentang beberapa hal yang berbau seperti sabun.

Bolehkah kita memakai sabun?

Jawabannya:

Sabun jika ada yang tidak wangi maka itu yang lebih utama dipakai, tetapi jika tidak ada dan kita membutuhkan untuk memakai sabun di tangan kita maka diperbolehkan tetapi diutamakan yang tidak wangi.

Adapun krim (misalkan) jika ada yang tidak wangi maka pakai yang tidak wangi. Begitu juga minyak angin dan balsam.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts riwayat Bukhāri yaitu ketika ada seorang bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang pakaian dia terkena minyak wangi ketika ihrām.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

اغْسِلِ الطِّيبَ الَّذِي بِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، وَانْزِعْ عَنْكَ الْجُبَّةَ، وَاصْنَعْ فِي عُمْرَتِكَ كَمَا تَصْنَعُ فِي حَجَّتِكَ

“Cuci minyak wangi yang terkena badanmu atau terkena pakaianmu tersebut sebanyak tiga kali kemudian lepaskan kain ihrāmmu itu jangan dipakai lagi, dan lakukanlah di dalam umrahmu sebagaimana yang kamu lakukan di dalam hajimu.”

(HR Bukhari nomor 1536)

⑹ Membunuh (berburu hewan darat).

Berburu hewan darat tidak diperbolehkan dalam keadaan ihrām dalam agama Islām.

Allāh-Subhānahu-wa-Ta’āla berfirman dalam surat Al Māidah ayat 95.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ

“Wahai orang-orang yang berimān janganlah kalian membunuh hewan-hewan buruan darat ketika kalian dalam keadaan berihrām.”

⑺ Mengadakan akad nikah atau melamar

Mengadakan akad nikah atau melamar, baik dia sebagai pelakunya atau dia sebagai yang menikahkan atau yang melamarkan, ini tidak diperbolehkan!

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini yaitu hadīts riwayat Muslim dari ‘Utsman bin Affan radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

“Seorang yang berihrām tidak boleh dia menikah dan tidak boleh dia menikahkan dan tidak boleh dia melamar.”

(HR Muslim nomor 1409)

Dan ini madzhab jumhūr ulamā.

⑻ Bersetubuh dalam keadaan berihrām

Hal ini berdasarkan sebuah ayat dalam surat Al Baqarah ayat 197.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Haji itu diwajibkan pada bulan-bulan yang sudah ditentukan, barangsiapa yang diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut, maka tidak boleh dia berbuat rafats.”

⇒Rafats para ulamā tafsir mengatakan jima’ bersetubuh yang disengaja sebelum dia bertahalul awal.

⑼ Bercumbu

Bercumbu baik dengan mencium, memeluk dan lainnya tidak diperbolehkan dan ini termasuk dalam kata-kata, “Falā rafatsa (janganlah dia berbuat rafats)._

Kalau kita perhatikan dalam perihal hal-hal yang dilarang ketika ihrām, kalau kita berbicara tentang sanksi, kalau dilanggar bagaimana?

Orang-orang yang berihrām tetapi dia melanggar larangan-larangan Ihrāmnya, bagaimana?

Jawabannya:

Ada pembagian,yaitu:

① Bila orang yang sedang berihrām melakukan hal-hal yang dilarang dalam berihrām tanpa ada udzur dan keperluan maka dia berdosa dan wajib membayar sanksi atau fidyah.

② Bila dia melakukan hal-hal yang dilarang ketika dia berihrām tetapi dia ada keperluan disana, seperti (misalkan) orang yang perlu memakai pakaian yang berjahit atau dia memakai gips karena kakinya sakit sehingga menutup kedua mata kakinya dan seperti memakai kain yang berjahit atau membentuk tubuhnya. Ini ada keperluan disana.

Maka kita katakan dia telah melanggar larangan ihrām tapi tidak berdosa dan tetap wajib membayar sanksi.

③ Kalau orang melanggar larangan ihrām karena tidak tahu, karena lupa atau karena tidak sengaja. Seperti tidak sengaja karena sedang tidur dia menutup kepalanya (menutup kepala adalah larangan ihrām) maka kita katakan tidak ada apa-apa atas orang ini (tidak ada sanksi).

Karena Allāh-Subhānahu-wa-Ta’āla berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا

“Wahai Rabb kami janganlah dianggap berdosa jika kami lupa atau kami tidak tahu.”

Atau orang yang dipaksa atau diancam harus mengerjakan larangan ihrām, maka ini tidak mengapa artinya dia tidak harus membayar fidyah.

Kalau kita perhatikan lagi larangan-larangan ihrām ini ada yang membayar fidyah dan ada yang tidak membayar fidyah.

◆ Contoh larangan ihrām yang tidak ada fidyahnya, seperti:

√ Mengadakan akad nikah atau menikahkan orang atau melamar atau dilamar.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya, seperti:

√ Bersetubuh sebelum tahallul awal fidyahnya adalah menyembelih satu ekor unta atau sapi kemudian dibagikan kepada faqīr miskin di kota Mekkah dan tidak mengambil sedikitpun darinya dan dia harus melanjutkan hajinya. Hajinya batal, tahun depan harus melaksanakan haji kembali.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya dengan mengganti semisal dengannya.

√ Yaitu jika seseorang sedang berihrām dan dia membunuh hewan buruan darat, maka dia harus mengganti semisal dengannya.

Misalnya:

Dia membunuh kijang maka dia harus menyembelih kijang.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya dengan cara mengerjakan yang disebut dengan sanksi (hukuman).

Hukuman ini ada 3 (tiga) hal, yaitu:

⑴ Dia berpuasa selama tiga hari.
⑵ Memberi makan kepada enam orang faqīr miskin.
⑶ Menyembelih kambing.

Silahkan pilih salah satu dari ini.

Itu sisa-sisa dari larangan-larangan ihrām seperti (misalkan) memakai pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki kemudian memakai cadar dan kaos tangan bagi wanita, memakai minyak wangi, mengambil rambut, memotong kuku. Ini semua kena sanksi, sanksi ada namanya.

Ini kalau kita berbicata tentang larangan-larangan ihrām dari sisi fidyahnya.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 20, In syā Allāh
_______
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #18: BAGIAN 18 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #18: BAGIAN 18 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada permasalahan, yaitu ketika seseorang membawa anak kecil. Tentunya anak kecil ini tidak diwajibkan, tetapi sah hajinya.

Karena syarat bāligh kita katakan adalah syarat wajib.

Tidak wajib bagi orang yang belum bāligh untuk menunaikan ibadah haji, tetapi bila dia menunaikan ibadah haji, maka hajinya sah, tetapi belum jatuh padanya haji yang wajib.

Artinya, apabila dia sudah bāligh diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji lagi.

Apabila saya membawa anak saya yang belum bāligh bagaimana dia berihrām ?

Lihat keadaan anak itu, apabila dia mumayis yaitu bisa membeda mana yang benar mana yang salah maka kita bimbing dia untuk berihrām.

Dan kita juga dianjurkan untuk memerintahkan kepada dia mengerjakan hal-hal yang dianjurkan sebelum berihrām, seperti; mandi, membersihkan tubuhnya kemudian melakukan hal-hal yang dilakukan sebelum berihrām.

Baru setelah itu kita bimbing dia untuk melakukan ish’ar (mengucapkan syiar bahwasanya dia sudah masuk kedalam manasik haji dan ‘umrah) dengan mengucapkan, “Labbaika hajjan wa umratan,” atau “Labbaika hajjan,” atau, “Labbaika umratan.”

Adapun bila anak itu masih bayi, tidak bisa berbicara (misalkan), maka pada saat itu orang tuanya yang mengucapkan atasnya.

Inilah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan ihrām.

Pada saat seperti inilah si fulān sudah dinamakan muhrīm (sedang berihrām). k

Kalau sudah muhrīm maka yang dianjurkan mengucapkan talbiyyah.

Untuk laki-laki, diucapkan dengan suara yang keras dan terus menerus.

Apa dalīl yang menunjukkan bahwasanya diucapkan dengan suara yang keras?

Dalīlnya adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah dari Zaid bin Khālid radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 جَاءَنِي جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شِعَارِ الْحَجِّ

Telah datang kepadaku Jibrīl ‘alayhissalām, kemudian Jibrīl ‘alayhissalām berkata:

“Wahai Muhammad, perintahkan para shahābatmu untuk mengangkat suaranya dalam bertalbiyyah, sesungguhnya dia adalah syi’ar haji.”

(HR Ibnu Majah nomor 2923)

Adapun untuk wanita maka para ulamā bersepakat sebagaimana disebutkan oleh seorang ‘alim besar dari madzhab māliki, Ibnu Abdilbar, dalam kitābnya At Tarhib bersepakat bahwasanya seorang wanita termasuk sunnahnya tidak mengangkat suaranya dan tidak memperdengarkan kepada orang lain kecuali dirinya sendiri.

Coba perhatikan perkataan beliau:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ فِي الْمَرْأَةِ أَنْ لَا تَرْفَعَ صَوْتَهَا، وَإِنَّمَا عَلَيْهَا أَنْ تُسْمِعَ نَفْسَهَا

“Dan para ulamā bersepakat bahwasanya termasuk sunnah seorang wanita tidak mengangkat suaranya dalam talbiyyah dan tidak memperdengarkan kecuali kepada dirinya.”

Talbiyyah memiliki keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa, di antaranya:

⑴ Orang yang bertalbiyyah maka dia akan diberikan kabar gembira dengan surga (dan ini tidak didapatkan kecuali oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji).

Perhatikan hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Tabhrani dalam kitābnya Al Mu’jamul Ausath, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا أَهَلَّ مُهِلٌّ قَطُّ إِلا بُشِّرَ، وَلا كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطُّ إِلا بُشِّرَ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِالْجَنَّةِ ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Tidaklah orang yang bertalbiyyah dan bertakbir kecuali diberikan kabar gembira.”

Para shahābat bertanya:

“Wahai Rasūlullāh, apakah diberikan kabar gembira dengan surga?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Iya.”

⑵ Amalan yang paling utama dan haji yang paling utama adalah dengan mengangkat suara dalam bertalbiyyah.

Dalam sebuah hadīts riwayat Imām At Tirmidzi dari Abū Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya:

أَىُّ الْحَجِّ أَفْضَلُ قَالَ ” الْعَجُّ وَالثَّجُّ “

“Amalan haji apa yang paling utama ?”

RasūlullāhShallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Al ’ajju watstsajju.”

(HR Tirmidzi nomor 2998)

Al ‘ajju artinya mengangkat suara dalam bertalbiyyah ketika berihrām dan ats tsajju adalah menyembelih hewan hadyu ketika mengerjakan haji Tamattu’ atau haji Qirān.

Jika seseorang sudah berihrām maka disana ada larangan-larangan ihrām.

Maksud larangan ini adalah jika seorang dalam  keadaan berihrām maka dia dilarang untuk mengerjakan hal-hal berikut:

⑴. Mencukur rambutnya atau menggundul rambutnya dan seluruh rambut yang lain baik bulu ketiak ataupun bulu kemaluan, kumis apalagi janggut (dilarang).

Hal diberdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Baqarah ayat 196:
 
 وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ

“Janganlah kalian mencukur rambut kepala kalian sampai hewan hadyu ketempatnya (tanggal 10 Dzulhijjah).”

Dalīl lain yang menunjukkan tentang hal ini adalah surat Al Hajj ayat 29:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُم

“Kemudian kerjakanlah tafatsahum.”

Tafatsahum, para ulamā tafsir mengatakan adalah melempar jamarah kemudian mencukur rambut kemudian meletakkan ihrām.

Ini dilakukan bila sudah tanggal 10 Dzulhijjah.

Menunjukkan ketika berihrām tidak diperbolehkan mengerjakan hal itu.

⑵ Memotong kuku (baik kuku tangan maupun kuku kaki)

Dengan dalīl yaitu mengqiyaskan dengan rambut dengan dalīl surat Al Hajj ayat 29 di atas.

⑶ Menutup kepala bagi laki-laki.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika ditanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ مِنَ الثِّيَابِ فِي الإِحْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم  ” لاَ تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْعَمَائِمَ، وَلاَ الْبَرَانِسَ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلاَنِ، فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ، وَلاَ تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ، وَلاَ الْوَرْسُ، وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ “.

“Yā Rasūlullāh, apa yang engkau perintahkan bagi kami untuk memakai pakaian di dalam keadaan berihrām?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Janganlah kalian mengenakan baju, celana, ‘amāim, burnus, kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, hendaklah dia mengenakan sapatu tapi dipotongnya hingga berada di bawah mata kaki, dan jangan pula kalian memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan.”

(HR Bukhari nomor 1838)

‘Amāim adalah penutup kepala/surban, peci atau semisalnya dan burnus adalah pakaian gamis tetapi ada penutup kepalanya seperti pakaian orang-orang Maroko.

Tetapi bukan berarti untuk menutup kepala yang tidak melekat dan menempel dengan kepala dilarang. Tidak!

Diperbolehkan untuk menutup kepala atau menutupi tubuh kita dari panasnya terik matahari. Hal ini berdasarkan sebuah hadīts Ummul Husain radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

حَجَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَجَّةَ الْوَدَاعِ فَرَأَيْتُ أُسَامَةَ وَبِلاَلاً وَأَحَدُهُمَا آخِذٌ بِخِطَامِ نَاقَةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَالآخَرُ رَافِعٌ ثَوْبَهُ يَسْتُرُهُ مِنَ الْحَرِّ حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ

“Aku pernah berhaji bersama Rasūlullāh dhallallāhu ‘alayhi wa sallam pada haji wadā, aku melihat Usamah dan Bilāl radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, salah satu dari mereka memegang tali pelana untanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang lain mengangkat kain untuk menutupi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari panasnya terik matahari sampai beliau melempar jumrah ‘Aqabah.”

(HR Muslim nomor 1298)

Artinya dari mulai Mudzalifah sampai ke Minā.

Menunjukkan bahwasanya yang menutupi kepala tetapi tidak melekat dan tidak menutup, seperti payung, kain yang kita tutupkan, atap bis, ini tidak mengapa.

Ada pertanyaan, di haji ada banyak debu, bolehkan kita memakai masker untuk menutupi wajah kita?

Jawabannya:

Tidak diperbolehkan, ini pendapat yang lebih hati-hati dan lebih kuat karena Rasūlullāh dhallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada seorang shahābat yang ditendang sampai mati oleh untanya beliau mengatakan:

لاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ وَلاَ وَجْهَهُ

“Janganlah kalian menutup kepalanya dan wajahnya.”

(Hadīts riwayat Imām Muslim nomor 1206)

Kenapa?

Karena orang yang meninggal dalam keadaan ihrām dia dikuburkan dengan memakai kain ihrāmnya, tidak dikafankan seperti biasa tetapi memakai kain ihrāmnya dan nanti dia akan bangun dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan bertalbiyyah.

Subhānallāh, mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya.

Adapun wanita mereka tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kedua kaos tangan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim.

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

“Seorang wanita yang dalam keadaan berihrām tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kedua kaos tangan.”

(HR muslim nomor 1838)

Kecuali jika mereka berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrāmnya maka para wanita tersebut menjulurkan kain dari atas kepalanya menutup wajahnya dan jika sudah tidak berhadapan lagi maka boleh dibuka kembali.

Sebagaimana yang dilakukan ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā dalam cerita beliau yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dawūd, ‘Āisyah bercerita:

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا إِلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Orang-orang yang menunggangi kendaraan mereka melewati kami, kami waktu itu bersama Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan ihrām, jika orang-orang yang mengendarai kendaraan tersebut melewati kami, maka salah satu dari kami menutup dengan jilbab (kain) di atas wajahnya, kalau seandainya mereka sudah lewat jauh maka kami buka kembali.”

Ini yang dilakukan oleh wanita ketika dalam keadaan berihrām.

Wallāhu A’lam.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 19, In syā Allāh

 ________
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #17: BAGIAN 17 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #17: BAGIAN 17 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan ihrām.

Kemudian setelah itu dianjurkan bagi orang yang ingin berihrām (kalau bisa dalam keadaan setelah shalāt fardhu).

Kenapa?

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām setelah shalāt fardhu.

Dari sini para ulamā berbeda pendapat, apakah untuk ihrām ada shalāt tertentu dan khusus. Artinya bila seseorang sudah berihrām atau ingin berihrām kemudian dia shalāt dua raka’at ?

Maka jawabannya yang benar adalah berihrām setelah selesai shalāt fardhu (ini yang disunnahkan) adapun shalāt khusus untuk ihrām maka tidak ada syari’atnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Tetapi jika kita berihrām dari Dzulhulaifah maka kita dianjurkan untuk shalāt, bukan karena ihrāmnya tetapi karena tempatnya.

Berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dari ‘Umar bin Khathab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhū beliau bercerita, bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

” أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي فَقَالَ صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “

Tadi malam aku didatangi oleh seorang malāikat utusan dari Rabb-Ku (Jibrīl ‘alayhissalām) kemudian Jibrīl berkata:

“Shalātlah ditempat yang penuh dengan berkah ini (pada waktu itu adalah Dzulhulaifah) dan ucapkanlah aku menunaikan ‘umrah dalam haji.”

(HR Bukhari nomor 1534)

Ini menunjukkan bahwanya khusus untuk Dzulhulaifah dishalāti dua raka’at, bukan karena ihrāmnya tetapi karena tempatnya.

Kemudian setelah itu, naik ke atas kendaraan, kalau seandainya orang itu melewati jalan darat baik itu bis, mobil, unta atau ketika dia di atas pesawat, baru setelah itu dia menghadap kiblat kemudian dia berihrām.

Untuk permasalahan berihrām di atas kendaraan dan menghadap kiblat ini disebutkan dalam hadīts-hadīts banyak sekali bahkan Syaikul Islām ibnu Taimiyyah rahimahullāh ta’āla mengatakan :

فهذه نصوص صحيحة أنه إنما أهل حين استوت به راحلته واستوى عليها

“Hadīts-hadīts yang shahīh ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām ketika kendaraannya sudah dipersiapkan (unta beliau sudah naik) dan beliau berada di atas unta baru beliau berihrām, beliau berada disitu (diatas unta tersebut).”

Semestinya kita mencontoh, jika kita sekarang menggunakan mobil (bis) ketika kita naik bis lalu menghadap kiblat maka saat itulah kita berihrām.

Dalīl-dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah hadīts Bukhāri dan Muslim, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā beliau bercerita:

  مَا أَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ مِنْ عِنْدِ الشَّجَرَةِ حِينَ قَامَ بِهِ بَعِيرُهُ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berihrām kecuali dari sisi pohon (sebuah pohon yang ada di Dzulhulaifah) ketika untanya sudah bangun dari tempat duduknya.”

(HR Muslim nomor 1186)

Dalam riwayat lain:

أَهَلَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حِينَ اسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ قَائِمَةً

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām ketika untanya sudah berdiri dengan tegak.”

(HR Bukhari nomor 1552)

Sedangkan untuk menghadap kiblat ada riwayat yang lain (bukan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetapi perbuatan ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā) yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri: 

كَانَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ إِذَا صَلَّى بِالْغَدَاةِ بِذِي الْحُلَيْفَةِ أَمَرَ بِرَاحِلَتِهِ فَرُحِلَتْ ثُمَّ رَكِبَ، فَإِذَا اسْتَوَتْ بِهِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ قَائِمًا، ثُمَّ يُلَبِّي

“‘Abdullāh bin ‘Umar jika selesai shalāt subuh di Dzulhulaifah, beliau minta didatangkan untanya kemudian beliau menaiki untanya.  Jika beliau sudah berada di atas untanya dan untanya berdiri dengan tegak beliau menghadap kiblat dengan berdiri kemudian beliau berihrām dengan bertalbiyyah.”

(HR Bukhari nomor 1553)

Bertalbiyyah, maksudnya mengucapkan “Labbaik allāhuma labbaika hajjan”, kalau seandainya dia berihrām untuk iihram haji Ifrad.

“Walabbaika umratan” kalau seandainya dia berihrām untuk haji Tamattu’ dan “Labbaika hajjan wa umratan” seandainya dia berihrām haji Qirān.

Boleh seseorang memberikan syarat kepada dirinya kalau seandainya dia mungkin di jalan tidak mampu untuk menyelesaikan haji dan umrah. Karena perlu diketahui seorang yang sudah masuk ihrām (niat untuk menunaikan ibadah haji dan umrah), maka dia tidak boleh menggagalkannya, berdasarkan:

وَأَتِمُّواْ الحج والعمرة لله

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS Al Baqarah: 196)

Kalau dia sudah berihrām kemudian dia keluar dari ihrāmnya maka dia harus bayar sangsi (fidyah), akan tetapi jika dia memberikan syarat kepada dirinya maka dia lepas dari sangsi tersebut kalau seandainya dia tidak melanjutkan penyempurnaan ibadah haji dan umrahnya.

Ini fungsi syarat, dan syaratnya mengucapkan:

إن حبسني حابس فمحلي حيث حبستني

“Jika ada sesuatu yang mengahalangiku maka tempat halalku adalah di mana aku terhalang (artinya) aku bisa terhalang.”

Artinya terhalang dari keadaan ihrām ketika aku terhalang di mana disitu aku keluar dari keadaan ihrām.

Ingat! Kata-kata ihrām jangan hanya diletakkan pada hal ini (pada kain ihrām). Tidak!

Ihrām adalah sebuah keadaan bukan sebuah kain, yaitu seorang berarti dalam keadaan ihrām dia sudah melaksanakan ibadah haji dan umrah yang mana keadaan orang yang berihrām ada hal-hal yang merupakan larangan baginya untuk tidak dilanggar. (nanti akan kita jelaskan In syā Allāh).

Dalīl yang menunjukan bahwasanya boleh memberikan syarat tadi adalah hadīts riwayat Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bahwa Duba’ah binti Zubair radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā pernah mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنِّي امْرَأَةٌ ثَقِيلَةٌ وَإِنِّي أُرِيدُ الْحَجَّ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ  ” أَهِلِّي بِالْحَجِّ وَاشْتَرِطِي أَنَّ مَحِلِّي حَيْثُ تَحْبِسُنِي “

“Wahai Rasūlullāh, aku wanita yang sudah tua tapi aku ingin berhaji, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Kerjakan haji dengan Ifrad dan berikanlah syarat kepada dirimu dengan mengucapkan ‘bahwasanya tempatku untuk bertahalul adalah di mana aku terhalang.”

(HR Muslim nomor 1208)

Jadi kalau orang sudah tua memberikan syarat kepada dirinya, karena kalau sudah tua tidak mampu lagi dia mengerjakan thawāf (misalnya) akhirnya dia keluar dari ihrāmnya (tidak jadi melaksanakan ibadah haji dan umrah).

Maka pada saat itu kalau seandainya dia bertahallul maka dia keluar dari ihrāmnya kemudian dia diperbolehkan mengerjakan hal-hal yang dilarang dan tidak ada apa-apa baginya (tidak membayar sangsi).

Ini utamanya memberikan syarat kepada dirinya ketika dia berihrām.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 18, In syā Allāh
_______
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #16: BAGIAN 16 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #16: BAGIAN 16 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

◆ Ihram

Ihrām secara bahasa diambil dari kata:

 أحرم  يحرم  إحراما,

Jika seseorang sudah masuk ke dalam manasik haji maka dari sinilah para ulamā fiqih meletakkan pengertian tentang ihrām.

Ihrām secara istilah syari’ adalah niat masuk ke dalam tata cara haji atau umrah.

Sebelum kita berihrām yaitu berniat memasuki tata cara haji atau umrah maka di sana ada amalan-amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan.

Di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan adalah:

⑴ Memotong kuku dan membersihkan badan.

Sesuai dengan yang dianjurkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts tentang fitrah manusia yaitu sebuah hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim, dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ ” .

“Fitrah itu ada lima yang pertama berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.”

(HR Bukhari nomor 5889 dan Muslim nomor 257)

Kelima fitrah di atas dianjurkan ketika sebelum berihrām.

Adapun janggut maka seorang muslim diharāmkan untuk mengambil sesuatu atau sedikitpun dari janggutnya baik dengan cara dicabut ataupun dipotong ataupun dikerik.

Hal ini berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dari ‘Abdullāh bin ‘Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisihilah diri kalian dengan kaum musyrik dan tipiskanlah kumis kalian dan biarkanlah atau banyakkanlah janggut kalian.”

(HR Muslim nomor 259)

Ini hal pertama yang dianjurkan sebelum kita berihrām.

⑵ Mandi

Mandi yang mengangkat hadats besar (seperti orang mandi junub).

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah kejadian yang  terjadi di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bahwa Asma binti ‘Umais radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau dalam keadaan selesai melahirkan dan dalam keadaan nifas. Maka beliau bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ: اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى

“Apa yang beliau kerjakan, beliau ingin berihrām tapi dalam keadaan nifas.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Mandilah kamu dan tutuplah kemaluanmu dengan kain dan berihrāmlah.”

(HR Muslim nomor 3009)

Ini menunjukkan bahwasanya sampai wanita yang hāidh atau nifaspun ketika ingin berihrām, mereka dianjurkan untuk mandi apalagi para lelaki dan wanita-wanita yang tidak dalam keadaan hāidh atau nifas.

⑶ Memakai minyak wangi

Memakai minyak wangi yang dia miliki baik di kepala ataupun di janggut atau di seluruh tubuh.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim, ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

.كَانَ رَسُوْلُ اللهِ اِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبَ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيْصَ الدُّهْنِ فِيْ رَأْسِهِ وَ لِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam jika beliau ingin memakai minyak wangi yang beliau miliki kemudian aku melihat bekas kilatan minyak wangi beliau di kepala dan janggut beliau setelah itu.”

(HR Muslim nomor 2830)

Bahkan ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā sendiri beliau yang memberikan minyak wangi kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam hadīts lain riwayat Bukhāri dan Muslim juga dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau bercerita:

كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لإِحْرَامِهِ حِينَ يُحْرِمُ، وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ.

“Aku senantiasa memberikan minyak wangi kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika sebelum beliau berihrām dan ketika beliau dalam keadaan halal sebelum beliau thawāf Ifadhah.”

(HR Bukhari nomor 1539)

⑷ Seorang lelaki berihrām dengan dua kain ihrām yaitu yang satu dijadikan sarung dan yang satunya dijadikan selendang.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad nomor 4664, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَلْيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِي إِزَارٍ وَرِدَاءٍ وَنَعْلَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ

“Hendaknya salah satu dari kalian berihrām dengan memakai kain yang disarungkan kemudian kain yang diselendangkan dan dua sandal.”

Ini ihrām kain bagi laki-laki, adapun bagi wanita sebagaimana riwayat ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Baihaqi dan dinyatakan shālih oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

المحرمة تلبس من الثياب ما شاءت إلا ثوبا مسه ورس أو زعفران ، ولا تبرقع ولا تلثم ، وتسدل الثوب على وجهها إن شاءت

“Wanita yang berihrām memakai apa saja dari pakaian kecuali pakaian yang terkena wars dan Za’farān dan jangan memakai burqa (cadar) dan jangan mengikat kain di wajahnya dan hendaklah dia menjulurkan kain di atas wajahnya jika dia menginginkan.”

—> wars maksudnya minyak wangi, za’faron maksudnya warna yang seperti za’faron.

Kemudian setelah dia mandi memakai minyak wangi kemudian dia berpakaian seperti pakaian biasa dan untuk wanita, jangan sampai melewati batas-batasan pakaian yang sudah ditentukan oleh syari’at islām.

Diantara batasan-batasan tersebut adalah:

⑴ Pakaian wanita harus lebar.
⑵ Menutupi seluruh tubuh.
⑶ Harus tebal dan tidak tipis menerawang memperlihatkan bentuk tubuh dan kulit tubuh.
⑷ Tidak menyerupai pakaian lelaki.
⑸ Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kāfir yang dipakai khusus bagi mereka.
⑹ Pakaian tersebut bukan pakaian yang menyerupakan perhiasan.
⑺ Pakaian tersebut bukan pakaian syuhrah (tampil beda, pent).

Ini para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 16, In syā Allāh
____

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #15: BAGIAN 15 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #15: BAGIAN 15 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 15 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membahas permasalahan berikutnya yaitu Miqāt-miqāt yang ada di dalam permasalahan haji.

◆ Miqāt

⇒Miqāt artinya batasan.

Apa maksud batasan?

Miqāt adalah batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syari’at baik berupa waktu maupun tempat.

Miqāt dibagi menjadi dua:

⑴ Miqāt Zamani (batasan waktu)
⑵ Miqāt Makani (batasan tempat)

◆ Miqat Zamani

Kalau waktu berarti bulan-bulan yang sudah ditentukan oleh syari’at Islām di dalamnya kita boleh mengerjakan haji.

Bulan-bulan yang dimaksud adalah:

√ Bulan Syawwāl
√ Bulan Dzulqa’dah
√ 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Coba perhatikan surat Al Baqarah 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah dimaklumi, siapa yang diwajibkan di dalam bulan-bulan tersebut untuk menunaikan ibadah haji, maka janganlah dia berbuat rafats, fasiq dan tidak boleh dia berbantah-bantahan ketika menunaikan ibadah haji.”

Batasan waktu adalah bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Seperti yang dikatakan oleh ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

أَشْهُرُ الْحَجِّ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرٌ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ  

“Bulan-bulan haji adalah bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

(HR Tirmidzi nomor 932)

Apa maksudnya miqāt zamani ini?

Maksudnya adalah batasan yang telah Allāh tentukan, berarti orang tidak boleh menunaikan haji diluar bulan ini.

Tidak boleh dia berihrām haji dari mulai bulan Ramadhān atau Muharram. Yang boleh hanya di bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah.

Kemudian juga perkataan ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

من السنة أن لا يحرم بالحج إلا في أشهر الحج

“Termasuk sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berihrām haji kecuali di bulan-bulan haji.”

◆ Miqāt Makani

Miqāt makani artinya batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syari’at untuk memulai ihrām bagi yang ingin memulai haji atau umrah.

Tidak boleh seseorang berihrām sembarangan tetapi di batasan-batasan yang telah ditentukan tersebut.

Batasan-batasan miqāt Makani ada 5:

⑴ Miqāt penduduk Madīnah adalah Dzulhulaifah (Bir ‘Ali)

Artinya jika penduduk Madīnah ingin menunaikan ibadah haji atau umrah harus melewati Bir ‘Ali dan ketika melewatinya berihrām di sana.

Jika melewati Dzulhulaifah tanpa keadaan ihrām padahal dia ingin menunaikan ibadah haji atau umrah, maka dia wajib membayar dam.

⑵ Miqāt penduduk Mesir, Syām, Suriah, Libanon, Palestina, Jordania, Maroko dan semisalnya adalah Al Juhfah.

Al Juhfah sekarang diganti dengan Rabigh.

⑶ Miqāt bagi penduduk Nazed (Riyard, Bahrain, Dammam, Khabar, Qatif) dan sekitarnya adalah Qarnul Manazil.

⑷ Miqāt penduduk Yaman adalah Yalamlam.

⑸ Miqāt dari penduduk Iraq adalah Dzatu ‘Irq.

Kalau kita sudah mengetahui miqāt-miqāt itu, perlu kita ketahui bahwasanya wajib bagi yang melewati miqāt-miqāt ini baik jalan darat, laut atau udara  yang ingin berhaji atau berumrah untuk berihrām di sana.

Tidak boleh dia melewati miqāt tanpa berihrām jika dia ingin mengerjakan haji dan umrah.

Dalīl yang menunjukkan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim dari shahābat ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَقَّتَ رَسُوْلُ اللهِ لأَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ وَلأِهْلِ النَّجْدِ القَرْنَ وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ قَالََ هُنَّ لَهُنَّ لِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَجَّ وَ الْعُمْرَةَ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan miqāt untuk penduduk kota Madīnah Dzulhulaifah dan penduduk kota Syām Al Juhfah dan penduduk Nazed Qarnal Manazil dan penduduk kota Yaman Yalamlam.

Lalu beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

“Miqāt-miqāt itu bagi penduduknya atau bagi orang yang melewatinya yang bukan dari penduduk daerah itu atau bagi siapa saja yang ingin berhaji atau umrah.”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan kalau penduduk kota Mekkah bagaimana? Atau penduduk kota yang di dalam miqāt?

Miqāt yang paling dekat adalah Qarnul Manazil (As Syail Kābir), jaraknya kurang lebih 70 Km dari kota Mekkah.

Miqāt yang paling jauh adalah miqāt penduduk kota Madīnah (Dzulhulaifah/Bir ‘Ali), jaraknya sekitar 450 Km dari kota Mekkah.

Jarak miqāt penduduk Madīnah jauh, sehingga shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum kalau sudah berihrām baik haji atau umrah sampai Mekkah suaranya habis, kenapa?

Karena setelah berihrām kita dianjurkan untuk bertalbiyah. Para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum mereka bertalbiyah sampai ke kota Mekkah.

 ◆ Penduduk kota yang ada di dalam miqāt

Penduduk kota yang ada di dalam miqāt (misalnya)  kota Tsumaysi yang ada dekat Mekkah, Than’im, Mina, ‘Arafāh, Jeddah, Thaif. Di mana penduduk itu mengambil miqāt?

Miqāt nya, sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda (lanjutan hadits yang tadi):

فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ مَهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ وَكَذَلِكَ أَهْلُ مَكَةََََ يُهِلُّوْنَ مِنْهَا

“Adapun orang yang tinggal di dalam miqāt maka dari tempat tinggalnya dia berihrām, sampai penduduk Mekkah dia berihrām dari tempat tinggalnya.”

Kalau tadi di dalam hadits ‘Abdullāh ibnu ‘Abbās hanya disebutkan 4 (empat) miqāt yang ke-5 adalah miqāt penduduk kota Iraq.

Dalam riwayat yang lain disebutkan berdasarkan hadīts ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau bercerita:

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ الْعِرْقِ

“Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan Dzatu’irq sebagai miqāt bagi penduduk Irāq.”

(Hadīts Abū Dāwūd nomor 1739,An Nasāi’ 2/6)

Dzatu ‘irq adalah sebuah daerah yang ada di Iraq sebagi miqāt penduduk Iraq.

Ini yang bisa saya sampaikan tentang miqāt.

Sebelum saya tutup saya ingin menyampaikan dari miqāt-miqāt yang sudah kita sampaikan tadi. Berarti Jeddah bukan miqāt dan Jeddah ada di dalam miqāt.

Kalau ada jama’ah haji Indonesia yang berangkat dari Indonesia naik pesawat, kalau tujuannya Jeddah dia akan melewati Yalamlam (miqātnya orang Yaman) berarti dia harus berihrām di dalam pesawat.

Kalau dia berihrām di Jeddah maka dia sudah melewati miqāt tanpa ihrām, padahal dia menginginkan haji dan umrah, maka wajib baginya untuk membayar dam atau fidyah yaitu menebus kesalahan karena masuk miqāt tanpa berihrām.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 16, In syā Allāh
____

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #14: BAGIAN 14 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #14: BAGIAN 14 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sekarang kita berbicara tentang syarat orang yang menghajikan atau mengumrahkan orang lain.

Di antara syaratnya adalah:

⇒Sudah pernah melakukan haji atau umrah  untuk dirinya sendiri.

Dalam hadīts riwayat Imām. Abū Dāwūd bahwa ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bercerita:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ . قَالَ ” مَنْ شُبْرُمَةَ ” . قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي . قَالَ ” حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ” . قَالَ لاَ . قَالَ ” حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ ” .

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan ihrām dengan ucapan:

“Labaika an Syubrumah (aku memenuhi pangilan Engkau wahai Allāh atas nama Syubrumah).”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya:

“Siapa itu Syubrumah.”

Kemudian orang tersebut menjawab:

“Saudara lelakiku (kerabatku) wahai Rasūlullāh.”

Lau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada orang ini:

“Apakah engkau telah berhaji ?”

Kemudian orang tersebut menjawab, “Belum”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Hajilah untuk dirimu dulu, kemudian baru hajikan atas nama Syubrumah.”

(HR Abu Daud nomor 1546, versi Baitul Afkar adDaulah nomor 1811)

⇒Tentunya tahun ini haji untuk diri sendiri baru tahun depan untuk Syubrumah.

◆ Nasehat bagi yang ingin menghajikan orang lain

Ada tiga nasehat, diantaranya:

Ini disebutkan oleh Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah panjang lebar dalam kitāb Maj’mu Al Fatawa tentang menghajikan orang lain.

⑴ Tunaikan amanah orang lain.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd nomor 3535 dan hadīts ini di shahihkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Abū Hurairah berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَن ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikan amanah kepada orang yang berhak mendapatkan amanah tersebut dan janganlah kamu khianati orang yang mengkhianatimu.”

Dalam hadīts riwayat Imām Ahmad nomor 14878, hadīts ini dishahīh oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam haji wadā:

وَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا

“Barangsiapa yang ada disisinya amanah, maka tunaikanlah amanah tersebut kepada yang berhak mendapatkannya.”

⇒Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbicara tentang amanah ketika haji wadā, maka tunaikanlah amanah orang lain.

⑵ Kerjakan dengan maksimal

Rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnah dikerjakan.

Contoh:

Bermalam di Muzdalifah bagi bujangan tidak membawa keluarga diwajibkan sampai pagi (shalāt Subuh disana).

Apabila ada orang yang membadalkan haji (bujangan) dia tidak bermalam di Muzdalifah, dia hanya singgah sebentar  kemudian tidur sebentar lalu pergi setelah pertengahan malam. Ini namanya tidak maksimal mengerjakan amanah orang lain.

Mengerjakan amanah orang lain harus maksimal karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan Allāh mencintai orang-orang yang berbuat ibadah dengan maksimal (tidak asal-asalan).

Dan para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum sangat membenci orang yang ketika shalāt ruku’nya tidak lurus, terlalu tinggi atau terlalu berlebih-lebihan karena malas, tidak maksimal ruku’nya.

Dalam amalan apapun Allāh sangat mencintai untuk dikerjakan secara maksimal.

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Baihaqi dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

“Sesungguhnya Allāh mencintai jika salah satu dari kalian jika mengerjakan suatu amalan, dia kerjakan dengan sungguh-sungguh (maksimal).”

⑶ Menghajikan orang lain jangan mengambil keuntungan tetapi mengambil harta untuk berhaji (haji badal tersebut).

Para ulamā mengatakan:

“Barangsiapa yang ingin mengambil keuntungan di dalam menghajikan orang lain, jangan dia kerjakan haji untuk orang lain dan barangsiapa ingin mengambil harta untuk berhaji maka silahkan berhaji.”

⇒Artinya jangan sampai ada proses pengambilan keuntungan.

Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan tentang seorang wanita berhaji (menghajikan orang lain), wanita yang berhaji ini berniat untuk menghajikan seorang yang sudah meninggal dengan upah membayar hutang.

Apakah boleh wanita ini untuk menunaikan ibadah haji?

Jawaban:

يجوز أن تحج عن الميت بمال يئخذ على وجه النيابة بالاتفاق، وأما على وجه الإجارة ففيه قولان للعلماء، هما روايتان عن أحمد:
إحداهما: يجوز وهو قول الشافعي.
والثاني: لا يجوز، وهو مذهب أبي حنيفة. ثم هذه الحاجة عن الميت إن كان قصدها الحج، أو نفع الميت كان لها في ذلك أجر وثواب، وإن كان ليس مقصودها إلا أخذ الأجرة فما لها في الآخرة من خلاق.

“Boleh, untuk menunaikan haji orang lain dengan harta yang diambil (sebagai wakil). Adapun dalam sisi sebagai upah seperti pekerja maka ada dua pendapat dari para ulamā, yaitu:

⑴ “Boleh” (ini pendapat  Imām Ahmad dan Imām Syāfi’i).

⑵ Pendapat Abū Hanifah, “Tidak boleh.”

“Jika wanita tadi menunaikan ibadah haji atas orang lain karena ingin menunaikan ibadah haji atau memberikan manfaat kepada orang yang sudah meninggal (mengirimkan pahala atasnya), maka baginya pahala dan ganjaran dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau seandainya tidak ada niatan kecuali dia mengambil keuntungan, maka tidak ada bagian pahala baginya diakhirat kelak.”

(Majmu’ Fatawa)

Jadi harta yang diambil diberikan oleh orang yang ingin meniatkan (menghajikan) orang lain tersebut bukan sebagai keuntungan tetapi untuk berhaji.

Jadi ketika kita menghajikan orang lain jangan sampai kita niatkan untuk mengambil keuntungan.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 15, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #13: BAGIAN 13 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #13: BAGIAN 13 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita akan membicarakan manasik haji.

Manasik haji artinya bahwa ada 3 (tiga) jenis tata cara menunaikan ibadah haji.

Kalau dari tiga jenis haji, mana yang lebih utama?

Ingat kata-kata “paling utama” menunjukkan bahwasanya tiga jenis haji ini disyari’atkan.

Tetapi kita berbicara mana yang paling utama, bukan berbicara mana yang tidak boleh.

Tiga-tiga jenis manasik ini diperbolehkan untuk memilih, silahkan dia pilih tergantung (sesuai) dengan kemampuan dia.

Haji tamattu’ adalah haji yang paling utama untuk dikerjakan dengan beberapa sebab, di antaranya:

⑴ Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan para shahābat untuk mengerjakan haji Tamattu’.

Dalīlnya adalah hadīts riwayat Muslm, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 ” لَوْ أَنِّي اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْىٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً ”

“Kalau seandainya aku mengetahui dari perkaraku yang akan datang maka aku tidak akan membawa hewan hadyu dan aku akan menjadikannya (Ihrāmku ini) sebagai umrah, maka barangsiapa atas kalian yang tidak bersamanya hewan hadyu (dari luar Mekkah) maka hendaklah bertahallul dan menjadikannya sebagai ihrām umrah.”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

Ini adalah perintah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑵ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menginginkan untuk mengerjakan haji secara  Tamattu’ tetapi karena beliau membawa hewan hadyu maka beliau mengerjakan haji secara Qirān.

⑶ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

أَحِلُّوا مِنْ إِحْرَامِكُمْ بِطَوَافِ الْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَقَصِّرُوا ثُمَّ أَقِيمُوا حَلاَلاً، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوا بِالْحَجِّ، وَاجْعَلُوا الَّتِي قَدِمْتُمْ بِهَا مُتْعَةً

“Bertahallullah kalian dari ihrām kalian dengan mengerjakan thawāf, lalu sai diantara Shafā dan Marwah, kemudian pendekanlah rambut kalian, kemudian berdiamlah di Mekkah dalam keadaan halal (lepas dari Ihrām), sampai jika telah datang hari tarwiyyah (08 Dzulhijjah) lalu berihrāmlah dengan niatan haji. Dan jadikan ihrām yang kalian datang dengannya sebagai umrah yang dengannya kalian mengerjakan haji Tamattu.”

Lalu bagaimana niat haji tamattu’?

⇒Allāhuma labaika umratan (sudah cukup)

Ada yang lain menambahkan

⇒ Muttamati’an bihā ilal haji (sebagian ulamā menganjurkan seperti ini).

◆ Ihrām

Ihrām adalah niat masuk ke dalam manasik haji, jadi kalau orang berihrām berarti dia berniat masuk ke dalam manasik haji.

◆ Menghajikan atau mengumrahkan orang lain

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita ingin membahas tentang permasalahan menghajikan dan mengumrahkan orang lain.

Ketahuilah bahwasanya menghajikan dan mengumrahkan orang lain disyari’atkan dalam Islām dan pahalanya sampai kepada orang yang kita haji atau umrahkan. 

◆ Syarat-syarat orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya.

Syaratnya:

⑴ Orang yang akan dihajikan atau diumrahkan sudah meninggal.

Dalīlnya hadīts riwayat Bukhāri dari ‘Abdullāh bin ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, beliau bercerita:

أَنَّ امْرَأَةً، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ ” نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ “. قَالَتْ نَعَمْ. فَقَالَ ” فَاقْضُوا الَّذِي لَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ “.

Pernah seorang wanita menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu dia berkata:

“Sesungguhnya ibuku bernadzar ingin menunaikan ibadah haji lalu beliau meninggal sebelum beliau menunaikan ibadah haji, bolehkah aku menghajikan atasnya?”

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?”

Wanita itu menjawab: “Ya.”

Lantas Nabi berkata:

“Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.”

(HR Bukhari nomor 6771, versi Fathul Bari nomor 7315)

Lihat kata-kata “meninggal”, jadi orang yang dihajikan dan di umrahkan atasnya adalah orang yang sudah meninggal.

⑵ Orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya tidak mampu menunaikan ibadah haji.

Maksud tidak mampu karena dua hal:

⑴ Usianya tua sehingga tidak mampu untuk menunaikan ibadah haji.

⑵ Orang yang sakit yang diperkirakan sulit sembuhnya dan tidak mampu menunaikan ibadah haji.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau bercerita:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ، عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ، قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ  ” نَعَمْ “

“Sesungguhnya ada seorang wanita dari daerah Qata’ab berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya kewajiban seorang hamba-hambanya dalam haji telah didapati oleh bapakku dalam keadaan yang sangat tua, beliau tidak mampu untuk tetap di atas kendaraannya, bolehkan aku berhaji atasnya?”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Iya.”

(HR Bukhari nomor 1721, versi Fathul Bari nomor 1854)

Dalam riwayat yang lain (Muslim) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

فَحُجِّي عَنْهُ

“Maka berhajilah atasnya.”

(HR Muslim nomor 2376, versi Syarh Muslim nomor 1335)

Kalau ada yang bertanya, apabila umrah bagaimana? apa dalīlnya?

Dalīlnya hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd bahwa seorang shahābat yang bernama Abū Razin radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَلاَ الظَّعْنَ . قَالَ  ” احْجُجْ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ” .

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya bapakku orang yang tua renta tidak mampu berhaji, umrah dan tidak mampu untuk duduk diatas unta sebagai kendaraannya,”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Hajikan dan umrahkan bapakmu.”

(HR Abu Daud nomor 1545, versi Biatul Afkar Ad Daullah nomor 1810)

Ini adalah syarat yang berkaitan dengan orang yang dihajikan dan diumrahkan atasnya.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 14, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq