KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #2: BAGIAN 02 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, shalawat dan salam semoga selalu Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وقال الحافظ ابن كثير رحمه الله في تفسير هذه الآية العظيمة: ((وهذان ركنا العمل المتقبل، لا بد أن يكون خالصا لله، صوابا على شريعة رسول الله صلى الله عليه وسلم))

Al Imam ibnu Katsir rahimahullāh, beliau mengomentari ayat ini, QS AlKahfi ayat 110:

“Dua hal ini adalah rukun amal yang diterima, tidak bisa tidak harus dengan ikhlas karena Allāh dan sesuai dengan syariat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Keduanya saling berkaitan, tidak bisa yang penting ikhlas, tetapi harus dengan keduanya.

Jadi tidak bisa hanya dengan ikhlas saja, tetapi harus dengan mencontoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Saya sebutkan nanti dalam haji, bahkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau benar-benar menegaskan untuk mencontoh beliau dalam masalah haji.

Seandainya ada ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, tetapi tidak sesuai dengan contoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka tidak akan diterima Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sekarang saya ingin merunut syarat-syarat ini, apa itu ikhlas?

Para ulama banyak sekali mendefinisikan ikhlas.

Yang paling mudah yang disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madārijus Sālikīn:

الإخلاص أن لا تطلب على عملك شاهدا غير الله، ولا مجازيا سواه

“Ikhlas adalah kamu tidak menuntut/mencari seseorang yang menyaksikan amalmu selain Allāh. Dan tidak juga menuntut/mencari seorang yang memberikan pahala/ganjaran/pujian atas amalnya selain Allāh.”

Ketika kita mengerjakan ibadah haji, ketika daftar, mempersiapkan semua keperluan haji, ihram, payung dan seluruh persiapan kesehatan, kita tanya/introspeksi diri:

“Saya mengerjakan ini untuk apa?”

Rugi jika kita tidak ikhlas.

Tidak ikhlas itu penyakitnya ahli ibadah, bukan penyakit orang yang malas ibadah. Penyakitnya ahli masjid, ahli sedekah, ahli baca qurān, ahli haji, ahli umrah.

Apakah ketika kita melaksanakan ibadah haji, ingin dipanggil haji Fulan?

Nabi Muahammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, setelah haji, tidka pernah dipanggil Haji Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Coba kembalikan kepada diri kita, untuk apa kita menunaikan ibadah haji?

Apakah ikhlas karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Sering orang yang ikhlas yang benar-benar ikhlas merasa belum ikhlas, karena merasa belum dilihat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Bahaya orang yang tidak ikhlas, amal ibadahnya tidak diterima.

Contoh konkrit orang yang ikhlas, yaitu seperti orang melihat binatang ternak yang diperah susunya.

Susu binatang ternak yang diperah sebenarnya berada di antara dua hal yang kotor yaitu (maaf) antara tahi dan darah. Tetapi ketika diperah keluarnya susu. Itulah ikhlas.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ

“Dan sesungguhnya di dalam binatang ternak bagi kalian terdapat sebuah pelajaran, kami berikan minum kepada kalian dari apa yang ada dalam perut binatang ternak tersebut yang keluar di antara tahi dan darah, keluarlah susu yang bersih dan mudah untuk ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”

(QS An Nahl: 66)

Ketika kita memerah susu, tidak sedikitpun tercampur tahi ataupun darah, bahkan bisa langsung diminum.

Begitu juga amal, ketika ikhlas maka dia cocok untuk diterima.

Jika ada prosentase, orang yang beramal 99,999% ikhlas karena Allāh, tapi 0,001% ingin mendapatkan pujian ataupun apa yang ada ditangan manusia, maka tidak diterima.

Dalilnya hadits qudsi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya/amalannya.”

(HR Muslim nomor 5300, versi Syarh Muslim nomor 2985)

Makanya, Allāh Subhānahu wa Ta’āla mempunyai nama Ash Shamad (Yang Segala Sesuatu Bergantung kepada-Nya), a/Al Hayyu (Yang Maha Hidup), Al Qayyum (Yang Berdiri Sendiri) tidak membutuhkan apapun.

Coba introspeksi diri sendiri, ketika kita ingin menunaikan ibadah haji, untuk apa kita melaksanakan ibadah haji?

Apakah ketika pulang ingin dikenal sebagai seorang Haji?

Maka perlu dikoreksi niatnya.

Khusus masalah haji Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ingatlah, ketika kami memberikan tempat kepada Ibrāhim di Baitullāh dengan mengatakan, “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku’ dan yang sujud.”

(QS Al Hajj: 26)

Yang pertama kali Allāh ingatkan kepada Nabi Ibrāhim ‘alayhi wa sallam:

“Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku.”

Komentar Imam Ibnul Qayyim rahimahullāh dalam kitab Jawābul Kāfī:

أي كما أنه إله واحد لا إله سواه فكذلك ينبغي أن تكون العبادة له وحده فكما تفرد بالالهية يحب أن يفرد بالعبودية فالعمل الصالح هو الخالى من الرياء المقيد بالسنة

“Sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sesembahan yang tunggal, maka demikian pula ibadah itu hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana Allāh itu satu-satunya untuk disembah, maka Allāh ingin satu-satunya yang berhak diibadahi. Maka amal shalih adalah amal yang terlepas dari riya’ dan terbatas terkait dengan sunnah Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

Bersambung ke bagian 03, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #1: BAGIAN 01 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada hari ini kita duduk bersama untuk mengkaji kajian intensif seputar manasik haji dan umrah.

Shalawat dan salam semoga selalu Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Bapak, Ibu, Saudara-Saudari seiman yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

الحجّ لغة القصد إلى شيء معظّم

“Haji secara bahasa adalah menuju/pergi/bermaksud kepada sesuatu yang diagungkan.”

