KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #19: BAGIAN 19 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #19: BAGIAN 19 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, larangan ihrām berikutnya adalah:

⑷ Memakai pakaian yang berjahit yang membentuk tubuh.

Pakaian yang berjahit maksudnya adalah pakaian yang membentuk tubuh. Seorang muslim dilarang  untuk memakai pakaian yang membentuk tubuh.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim ketika beliau ditanya, “Apa yang dipakai oleh orang yang sedang berihrām?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

لاَ تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْعَمَائِمَ، وَلاَ الْبَرَانِسَ

َ”Jangan kalian memakai gamis, celana, imamāh (surban) dan tidak pula baju burnus (baju yang memiliki tutup kepala).”

(HR Bukhari nomor 1838)

Semuanya membentuk tubuh.

Maka termasuk larangan dalam agama Islām bagi yang sedang berihrām untuk memakai pakaian yang berjahit yang membentuk tubuh.

⑸ Sengaja memakai minyak wangi dalam keadaan Ihrām baik di pakaian ihrāmnya atau di badannya ataupun di makanannya atau di minumannya.

Jauhi hal -hal yang wangi-wangi.

Di sana ada banyak pertanyaan, tentang beberapa hal yang berbau seperti sabun.

Bolehkah kita memakai sabun?

Jawabannya:

Sabun jika ada yang tidak wangi maka itu yang lebih utama dipakai, tetapi jika tidak ada dan kita membutuhkan untuk memakai sabun di tangan kita maka diperbolehkan tetapi diutamakan yang tidak wangi.

Adapun krim (misalkan) jika ada yang tidak wangi maka pakai yang tidak wangi. Begitu juga minyak angin dan balsam.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts riwayat Bukhāri yaitu ketika ada seorang bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang pakaian dia terkena minyak wangi ketika ihrām.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

اغْسِلِ الطِّيبَ الَّذِي بِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، وَانْزِعْ عَنْكَ الْجُبَّةَ، وَاصْنَعْ فِي عُمْرَتِكَ كَمَا تَصْنَعُ فِي حَجَّتِكَ

“Cuci minyak wangi yang terkena badanmu atau terkena pakaianmu tersebut sebanyak tiga kali kemudian lepaskan kain ihrāmmu itu jangan dipakai lagi, dan lakukanlah di dalam umrahmu sebagaimana yang kamu lakukan di dalam hajimu.”

(HR Bukhari nomor 1536)

⑹ Membunuh (berburu hewan darat).

Berburu hewan darat tidak diperbolehkan dalam keadaan ihrām dalam agama Islām.

Allāh-Subhānahu-wa-Ta’āla berfirman dalam surat Al Māidah ayat 95.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ

“Wahai orang-orang yang berimān janganlah kalian membunuh hewan-hewan buruan darat ketika kalian dalam keadaan berihrām.”

⑺ Mengadakan akad nikah atau melamar

Mengadakan akad nikah atau melamar, baik dia sebagai pelakunya atau dia sebagai yang menikahkan atau yang melamarkan, ini tidak diperbolehkan!

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini yaitu hadīts riwayat Muslim dari ‘Utsman bin Affan radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

“Seorang yang berihrām tidak boleh dia menikah dan tidak boleh dia menikahkan dan tidak boleh dia melamar.”

(HR Muslim nomor 1409)

Dan ini madzhab jumhūr ulamā.

⑻ Bersetubuh dalam keadaan berihrām

Hal ini berdasarkan sebuah ayat dalam surat Al Baqarah ayat 197.

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“Haji itu diwajibkan pada bulan-bulan yang sudah ditentukan, barangsiapa yang diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut, maka tidak boleh dia berbuat rafats.”

⇒Rafats para ulamā tafsir mengatakan jima’ bersetubuh yang disengaja sebelum dia bertahalul awal.

⑼ Bercumbu

Bercumbu baik dengan mencium, memeluk dan lainnya tidak diperbolehkan dan ini termasuk dalam kata-kata, “Falā rafatsa (janganlah dia berbuat rafats)._

Kalau kita perhatikan dalam perihal hal-hal yang dilarang ketika ihrām, kalau kita berbicara tentang sanksi, kalau dilanggar bagaimana?

Orang-orang yang berihrām tetapi dia melanggar larangan-larangan Ihrāmnya, bagaimana?

Jawabannya:

Ada pembagian,yaitu:

① Bila orang yang sedang berihrām melakukan hal-hal yang dilarang dalam berihrām tanpa ada udzur dan keperluan maka dia berdosa dan wajib membayar sanksi atau fidyah.

② Bila dia melakukan hal-hal yang dilarang ketika dia berihrām tetapi dia ada keperluan disana, seperti (misalkan) orang yang perlu memakai pakaian yang berjahit atau dia memakai gips karena kakinya sakit sehingga menutup kedua mata kakinya dan seperti memakai kain yang berjahit atau membentuk tubuhnya. Ini ada keperluan disana.

Maka kita katakan dia telah melanggar larangan ihrām tapi tidak berdosa dan tetap wajib membayar sanksi.

③ Kalau orang melanggar larangan ihrām karena tidak tahu, karena lupa atau karena tidak sengaja. Seperti tidak sengaja karena sedang tidur dia menutup kepalanya (menutup kepala adalah larangan ihrām) maka kita katakan tidak ada apa-apa atas orang ini (tidak ada sanksi).

Karena Allāh-Subhānahu-wa-Ta’āla berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا

“Wahai Rabb kami janganlah dianggap berdosa jika kami lupa atau kami tidak tahu.”

Atau orang yang dipaksa atau diancam harus mengerjakan larangan ihrām, maka ini tidak mengapa artinya dia tidak harus membayar fidyah.

Kalau kita perhatikan lagi larangan-larangan ihrām ini ada yang membayar fidyah dan ada yang tidak membayar fidyah.

◆ Contoh larangan ihrām yang tidak ada fidyahnya, seperti:

√ Mengadakan akad nikah atau menikahkan orang atau melamar atau dilamar.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya, seperti:

√ Bersetubuh sebelum tahallul awal fidyahnya adalah menyembelih satu ekor unta atau sapi kemudian dibagikan kepada faqīr miskin di kota Mekkah dan tidak mengambil sedikitpun darinya dan dia harus melanjutkan hajinya. Hajinya batal, tahun depan harus melaksanakan haji kembali.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya dengan mengganti semisal dengannya.

√ Yaitu jika seseorang sedang berihrām dan dia membunuh hewan buruan darat, maka dia harus mengganti semisal dengannya.

Misalnya:

Dia membunuh kijang maka dia harus menyembelih kijang.

◆ Contoh larangan ihrām yang ada fidyahnya dengan cara mengerjakan yang disebut dengan sanksi (hukuman).

Hukuman ini ada 3 (tiga) hal, yaitu:

⑴ Dia berpuasa selama tiga hari.
⑵ Memberi makan kepada enam orang faqīr miskin.
⑶ Menyembelih kambing.

Silahkan pilih salah satu dari ini.

Itu sisa-sisa dari larangan-larangan ihrām seperti (misalkan) memakai pakaian berjahit, menutup kepala bagi laki-laki kemudian memakai cadar dan kaos tangan bagi wanita, memakai minyak wangi, mengambil rambut, memotong kuku. Ini semua kena sanksi, sanksi ada namanya.

Ini kalau kita berbicata tentang larangan-larangan ihrām dari sisi fidyahnya.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 20, In syā Allāh
_______
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #18: BAGIAN 18 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #18: BAGIAN 18 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ada permasalahan, yaitu ketika seseorang membawa anak kecil. Tentunya anak kecil ini tidak diwajibkan, tetapi sah hajinya.

Karena syarat bāligh kita katakan adalah syarat wajib.

Tidak wajib bagi orang yang belum bāligh untuk menunaikan ibadah haji, tetapi bila dia menunaikan ibadah haji, maka hajinya sah, tetapi belum jatuh padanya haji yang wajib.

Artinya, apabila dia sudah bāligh diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji lagi.

Apabila saya membawa anak saya yang belum bāligh bagaimana dia berihrām ?

Lihat keadaan anak itu, apabila dia mumayis yaitu bisa membeda mana yang benar mana yang salah maka kita bimbing dia untuk berihrām.

Dan kita juga dianjurkan untuk memerintahkan kepada dia mengerjakan hal-hal yang dianjurkan sebelum berihrām, seperti; mandi, membersihkan tubuhnya kemudian melakukan hal-hal yang dilakukan sebelum berihrām.

Baru setelah itu kita bimbing dia untuk melakukan ish’ar (mengucapkan syiar bahwasanya dia sudah masuk kedalam manasik haji dan ‘umrah) dengan mengucapkan, “Labbaika hajjan wa umratan,” atau “Labbaika hajjan,” atau, “Labbaika umratan.”

Adapun bila anak itu masih bayi, tidak bisa berbicara (misalkan), maka pada saat itu orang tuanya yang mengucapkan atasnya.

Inilah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan ihrām.

Pada saat seperti inilah si fulān sudah dinamakan muhrīm (sedang berihrām). k

Kalau sudah muhrīm maka yang dianjurkan mengucapkan talbiyyah.

Untuk laki-laki, diucapkan dengan suara yang keras dan terus menerus.

Apa dalīl yang menunjukkan bahwasanya diucapkan dengan suara yang keras?

Dalīlnya adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah dari Zaid bin Khālid radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 جَاءَنِي جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شِعَارِ الْحَجِّ

Telah datang kepadaku Jibrīl ‘alayhissalām, kemudian Jibrīl ‘alayhissalām berkata:

“Wahai Muhammad, perintahkan para shahābatmu untuk mengangkat suaranya dalam bertalbiyyah, sesungguhnya dia adalah syi’ar haji.”

(HR Ibnu Majah nomor 2923)

Adapun untuk wanita maka para ulamā bersepakat sebagaimana disebutkan oleh seorang ‘alim besar dari madzhab māliki, Ibnu Abdilbar, dalam kitābnya At Tarhib bersepakat bahwasanya seorang wanita termasuk sunnahnya tidak mengangkat suaranya dan tidak memperdengarkan kepada orang lain kecuali dirinya sendiri.

Coba perhatikan perkataan beliau:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ فِي الْمَرْأَةِ أَنْ لَا تَرْفَعَ صَوْتَهَا، وَإِنَّمَا عَلَيْهَا أَنْ تُسْمِعَ نَفْسَهَا

“Dan para ulamā bersepakat bahwasanya termasuk sunnah seorang wanita tidak mengangkat suaranya dalam talbiyyah dan tidak memperdengarkan kecuali kepada dirinya.”

Talbiyyah memiliki keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa, di antaranya:

⑴ Orang yang bertalbiyyah maka dia akan diberikan kabar gembira dengan surga (dan ini tidak didapatkan kecuali oleh orang-orang yang menunaikan ibadah haji).

Perhatikan hadīts dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Tabhrani dalam kitābnya Al Mu’jamul Ausath, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا أَهَلَّ مُهِلٌّ قَطُّ إِلا بُشِّرَ، وَلا كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطُّ إِلا بُشِّرَ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِالْجَنَّةِ ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Tidaklah orang yang bertalbiyyah dan bertakbir kecuali diberikan kabar gembira.”

Para shahābat bertanya:

“Wahai Rasūlullāh, apakah diberikan kabar gembira dengan surga?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Iya.”

⑵ Amalan yang paling utama dan haji yang paling utama adalah dengan mengangkat suara dalam bertalbiyyah.

Dalam sebuah hadīts riwayat Imām At Tirmidzi dari Abū Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya:

أَىُّ الْحَجِّ أَفْضَلُ قَالَ ” الْعَجُّ وَالثَّجُّ “

“Amalan haji apa yang paling utama ?”

RasūlullāhShallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Al ’ajju watstsajju.”

(HR Tirmidzi nomor 2998)

Al ‘ajju artinya mengangkat suara dalam bertalbiyyah ketika berihrām dan ats tsajju adalah menyembelih hewan hadyu ketika mengerjakan haji Tamattu’ atau haji Qirān.

Jika seseorang sudah berihrām maka disana ada larangan-larangan ihrām.

Maksud larangan ini adalah jika seorang dalam  keadaan berihrām maka dia dilarang untuk mengerjakan hal-hal berikut:

⑴. Mencukur rambutnya atau menggundul rambutnya dan seluruh rambut yang lain baik bulu ketiak ataupun bulu kemaluan, kumis apalagi janggut (dilarang).

Hal diberdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam surat Al Baqarah ayat 196:
 
 وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ

“Janganlah kalian mencukur rambut kepala kalian sampai hewan hadyu ketempatnya (tanggal 10 Dzulhijjah).”

Dalīl lain yang menunjukkan tentang hal ini adalah surat Al Hajj ayat 29:

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُم

“Kemudian kerjakanlah tafatsahum.”

Tafatsahum, para ulamā tafsir mengatakan adalah melempar jamarah kemudian mencukur rambut kemudian meletakkan ihrām.

Ini dilakukan bila sudah tanggal 10 Dzulhijjah.

Menunjukkan ketika berihrām tidak diperbolehkan mengerjakan hal itu.

⑵ Memotong kuku (baik kuku tangan maupun kuku kaki)

Dengan dalīl yaitu mengqiyaskan dengan rambut dengan dalīl surat Al Hajj ayat 29 di atas.

⑶ Menutup kepala bagi laki-laki.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika ditanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ مِنَ الثِّيَابِ فِي الإِحْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم  ” لاَ تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْعَمَائِمَ، وَلاَ الْبَرَانِسَ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلاَنِ، فَلْيَلْبَسِ الْخُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ، وَلاَ تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ، وَلاَ الْوَرْسُ، وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ “.

“Yā Rasūlullāh, apa yang engkau perintahkan bagi kami untuk memakai pakaian di dalam keadaan berihrām?”

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Janganlah kalian mengenakan baju, celana, ‘amāim, burnus, kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, hendaklah dia mengenakan sapatu tapi dipotongnya hingga berada di bawah mata kaki, dan jangan pula kalian memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan.”

(HR Bukhari nomor 1838)

‘Amāim adalah penutup kepala/surban, peci atau semisalnya dan burnus adalah pakaian gamis tetapi ada penutup kepalanya seperti pakaian orang-orang Maroko.

Tetapi bukan berarti untuk menutup kepala yang tidak melekat dan menempel dengan kepala dilarang. Tidak!

Diperbolehkan untuk menutup kepala atau menutupi tubuh kita dari panasnya terik matahari. Hal ini berdasarkan sebuah hadīts Ummul Husain radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

حَجَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَجَّةَ الْوَدَاعِ فَرَأَيْتُ أُسَامَةَ وَبِلاَلاً وَأَحَدُهُمَا آخِذٌ بِخِطَامِ نَاقَةِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَالآخَرُ رَافِعٌ ثَوْبَهُ يَسْتُرُهُ مِنَ الْحَرِّ حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ

“Aku pernah berhaji bersama Rasūlullāh dhallallāhu ‘alayhi wa sallam pada haji wadā, aku melihat Usamah dan Bilāl radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, salah satu dari mereka memegang tali pelana untanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang lain mengangkat kain untuk menutupi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari panasnya terik matahari sampai beliau melempar jumrah ‘Aqabah.”

(HR Muslim nomor 1298)

Artinya dari mulai Mudzalifah sampai ke Minā.

Menunjukkan bahwasanya yang menutupi kepala tetapi tidak melekat dan tidak menutup, seperti payung, kain yang kita tutupkan, atap bis, ini tidak mengapa.

Ada pertanyaan, di haji ada banyak debu, bolehkan kita memakai masker untuk menutupi wajah kita?

Jawabannya:

Tidak diperbolehkan, ini pendapat yang lebih hati-hati dan lebih kuat karena Rasūlullāh dhallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada seorang shahābat yang ditendang sampai mati oleh untanya beliau mengatakan:

لاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ وَلاَ وَجْهَهُ

“Janganlah kalian menutup kepalanya dan wajahnya.”

(Hadīts riwayat Imām Muslim nomor 1206)

Kenapa?

Karena orang yang meninggal dalam keadaan ihrām dia dikuburkan dengan memakai kain ihrāmnya, tidak dikafankan seperti biasa tetapi memakai kain ihrāmnya dan nanti dia akan bangun dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan bertalbiyyah.

Subhānallāh, mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya.

Adapun wanita mereka tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kedua kaos tangan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim.

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

“Seorang wanita yang dalam keadaan berihrām tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kedua kaos tangan.”

(HR muslim nomor 1838)

Kecuali jika mereka berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrāmnya maka para wanita tersebut menjulurkan kain dari atas kepalanya menutup wajahnya dan jika sudah tidak berhadapan lagi maka boleh dibuka kembali.

Sebagaimana yang dilakukan ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā dalam cerita beliau yang diriwayatkan oleh Imām Abū Dawūd, ‘Āisyah bercerita:

كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا إِلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ

“Orang-orang yang menunggangi kendaraan mereka melewati kami, kami waktu itu bersama Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan ihrām, jika orang-orang yang mengendarai kendaraan tersebut melewati kami, maka salah satu dari kami menutup dengan jilbab (kain) di atas wajahnya, kalau seandainya mereka sudah lewat jauh maka kami buka kembali.”

Ini yang dilakukan oleh wanita ketika dalam keadaan berihrām.

Wallāhu A’lam.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 19, In syā Allāh

 ________
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #17: BAGIAN 17 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #17: BAGIAN 17 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan ihrām.

Kemudian setelah itu dianjurkan bagi orang yang ingin berihrām (kalau bisa dalam keadaan setelah shalāt fardhu).

Kenapa?

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām setelah shalāt fardhu.

Dari sini para ulamā berbeda pendapat, apakah untuk ihrām ada shalāt tertentu dan khusus. Artinya bila seseorang sudah berihrām atau ingin berihrām kemudian dia shalāt dua raka’at ?

Maka jawabannya yang benar adalah berihrām setelah selesai shalāt fardhu (ini yang disunnahkan) adapun shalāt khusus untuk ihrām maka tidak ada syari’atnya dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Tetapi jika kita berihrām dari Dzulhulaifah maka kita dianjurkan untuk shalāt, bukan karena ihrāmnya tetapi karena tempatnya.

Berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dari ‘Umar bin Khathab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhū beliau bercerita, bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

” أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّي فَقَالَ صَلِّ فِي هَذَا الْوَادِي الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِي حَجَّةٍ “

Tadi malam aku didatangi oleh seorang malāikat utusan dari Rabb-Ku (Jibrīl ‘alayhissalām) kemudian Jibrīl berkata:

“Shalātlah ditempat yang penuh dengan berkah ini (pada waktu itu adalah Dzulhulaifah) dan ucapkanlah aku menunaikan ‘umrah dalam haji.”

(HR Bukhari nomor 1534)

Ini menunjukkan bahwanya khusus untuk Dzulhulaifah dishalāti dua raka’at, bukan karena ihrāmnya tetapi karena tempatnya.

Kemudian setelah itu, naik ke atas kendaraan, kalau seandainya orang itu melewati jalan darat baik itu bis, mobil, unta atau ketika dia di atas pesawat, baru setelah itu dia menghadap kiblat kemudian dia berihrām.

Untuk permasalahan berihrām di atas kendaraan dan menghadap kiblat ini disebutkan dalam hadīts-hadīts banyak sekali bahkan Syaikul Islām ibnu Taimiyyah rahimahullāh ta’āla mengatakan :

فهذه نصوص صحيحة أنه إنما أهل حين استوت به راحلته واستوى عليها

“Hadīts-hadīts yang shahīh ini menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām ketika kendaraannya sudah dipersiapkan (unta beliau sudah naik) dan beliau berada di atas unta baru beliau berihrām, beliau berada disitu (diatas unta tersebut).”

Semestinya kita mencontoh, jika kita sekarang menggunakan mobil (bis) ketika kita naik bis lalu menghadap kiblat maka saat itulah kita berihrām.

Dalīl-dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah hadīts Bukhāri dan Muslim, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā beliau bercerita:

  مَا أَهَلَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ مِنْ عِنْدِ الشَّجَرَةِ حِينَ قَامَ بِهِ بَعِيرُهُ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berihrām kecuali dari sisi pohon (sebuah pohon yang ada di Dzulhulaifah) ketika untanya sudah bangun dari tempat duduknya.”

(HR Muslim nomor 1186)

Dalam riwayat lain:

أَهَلَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حِينَ اسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ قَائِمَةً

“Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam berihrām ketika untanya sudah berdiri dengan tegak.”

(HR Bukhari nomor 1552)

Sedangkan untuk menghadap kiblat ada riwayat yang lain (bukan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetapi perbuatan ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā) yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri: 

كَانَ ابْنُ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ إِذَا صَلَّى بِالْغَدَاةِ بِذِي الْحُلَيْفَةِ أَمَرَ بِرَاحِلَتِهِ فَرُحِلَتْ ثُمَّ رَكِبَ، فَإِذَا اسْتَوَتْ بِهِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ قَائِمًا، ثُمَّ يُلَبِّي

“‘Abdullāh bin ‘Umar jika selesai shalāt subuh di Dzulhulaifah, beliau minta didatangkan untanya kemudian beliau menaiki untanya.  Jika beliau sudah berada di atas untanya dan untanya berdiri dengan tegak beliau menghadap kiblat dengan berdiri kemudian beliau berihrām dengan bertalbiyyah.”

(HR Bukhari nomor 1553)

Bertalbiyyah, maksudnya mengucapkan “Labbaik allāhuma labbaika hajjan”, kalau seandainya dia berihrām untuk iihram haji Ifrad.

“Walabbaika umratan” kalau seandainya dia berihrām untuk haji Tamattu’ dan “Labbaika hajjan wa umratan” seandainya dia berihrām haji Qirān.

Boleh seseorang memberikan syarat kepada dirinya kalau seandainya dia mungkin di jalan tidak mampu untuk menyelesaikan haji dan umrah. Karena perlu diketahui seorang yang sudah masuk ihrām (niat untuk menunaikan ibadah haji dan umrah), maka dia tidak boleh menggagalkannya, berdasarkan:

وَأَتِمُّواْ الحج والعمرة لله

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS Al Baqarah: 196)

Kalau dia sudah berihrām kemudian dia keluar dari ihrāmnya maka dia harus bayar sangsi (fidyah), akan tetapi jika dia memberikan syarat kepada dirinya maka dia lepas dari sangsi tersebut kalau seandainya dia tidak melanjutkan penyempurnaan ibadah haji dan umrahnya.

Ini fungsi syarat, dan syaratnya mengucapkan:

إن حبسني حابس فمحلي حيث حبستني

“Jika ada sesuatu yang mengahalangiku maka tempat halalku adalah di mana aku terhalang (artinya) aku bisa terhalang.”

Artinya terhalang dari keadaan ihrām ketika aku terhalang di mana disitu aku keluar dari keadaan ihrām.

Ingat! Kata-kata ihrām jangan hanya diletakkan pada hal ini (pada kain ihrām). Tidak!

Ihrām adalah sebuah keadaan bukan sebuah kain, yaitu seorang berarti dalam keadaan ihrām dia sudah melaksanakan ibadah haji dan umrah yang mana keadaan orang yang berihrām ada hal-hal yang merupakan larangan baginya untuk tidak dilanggar. (nanti akan kita jelaskan In syā Allāh).

Dalīl yang menunjukan bahwasanya boleh memberikan syarat tadi adalah hadīts riwayat Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bahwa Duba’ah binti Zubair radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā pernah mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِنِّي امْرَأَةٌ ثَقِيلَةٌ وَإِنِّي أُرِيدُ الْحَجَّ فَمَا تَأْمُرُنِي قَالَ  ” أَهِلِّي بِالْحَجِّ وَاشْتَرِطِي أَنَّ مَحِلِّي حَيْثُ تَحْبِسُنِي “

“Wahai Rasūlullāh, aku wanita yang sudah tua tapi aku ingin berhaji, lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku?”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Kerjakan haji dengan Ifrad dan berikanlah syarat kepada dirimu dengan mengucapkan ‘bahwasanya tempatku untuk bertahalul adalah di mana aku terhalang.”

(HR Muslim nomor 1208)

Jadi kalau orang sudah tua memberikan syarat kepada dirinya, karena kalau sudah tua tidak mampu lagi dia mengerjakan thawāf (misalnya) akhirnya dia keluar dari ihrāmnya (tidak jadi melaksanakan ibadah haji dan umrah).

Maka pada saat itu kalau seandainya dia bertahallul maka dia keluar dari ihrāmnya kemudian dia diperbolehkan mengerjakan hal-hal yang dilarang dan tidak ada apa-apa baginya (tidak membayar sangsi).

Ini utamanya memberikan syarat kepada dirinya ketika dia berihrām.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 18, In syā Allāh
_______
Yuk.. ikut Saham Akherat
Pembelian Rumah U/ Markaz Dakwah & Studio Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #16: BAGIAN 16 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #16: BAGIAN 16 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

◆ Ihram

Ihrām secara bahasa diambil dari kata:

 أحرم  يحرم  إحراما,

Jika seseorang sudah masuk ke dalam manasik haji maka dari sinilah para ulamā fiqih meletakkan pengertian tentang ihrām.

Ihrām secara istilah syari’ adalah niat masuk ke dalam tata cara haji atau umrah.

Sebelum kita berihrām yaitu berniat memasuki tata cara haji atau umrah maka di sana ada amalan-amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan.

Di antara amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan adalah:

⑴ Memotong kuku dan membersihkan badan.

Sesuai dengan yang dianjurkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts tentang fitrah manusia yaitu sebuah hadīts riwayat Imām Bukhāri dan Muslim, dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ – أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ – الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ ” .

“Fitrah itu ada lima yang pertama berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.”

(HR Bukhari nomor 5889 dan Muslim nomor 257)

Kelima fitrah di atas dianjurkan ketika sebelum berihrām.

Adapun janggut maka seorang muslim diharāmkan untuk mengambil sesuatu atau sedikitpun dari janggutnya baik dengan cara dicabut ataupun dipotong ataupun dikerik.

Hal ini berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts riwayat Bukhāri dari ‘Abdullāh bin ‘Ummar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisihilah diri kalian dengan kaum musyrik dan tipiskanlah kumis kalian dan biarkanlah atau banyakkanlah janggut kalian.”

(HR Muslim nomor 259)

Ini hal pertama yang dianjurkan sebelum kita berihrām.

⑵ Mandi

Mandi yang mengangkat hadats besar (seperti orang mandi junub).

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah kejadian yang  terjadi di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bahwa Asma binti ‘Umais radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau dalam keadaan selesai melahirkan dan dalam keadaan nifas. Maka beliau bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ: اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى

“Apa yang beliau kerjakan, beliau ingin berihrām tapi dalam keadaan nifas.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Mandilah kamu dan tutuplah kemaluanmu dengan kain dan berihrāmlah.”

(HR Muslim nomor 3009)

Ini menunjukkan bahwasanya sampai wanita yang hāidh atau nifaspun ketika ingin berihrām, mereka dianjurkan untuk mandi apalagi para lelaki dan wanita-wanita yang tidak dalam keadaan hāidh atau nifas.

⑶ Memakai minyak wangi

Memakai minyak wangi yang dia miliki baik di kepala ataupun di janggut atau di seluruh tubuh.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Muslim, ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

.كَانَ رَسُوْلُ اللهِ اِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْرِمَ يَتَطَيَّبَ بِأَطْيَبِ مَا يَجِدُ ثُمَّ أَرَى وَبِيْصَ الدُّهْنِ فِيْ رَأْسِهِ وَ لِحْيَتِهِ بَعْدَ ذَلِكَ

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam jika beliau ingin memakai minyak wangi yang beliau miliki kemudian aku melihat bekas kilatan minyak wangi beliau di kepala dan janggut beliau setelah itu.”

(HR Muslim nomor 2830)

Bahkan ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā sendiri beliau yang memberikan minyak wangi kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dalam hadīts lain riwayat Bukhāri dan Muslim juga dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau bercerita:

كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لإِحْرَامِهِ حِينَ يُحْرِمُ، وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ.

“Aku senantiasa memberikan minyak wangi kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika sebelum beliau berihrām dan ketika beliau dalam keadaan halal sebelum beliau thawāf Ifadhah.”

(HR Bukhari nomor 1539)

⑷ Seorang lelaki berihrām dengan dua kain ihrām yaitu yang satu dijadikan sarung dan yang satunya dijadikan selendang.

Hal ini berdasarkan sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad nomor 4664, dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَلْيُحْرِمْ أَحَدُكُمْ فِي إِزَارٍ وَرِدَاءٍ وَنَعْلَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ

“Hendaknya salah satu dari kalian berihrām dengan memakai kain yang disarungkan kemudian kain yang diselendangkan dan dua sandal.”

Ini ihrām kain bagi laki-laki, adapun bagi wanita sebagaimana riwayat ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā yang diriwayatkan oleh Baihaqi dan dinyatakan shālih oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

المحرمة تلبس من الثياب ما شاءت إلا ثوبا مسه ورس أو زعفران ، ولا تبرقع ولا تلثم ، وتسدل الثوب على وجهها إن شاءت

“Wanita yang berihrām memakai apa saja dari pakaian kecuali pakaian yang terkena wars dan Za’farān dan jangan memakai burqa (cadar) dan jangan mengikat kain di wajahnya dan hendaklah dia menjulurkan kain di atas wajahnya jika dia menginginkan.”

—> wars maksudnya minyak wangi, za’faron maksudnya warna yang seperti za’faron.

Kemudian setelah dia mandi memakai minyak wangi kemudian dia berpakaian seperti pakaian biasa dan untuk wanita, jangan sampai melewati batas-batasan pakaian yang sudah ditentukan oleh syari’at islām.

Diantara batasan-batasan tersebut adalah:

⑴ Pakaian wanita harus lebar.
⑵ Menutupi seluruh tubuh.
⑶ Harus tebal dan tidak tipis menerawang memperlihatkan bentuk tubuh dan kulit tubuh.
⑷ Tidak menyerupai pakaian lelaki.
⑸ Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kāfir yang dipakai khusus bagi mereka.
⑹ Pakaian tersebut bukan pakaian yang menyerupakan perhiasan.
⑺ Pakaian tersebut bukan pakaian syuhrah (tampil beda, pent).

Ini para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 16, In syā Allāh
____

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #15: BAGIAN 15 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #15: BAGIAN 15 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMROH BAGIAN 15 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita akan membahas permasalahan berikutnya yaitu Miqāt-miqāt yang ada di dalam permasalahan haji.

◆ Miqāt

⇒Miqāt artinya batasan.

Apa maksud batasan?

Miqāt adalah batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syari’at baik berupa waktu maupun tempat.

Miqāt dibagi menjadi dua:

⑴ Miqāt Zamani (batasan waktu)
⑵ Miqāt Makani (batasan tempat)

◆ Miqat Zamani

Kalau waktu berarti bulan-bulan yang sudah ditentukan oleh syari’at Islām di dalamnya kita boleh mengerjakan haji.

Bulan-bulan yang dimaksud adalah:

√ Bulan Syawwāl
√ Bulan Dzulqa’dah
√ 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Coba perhatikan surat Al Baqarah 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah dimaklumi, siapa yang diwajibkan di dalam bulan-bulan tersebut untuk menunaikan ibadah haji, maka janganlah dia berbuat rafats, fasiq dan tidak boleh dia berbantah-bantahan ketika menunaikan ibadah haji.”

Batasan waktu adalah bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Seperti yang dikatakan oleh ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

أَشْهُرُ الْحَجِّ شَوَّالٌ وَذُو الْقَعْدَةِ وَعَشْرٌ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ  

“Bulan-bulan haji adalah bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

(HR Tirmidzi nomor 932)

Apa maksudnya miqāt zamani ini?

Maksudnya adalah batasan yang telah Allāh tentukan, berarti orang tidak boleh menunaikan haji diluar bulan ini.

Tidak boleh dia berihrām haji dari mulai bulan Ramadhān atau Muharram. Yang boleh hanya di bulan Syawwāl, Dzulqa’dah dan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah.

Kemudian juga perkataan ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā:

من السنة أن لا يحرم بالحج إلا في أشهر الحج

“Termasuk sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berihrām haji kecuali di bulan-bulan haji.”

◆ Miqāt Makani

Miqāt makani artinya batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syari’at untuk memulai ihrām bagi yang ingin memulai haji atau umrah.

Tidak boleh seseorang berihrām sembarangan tetapi di batasan-batasan yang telah ditentukan tersebut.

Batasan-batasan miqāt Makani ada 5:

⑴ Miqāt penduduk Madīnah adalah Dzulhulaifah (Bir ‘Ali)

Artinya jika penduduk Madīnah ingin menunaikan ibadah haji atau umrah harus melewati Bir ‘Ali dan ketika melewatinya berihrām di sana.

Jika melewati Dzulhulaifah tanpa keadaan ihrām padahal dia ingin menunaikan ibadah haji atau umrah, maka dia wajib membayar dam.

⑵ Miqāt penduduk Mesir, Syām, Suriah, Libanon, Palestina, Jordania, Maroko dan semisalnya adalah Al Juhfah.

Al Juhfah sekarang diganti dengan Rabigh.

⑶ Miqāt bagi penduduk Nazed (Riyard, Bahrain, Dammam, Khabar, Qatif) dan sekitarnya adalah Qarnul Manazil.

⑷ Miqāt penduduk Yaman adalah Yalamlam.

⑸ Miqāt dari penduduk Iraq adalah Dzatu ‘Irq.

Kalau kita sudah mengetahui miqāt-miqāt itu, perlu kita ketahui bahwasanya wajib bagi yang melewati miqāt-miqāt ini baik jalan darat, laut atau udara  yang ingin berhaji atau berumrah untuk berihrām di sana.

Tidak boleh dia melewati miqāt tanpa berihrām jika dia ingin mengerjakan haji dan umrah.

Dalīl yang menunjukkan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim dari shahābat ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَقَّتَ رَسُوْلُ اللهِ لأَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ وَلأِهْلِ النَّجْدِ القَرْنَ وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ قَالََ هُنَّ لَهُنَّ لِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ كَانَ يُرِيْدُ اْلحَجَّ وَ الْعُمْرَةَ

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan miqāt untuk penduduk kota Madīnah Dzulhulaifah dan penduduk kota Syām Al Juhfah dan penduduk Nazed Qarnal Manazil dan penduduk kota Yaman Yalamlam.

Lalu beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda:

“Miqāt-miqāt itu bagi penduduknya atau bagi orang yang melewatinya yang bukan dari penduduk daerah itu atau bagi siapa saja yang ingin berhaji atau umrah.”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan kalau penduduk kota Mekkah bagaimana? Atau penduduk kota yang di dalam miqāt?

Miqāt yang paling dekat adalah Qarnul Manazil (As Syail Kābir), jaraknya kurang lebih 70 Km dari kota Mekkah.

Miqāt yang paling jauh adalah miqāt penduduk kota Madīnah (Dzulhulaifah/Bir ‘Ali), jaraknya sekitar 450 Km dari kota Mekkah.

Jarak miqāt penduduk Madīnah jauh, sehingga shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum kalau sudah berihrām baik haji atau umrah sampai Mekkah suaranya habis, kenapa?

Karena setelah berihrām kita dianjurkan untuk bertalbiyah. Para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum mereka bertalbiyah sampai ke kota Mekkah.

 ◆ Penduduk kota yang ada di dalam miqāt

Penduduk kota yang ada di dalam miqāt (misalnya)  kota Tsumaysi yang ada dekat Mekkah, Than’im, Mina, ‘Arafāh, Jeddah, Thaif. Di mana penduduk itu mengambil miqāt?

Miqāt nya, sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda (lanjutan hadits yang tadi):

فَمَنْ كَانَ دُوْنَهُنَّ مَهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ وَكَذَلِكَ أَهْلُ مَكَةََََ يُهِلُّوْنَ مِنْهَا

“Adapun orang yang tinggal di dalam miqāt maka dari tempat tinggalnya dia berihrām, sampai penduduk Mekkah dia berihrām dari tempat tinggalnya.”

Kalau tadi di dalam hadits ‘Abdullāh ibnu ‘Abbās hanya disebutkan 4 (empat) miqāt yang ke-5 adalah miqāt penduduk kota Iraq.

Dalam riwayat yang lain disebutkan berdasarkan hadīts ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau bercerita:

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ الْعِرْقِ

“Sesungguhnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menentukan Dzatu’irq sebagai miqāt bagi penduduk Irāq.”

(Hadīts Abū Dāwūd nomor 1739,An Nasāi’ 2/6)

Dzatu ‘irq adalah sebuah daerah yang ada di Iraq sebagi miqāt penduduk Iraq.

Ini yang bisa saya sampaikan tentang miqāt.

Sebelum saya tutup saya ingin menyampaikan dari miqāt-miqāt yang sudah kita sampaikan tadi. Berarti Jeddah bukan miqāt dan Jeddah ada di dalam miqāt.

Kalau ada jama’ah haji Indonesia yang berangkat dari Indonesia naik pesawat, kalau tujuannya Jeddah dia akan melewati Yalamlam (miqātnya orang Yaman) berarti dia harus berihrām di dalam pesawat.

Kalau dia berihrām di Jeddah maka dia sudah melewati miqāt tanpa ihrām, padahal dia menginginkan haji dan umrah, maka wajib baginya untuk membayar dam atau fidyah yaitu menebus kesalahan karena masuk miqāt tanpa berihrām.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 16, In syā Allāh
____

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #14: BAGIAN 14 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #14: BAGIAN 14 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sekarang kita berbicara tentang syarat orang yang menghajikan atau mengumrahkan orang lain.

Di antara syaratnya adalah:

⇒Sudah pernah melakukan haji atau umrah  untuk dirinya sendiri.

Dalam hadīts riwayat Imām. Abū Dāwūd bahwa ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā bercerita:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ . قَالَ ” مَنْ شُبْرُمَةَ ” . قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي . قَالَ ” حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ ” . قَالَ لاَ . قَالَ ” حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ ” .

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan ihrām dengan ucapan:

“Labaika an Syubrumah (aku memenuhi pangilan Engkau wahai Allāh atas nama Syubrumah).”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya:

“Siapa itu Syubrumah.”

Kemudian orang tersebut menjawab:

“Saudara lelakiku (kerabatku) wahai Rasūlullāh.”

Lau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertanya kepada orang ini:

“Apakah engkau telah berhaji ?”

Kemudian orang tersebut menjawab, “Belum”

Lalu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Hajilah untuk dirimu dulu, kemudian baru hajikan atas nama Syubrumah.”

(HR Abu Daud nomor 1546, versi Baitul Afkar adDaulah nomor 1811)

⇒Tentunya tahun ini haji untuk diri sendiri baru tahun depan untuk Syubrumah.

◆ Nasehat bagi yang ingin menghajikan orang lain

Ada tiga nasehat, diantaranya:

Ini disebutkan oleh Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah panjang lebar dalam kitāb Maj’mu Al Fatawa tentang menghajikan orang lain.

⑴ Tunaikan amanah orang lain.

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd nomor 3535 dan hadīts ini di shahihkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh.

Abū Hurairah berkata, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَن ائْتَمَنَكَ وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikan amanah kepada orang yang berhak mendapatkan amanah tersebut dan janganlah kamu khianati orang yang mengkhianatimu.”

Dalam hadīts riwayat Imām Ahmad nomor 14878, hadīts ini dishahīh oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam haji wadā:

وَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا

“Barangsiapa yang ada disisinya amanah, maka tunaikanlah amanah tersebut kepada yang berhak mendapatkannya.”

⇒Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbicara tentang amanah ketika haji wadā, maka tunaikanlah amanah orang lain.

⑵ Kerjakan dengan maksimal

Rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnah dikerjakan.

Contoh:

Bermalam di Muzdalifah bagi bujangan tidak membawa keluarga diwajibkan sampai pagi (shalāt Subuh disana).

Apabila ada orang yang membadalkan haji (bujangan) dia tidak bermalam di Muzdalifah, dia hanya singgah sebentar  kemudian tidur sebentar lalu pergi setelah pertengahan malam. Ini namanya tidak maksimal mengerjakan amanah orang lain.

Mengerjakan amanah orang lain harus maksimal karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan Allāh mencintai orang-orang yang berbuat ibadah dengan maksimal (tidak asal-asalan).

Dan para shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum sangat membenci orang yang ketika shalāt ruku’nya tidak lurus, terlalu tinggi atau terlalu berlebih-lebihan karena malas, tidak maksimal ruku’nya.

Dalam amalan apapun Allāh sangat mencintai untuk dikerjakan secara maksimal.

Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Baihaqi dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه

“Sesungguhnya Allāh mencintai jika salah satu dari kalian jika mengerjakan suatu amalan, dia kerjakan dengan sungguh-sungguh (maksimal).”

⑶ Menghajikan orang lain jangan mengambil keuntungan tetapi mengambil harta untuk berhaji (haji badal tersebut).

Para ulamā mengatakan:

“Barangsiapa yang ingin mengambil keuntungan di dalam menghajikan orang lain, jangan dia kerjakan haji untuk orang lain dan barangsiapa ingin mengambil harta untuk berhaji maka silahkan berhaji.”

⇒Artinya jangan sampai ada proses pengambilan keuntungan.

Syaikhul Islām ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan tentang seorang wanita berhaji (menghajikan orang lain), wanita yang berhaji ini berniat untuk menghajikan seorang yang sudah meninggal dengan upah membayar hutang.

Apakah boleh wanita ini untuk menunaikan ibadah haji?

Jawaban:

يجوز أن تحج عن الميت بمال يئخذ على وجه النيابة بالاتفاق، وأما على وجه الإجارة ففيه قولان للعلماء، هما روايتان عن أحمد:
إحداهما: يجوز وهو قول الشافعي.
والثاني: لا يجوز، وهو مذهب أبي حنيفة. ثم هذه الحاجة عن الميت إن كان قصدها الحج، أو نفع الميت كان لها في ذلك أجر وثواب، وإن كان ليس مقصودها إلا أخذ الأجرة فما لها في الآخرة من خلاق.

“Boleh, untuk menunaikan haji orang lain dengan harta yang diambil (sebagai wakil). Adapun dalam sisi sebagai upah seperti pekerja maka ada dua pendapat dari para ulamā, yaitu:

⑴ “Boleh” (ini pendapat  Imām Ahmad dan Imām Syāfi’i).

⑵ Pendapat Abū Hanifah, “Tidak boleh.”

“Jika wanita tadi menunaikan ibadah haji atas orang lain karena ingin menunaikan ibadah haji atau memberikan manfaat kepada orang yang sudah meninggal (mengirimkan pahala atasnya), maka baginya pahala dan ganjaran dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau seandainya tidak ada niatan kecuali dia mengambil keuntungan, maka tidak ada bagian pahala baginya diakhirat kelak.”

(Majmu’ Fatawa)

Jadi harta yang diambil diberikan oleh orang yang ingin meniatkan (menghajikan) orang lain tersebut bukan sebagai keuntungan tetapi untuk berhaji.

Jadi ketika kita menghajikan orang lain jangan sampai kita niatkan untuk mengambil keuntungan.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 15, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #13: BAGIAN 13 DARI 30

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #13: BAGIAN 13 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ،  أما بعد:

Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita akan membicarakan manasik haji.

Manasik haji artinya bahwa ada 3 (tiga) jenis tata cara menunaikan ibadah haji.

Kalau dari tiga jenis haji, mana yang lebih utama?

Ingat kata-kata “paling utama” menunjukkan bahwasanya tiga jenis haji ini disyari’atkan.

Tetapi kita berbicara mana yang paling utama, bukan berbicara mana yang tidak boleh.

Tiga-tiga jenis manasik ini diperbolehkan untuk memilih, silahkan dia pilih tergantung (sesuai) dengan kemampuan dia.

Haji tamattu’ adalah haji yang paling utama untuk dikerjakan dengan beberapa sebab, di antaranya:

⑴ Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memerintahkan para shahābat untuk mengerjakan haji Tamattu’.

Dalīlnya adalah hadīts riwayat Muslm, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 ” لَوْ أَنِّي اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْىٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً ”

“Kalau seandainya aku mengetahui dari perkaraku yang akan datang maka aku tidak akan membawa hewan hadyu dan aku akan menjadikannya (Ihrāmku ini) sebagai umrah, maka barangsiapa atas kalian yang tidak bersamanya hewan hadyu (dari luar Mekkah) maka hendaklah bertahallul dan menjadikannya sebagai ihrām umrah.”

(HR Muslim nomor 2137, versi Syarh Muslim nomor 1218)

Ini adalah perintah dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⑵ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menginginkan untuk mengerjakan haji secara  Tamattu’ tetapi karena beliau membawa hewan hadyu maka beliau mengerjakan haji secara Qirān.

⑶ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

أَحِلُّوا مِنْ إِحْرَامِكُمْ بِطَوَافِ الْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، وَقَصِّرُوا ثُمَّ أَقِيمُوا حَلاَلاً، حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوا بِالْحَجِّ، وَاجْعَلُوا الَّتِي قَدِمْتُمْ بِهَا مُتْعَةً

“Bertahallullah kalian dari ihrām kalian dengan mengerjakan thawāf, lalu sai diantara Shafā dan Marwah, kemudian pendekanlah rambut kalian, kemudian berdiamlah di Mekkah dalam keadaan halal (lepas dari Ihrām), sampai jika telah datang hari tarwiyyah (08 Dzulhijjah) lalu berihrāmlah dengan niatan haji. Dan jadikan ihrām yang kalian datang dengannya sebagai umrah yang dengannya kalian mengerjakan haji Tamattu.”

Lalu bagaimana niat haji tamattu’?

⇒Allāhuma labaika umratan (sudah cukup)

Ada yang lain menambahkan

⇒ Muttamati’an bihā ilal haji (sebagian ulamā menganjurkan seperti ini).

◆ Ihrām

Ihrām adalah niat masuk ke dalam manasik haji, jadi kalau orang berihrām berarti dia berniat masuk ke dalam manasik haji.

◆ Menghajikan atau mengumrahkan orang lain

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kita ingin membahas tentang permasalahan menghajikan dan mengumrahkan orang lain.

Ketahuilah bahwasanya menghajikan dan mengumrahkan orang lain disyari’atkan dalam Islām dan pahalanya sampai kepada orang yang kita haji atau umrahkan. 

◆ Syarat-syarat orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya.

Syaratnya:

⑴ Orang yang akan dihajikan atau diumrahkan sudah meninggal.

Dalīlnya hadīts riwayat Bukhāri dari ‘Abdullāh bin ‘Abbas radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, beliau bercerita:

أَنَّ امْرَأَةً، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ ” نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ “. قَالَتْ نَعَمْ. فَقَالَ ” فَاقْضُوا الَّذِي لَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ “.

Pernah seorang wanita menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu dia berkata:

“Sesungguhnya ibuku bernadzar ingin menunaikan ibadah haji lalu beliau meninggal sebelum beliau menunaikan ibadah haji, bolehkah aku menghajikan atasnya?”

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

“Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?”

Wanita itu menjawab: “Ya.”

Lantas Nabi berkata:

“Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.”

(HR Bukhari nomor 6771, versi Fathul Bari nomor 7315)

Lihat kata-kata “meninggal”, jadi orang yang dihajikan dan di umrahkan atasnya adalah orang yang sudah meninggal.

⑵ Orang yang dihajikan atau diumrahkan atasnya tidak mampu menunaikan ibadah haji.

Maksud tidak mampu karena dua hal:

⑴ Usianya tua sehingga tidak mampu untuk menunaikan ibadah haji.

⑵ Orang yang sakit yang diperkirakan sulit sembuhnya dan tidak mampu menunaikan ibadah haji.

Dalīl yang menunjukkan akan hal ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim dari ‘Abdullāh bin ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau bercerita:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ، عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ، قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ  ” نَعَمْ “

“Sesungguhnya ada seorang wanita dari daerah Qata’ab berkata kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya kewajiban seorang hamba-hambanya dalam haji telah didapati oleh bapakku dalam keadaan yang sangat tua, beliau tidak mampu untuk tetap di atas kendaraannya, bolehkan aku berhaji atasnya?”

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Iya.”

(HR Bukhari nomor 1721, versi Fathul Bari nomor 1854)

Dalam riwayat yang lain (Muslim) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab:

فَحُجِّي عَنْهُ

“Maka berhajilah atasnya.”

(HR Muslim nomor 2376, versi Syarh Muslim nomor 1335)

Kalau ada yang bertanya, apabila umrah bagaimana? apa dalīlnya?

Dalīlnya hadīts riwayat Imām Abū Dāwūd bahwa seorang shahābat yang bernama Abū Razin radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلاَ الْعُمْرَةَ وَلاَ الظَّعْنَ . قَالَ  ” احْجُجْ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ ” .

“Wahai Rasūlullāh, sesungguhnya bapakku orang yang tua renta tidak mampu berhaji, umrah dan tidak mampu untuk duduk diatas unta sebagai kendaraannya,”

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Hajikan dan umrahkan bapakmu.”

(HR Abu Daud nomor 1545, versi Biatul Afkar Ad Daullah nomor 1810)

Ini adalah syarat yang berkaitan dengan orang yang dihajikan dan diumrahkan atasnya.

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 14, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq

Menuju Kebahagiaan dalam Paket Umroh November 2017

Menuju Kebahagiaan dalam Paket Umroh November 2017

Menuju Kebahagiaan dalam Paket Umroh November 2017

Jika kita ingin mengetahui informasi mengenai paket umroh November 2017, artikel ini bisa menjadi referensi bagi kita sebelum kita berangkat melaksanakan ibadah umroh. Bagi sebagian orang, umroh merupakan ibadah yang bisa dilakukan sebelum berangkat haji. Umroh bisa disebut sebagai ibadah haji kecil karena ibadah ini mempunyai rukun yang lebih sedikit daripada haji biasa. Biasanya, setiap agen umroh seperti khazzanah tour menyediakan berbagai macam fitur layanan yang dapat kita terima jika kita memilih agen tersebut. Karena itu, hal ini turut membuat bingung setiap orang terutama bagi mereka yang sudah lama ingin menjalankan ibadat ini. Untuk hal ini, kami akan membantu anda dalam mendapatkan agen perjalanan yang tepat dengan membagikan tips yang ampuh agar anda bisa mendapatkan agen travel haji yang pas untuk anda.

paket-umroh-november-2017

Tips dalam memilih paket promo umroh murah November 2017 

Seperti yang kita tahu, paket umroh november 2017 memang mempunyai banyak unggulan. Sehingga, hal ini turut membuat bingung setiap orang terutama bagi mereka yang hendak melaksanakan ibadat umroh. Namun, hal ini tidaklah sulit bagi kita untuk tahu akan cara yang tepat untuk memilih penyedia ibadat umroh yang tepat dan sesuai dengan kemampuan kita. Biaya umroh november 2017 memang tidaklah murah. Terlebih lagi bagi kita yang ingin melaksanakan ibadah umroh dalam waktu yang dekat. Karena itu, kita perlu tahu cara yang tepat untuk mendapatkan agen perjalanan umroh yang dapat membantu untuk mewujudkan mimpi kita dalam berangkat ke tanah suci untuk menjalani ibadat umroh. Untuk mendapatkan promo umroh november 2017 yang pas dengan kebutuhan kita, kita perlu tahu cara yang tepat untuk hal tersebut. Hal pertama yang perlu anda ketahui adalah, anda perlu mencari agen perjalanan yang sudah diakui oleh kementerian agama. Hal ini setidaknya sudah menjamin bahwa agen perjalanan yang anda pilih sudah diakui dan resmi oleh badan kementerian. 
Tidak hanya itu, anda juga harus pastikan biaya paket umroh november 2017 yang dipasang oleh agen perjalanan tersebut. Anda perlu melihatnya secara teliti terutama bagian biaya perjalanan dan juga akomodasi kita selama disana agar kita tidak kecolongan akan beberapa hal kecil yang dapat menganggu kenyamanan kita selama menjalankan ibadat umroh disana. 
Pastikan untuk memesan Paket Umroh November 2017 dari jauh-jauh hari bagi anda yang hendak melaksanakan ibadat umroh pada bulan November mendatang. Selain bulan Juni, pastikan juga anda sudah memesan paket perjalanan jauh-jauh hari agar dapat memangkas biaya perjalanan yang perlu anda keluarkan untuk anda nantinya. Tidak hanya itu, anda juga perlu lebih teliti dalam melihat berbagai macam promo yang ditawarkan sehingga, anda bisa mendapatkan bonus akan perjalanan ibadat umroh yang anda jalankan. Dengan mengetahui mengenai cara untuk mendapatkan paket umroh yang tepat maka, anda sudah bisa tenang dalam melakukan ibadat umroh nantinya karena, hal tersebut tentunya menjadi salah satu persiapan penting yang perlu anda persiapkan dengan baik sehingga, anda hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan dan mempersiapkan beberapa hal yang perlu anda persiapkan dalam menyongsong hal tersebut. 
Setelah menjalani ibadah Umroh, anda tentunya akan mendapatkan banyak hal baru yang sangat bagus untuk diri anda terutama untuk pengalaman rohani karena, kita akan mendapatkan banyak hal yang bagus untuk rohani kita. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memilih paket Umroh November 2017 yang tepat bagi kita.

Menuju Akhir Tahun Terbaik di Paket Umroh Desember 2017

Menuju Akhir Tahun Terbaik di Paket Umroh Desember 2017

Seperti halnya pemberangkatan ke luar negeri manapun, ibadah umroh juga membutuhkan persyaratan yang harus dilengkapi. Jadi meskipun kita telah memesan paket umroh desember 2017, itu bukan berarti yang perlu kita lakukan hanya membayar paketnya saja. Nah, bagi sobat yang memang ingin menjalankan ibadah umroh dengan lancar dan juga khusyuk maka tidak ada salahnya bagi sobat sekalian untuk mencoba memahami persyaratan persyaratan apa saja yang perlu sobat sekalian penuhi. Dengan demikian pada saat sobat hendak menjalankan ibadah umroh sobat tinggal menyerahkan persyaratan tersebut dan menunggu kloter keberangkatan umroh yang telah sobat sekalian gunakan jasa khazzanah travel

Info Paket Umroh Desember 2016 dan persyaratan yang harus dipenuhi 

Bagi sobat sekalian yang hendak melakukan umroh akhir tahun 2017 maka persayaratan yang perlu dipenuhi ada beberapa salah satu yang paling penting adalah paspor asli. Paspor asli dibutuhkan dalam pengurusan dokumen keberangkatan dan memiliki nama lengkap seperti contohnya yusuf adi gunawan. Dan lain lain. Pastikan juga bahwa paspor yang akan anda gunakan untuk menemani keberangkatan anda dalam paket umroh desember 2017 tersebut memiliki masa berlaku yang masih lama yaitu minimal 8 bulan sebelum keberangkatan yang akan dilakukan, hal ini sangat penting karena paspor merupakan salah satu jenis dokumen personal yang akan memberikan kita banyak kemudahan saat pengurusan keberangkatan umroh desember 2017. Persyaratan kedua yang juga tidak kalah penting adalah beberapa dokumen pribadi keluarga seperti contohnya adalah fotocopy dari KK atau keluarga, dimana dokumen ini berlaku bagi suami istri serta keluarga kita yang juga ikur berangkat umroh. Selain itu bagi yang sudah menikah maka diwajibkan juga untuk membawa surat nikah yang asli dan bukan fotocopy. Terutama bagi yang memiliki istri berusia dibawah umur 45 tahun. 
Bagi yang membawa sanak saudara terutama anak anak maka akta kelahiran juga menjadi hal yang perlu diperhitungkan untuk dibawa di dalam paket umroh desember 2017 yang akan anda pesan dan juga gunakan untuk menjalankan ibadah umroh anda dan keluarga sekalian. Tentu saja selain biaya umroh yang standar, kita juga diwajibkan membawa uang tambahan untuk pembayaran DP dalam biaya umroh akhir tahun 2017 yang akan kita sekeluarga gunakan. DP tersebut berbeda beda untuk setiap jasa travel haji dan umroh akan tetapi standar dari DP yang bisa digunakan adalah sebesar Rp 5.000.000. dan ini berlaku untuk kebanyakan jenis paket umroh desember yang ada. Selain biaya, jangan lupa juga kita wajib melampirkan foto berwarna untuk keperluan identifikasi. Posisi muka juga harus jelas dan tidak memakai seragam atau kerudung yang berwarna putih karena latar yang digunakan juga putih. Dalam persyaratan tambahan ukuran foto yang diminta biaranya 3×4 dan 4×6 lalu setiap foto memerlukan 5 lembar untuk pelengkapan dokumen. 
Untuk peserta promo umroh murah desember 2017 yang berumur di bawah 40 tahun akan memerlukan biaya tambahan untuk biaya muhrim terutama apabila belum bersuami atau bermuhrim. Oleh karena itu persiapkan biaya tambahan apabila anda belum menikah dan berumur dibawah 40 tahun atau tidak memeiliki pendamping muhrim. Selain itu peserta umroh yang berusia di atas 60 tahun akan wajib mendapatkan pendampingan terutama peserta umroh yang juga sedang mengalami sakit tertentu. Itulah beberapa persyaratan untuk promo umroh desember murah di Jakarta dan waktu waktu lainnya semoga ini akan memberikan kita lebih persiapan yang tepat sehingga tidak menyusahkan kita pada saat akan berangkat umroh.

KAJIAN ISLAM INTENSIF TENTANG MANASIK HAJI DAN UMRAH #12: BAGIAN 12 DARI 30

بســـمے الله الرّحمنـ الرّحـيـمـے
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته  
الْحَمْدُ اللهِ رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد

Alhamdulillāh kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kita akan membicarakan manasik haji.

Manasik haji yang dimaksud adalah 3 (tiga) jenis tata cara menunaikan ibadah haji.

 ◆ Tata cara menunaikan ibadah haji

⑴ Tamattu’

Tamattu’ adalah berihrām pada miqāt dibulan-bulan haji dengan berniat umrah yaitu mengucapkan, “Labaika umratan,” atau, “Allahumma Labaika umratan.”

Setelah itu melakukan amalan-amalan umrah dimulai dari thawāf, sai, kemudian bertahallul.

Setelah itu dia lepas dari larangan-larangan ihrām dan tinggal di Mekkah dalam keadaan biasa tanpa berihrām.

Kemudian tanggal 08 Dzulhijjah dia berihrām kembali dengan niat haji yaitu dengan mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan atau Labaika hajjan.” Setelah itu dia mengerjakan seluruh amalan-amalan haji (In syā Allāh akan kita bahas pada pertemuan yang akan datang).

Seperti:

√ Bertolak ke Mina.
√ 08 Dzulhijjah bermalam di Mina.
√ 09 Dzulhijjah wuqūf di ‘Arafāh.
√ 09 Dzulhijjah malam bermalam di Muzdalifah.
√ 10 Dzulhijjah (pagi) bertolak dari Muzdalifah ke Mina untuk melempar jumrah ‘Aqabah.
√ Setelah itu thawāf ifadhah.
√ Mengerjakan 3 (tiga) jamarat pada hari-hari tasyrik.
√ Mengerjakan thawaf wadā’.

Itulah yang disebut dengan haji Tamattu’.

⇒Ringkasnya haji Tamattu’ adalah umrah dulu baru setelah itu haji.

Bagi yang menunaikan ibadah haji dengan cara Tamattu’ diwajibkan baginya untuk menyembelih hadyu.

⇒Hadyu adalah hewan dari bahimatul an’am yaitu satu ekor kambing atau satu ekor sapi dalam tujuh orang atau satu ekor unta dalam tujuh orang.

Hadyu tersebut disembelih di tanah suci dan jika tidak mampu maka berpuasa 3 (tiga) hari di tanah suci dan 7 (tujuh) hari ketika kita pulang ke daerah masing-masing. 

⑵ Haji Qirān

Haji Qirān adalah berihrām pada bulan-bukan haji dari mulai Syawwāl, Dzulqadah, Dzulhijjah dengan berniat melakukan ibadah haji dan umrah secara bersamaan.

Yaitu ketika kita berihrām, di dalam ihrām kita, kita berniat melakukan haji dan umrah secara bersamaan dengan mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan wa ‘umratan,” atau’ “Labaika hajjan wa ‘umratan.”

Kemudian ketika sampai di Mekkah dia melakukan thawāf qudum (thawāf kedatangan), kemudian jika dia ingin melakukan sa’i diperbolehkan, jika tidak ingin melakukan sa’i juga diperbolehkan.

Setelah itu dia berdiam di Mekkah sampai tanggal 08 Dzulhijjah dalam keadaan berihrām artinya larangan-larangan ihrām tetap berlaku padanya sampai tanggal 08 Dzulhijjah.

Kemudian ketika sampai tanggal 08 Dzulhijjah melakukan amalan-amalan haji hingga selesai.

Haji Qirān diwajibkan juga menyembelih hadyu dan bila tidak mampu sama seperti haji Tamattu’ boleh diganti dengan berpuasa selama 3 (tiga) hari di tanah suci dan 7 (tujuh) hari ketika pulang ke daerahnya masing-masing.

⇒ Ringkasnya haji Qirān adalah berihrām dari miqāt pada bulan-bulan haji dengan niat menunaikan ibadah haji dan umrah secara bersamaan.

⑶ Haji Ifrad

Haji ifrad adalah berihrām di miqāt pada bulan-bukan haji dengan berniat haji saja, yaitu mengucapkan, “Allāhuma