Ini Haji secara bahasa. Jadi bukan hanya menuju kepada sesuatu, tetapi sesuatu tersebut adalah hal yang diagungkan, yang dimuliakan, yang dihormati.

Adapun haji secara istilah syar’i adalah:

الحجّ اصطلاحا هو التعبد لله بأقوال وأفعال مخصوصة في أوقات مخصوصة في أماكن مخصوصة من شخص مخصوص بثروط مخصوصة

“Haji secara istilah syar’i adalah beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan perkataan dan perbuatan yang tertentu (yang khusus), pada waktu yang sudah ditentukan, pada tempat-tempat tertentu, dilakukan oleh orang yang tertentu dengan syarat tertentu.”

Jadi tidak sembarangan kita menunaikan ibadah haji. Di sana ada bacaan-bacaan, perbuatan-perbuatan dan waktu-waktu haji yang sudah diatur yang akan kita bicarakan in syā Allāh.

Jika ada orang muslim yang melaksanakan ibadah haji tidak pada waktunya, maka bisa dipastikan tidak diterima.

Misalkan, nanti kita akan bicarakan mengenai waktu menunaikan ibadah haji, diperbolehkan seseorang melakukan ibadah haji dari mulai Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzujhijjah.

Jika dia berihram haji (mulai ibadah haji) sebelum bulan ini, misal bulan Ramadhan atau Sya’ban, maka tidak dinamakan haji, karena bulan-bulan untuk menunaikan ibadah haji telah ditentukan dalam Islam.

Seorang menunaikan ibadah haji pada tempat-tempat tertentu. Tidak bisa dia wukuf sembarangan.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

 الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu intinya berwukuf di ‘Arafah.”

(Hadīts Riwayat An Nasāi’ nomor 2966, versi maktabatu Al Ma’arif Riyadh nomor 3016)

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah bersabda:

 وَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Saya telah berwuquf di sini (‘Arafah) dan ‘Arafah semuanya adalah tempat wuquf.”

(HR Ahmad nomor 13918)

Ini menunjukkan bahwasanya wukuf tempatnya di Arafah.

Jika ada orang tanggal 9 Dzulhijjah, dimana pada tanggal tersebut adalah untuk berwukuf, tapi dia berada di Mina dan sampai habis tanggal 9 masih di Mina, maka tidak sah hajinya, karena dia berwukuf pada tempat yang tidak ditentukan oleh syariat Islam.

Begitu juga jika ada orang thawaf tapi tidak di ka’bah, di kuburan, maka ini tidak benar.

Kemudian haji tersebut juga dilakukan oleh orang tertentu, tidak semua orang boleh melakukan haji. Tidak seluruh manusia boleh melaksanakan haji atau tidak seluruh manusia diwajibkan haji dan tidak seluruh manusia sah hajinya. Ada syarat-syarat haji.

Sekarang kita artikan dulu umrah.

العُمرة لغة: الزيارة

“Umrah secara bahasa, adalah kunjungan.”

Adapun secara istilah syar’i adalah:

العمرة اصطلاحا هو التعبد لله بزيارة الكعبة  المشرفة على إحرام ثم طَّواف، والسَّعي بين الصفا والمروة، والحلْق أو التقصير.

“Beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan menziarahi ka’bah yang mulia dalam keadaan berihram, kemudian thawaf dan si’i di antara Shafa dan Marwa dan (tahallul) dengan mencukur gundul atau memendekkan rambut.”

Inilah yang disebut dengan umrah.

Jadi umrah lebih gampang daripada haji. Lebih kecil daripada haji perbuatannya.

Nah ini pengertian dari umrah.

Nanti ini akan berkaitan antara satu dengan lainnya, baik ketika seorang mengerjakan umrah tersendiri ataupun orang melakukan ibadah haji dan umrah.

Jika kita perhatikan tadi dari definisi haji ataupun umrah, maka dia adalah ibadah.

Mengerjakan haji berarti mengerjakan ibadah, mengerjakan umrah berarti mengerjakan ibadah.

Jika sudah bicara ibadah maka akan membicarakan dua hal.

Dimanapub ibadah kita, apapun jenisnya, baik perkataan atau perbuatan yang diridhai dan dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka ingat, ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan dua hal:

1. Ikhlas

–> seseorang harus dalam keadaan ikhlas ketika beribadah tersebut.

Jika tidak ikhlas, maka bisa dipastikan tidak diterima.

Mulai sekarang diniatkan, ketika anda menyetor uang untuk mendaftar haji ke travel dan mendapatkan kwitansi, untuk apa ibadah haji?

Untuk siapa mengerjakan ibadah haji?

2. Mutaba’ah

–> sesuai dengan contoh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam ibadah.

Dan pertanyaan yang kedua yang harus ditanyakan ketika kita melaksanakan ibadah, termasuk ibadah haji, yakni:

“Bagaimana haji anda, ketika mengerjakan ibadah thawaf, sa’i, menggundul rambut, wukuf di ‘Arafah dan lain-lainnya. Apakah sesuai dengan yang dicontohkan Rasūlullāh atau tidak?”

Nah, dua syarat ini harus ada dalam setiap amal ibadah kita, temasuk ibadah haji dan umrah.

Dalilnya, QS Al Kahfi ayat 110:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka hendaklah dia beramal amalan shalih dan tidak mensyirikkan Allāh dalam beribadah kepada-Nya dengan sesuatu apapun.”

Amal shalih tidak dinyatakan shalih kecuali ketika sesuai dengan yang dicontohkan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.
صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 2, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri        (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq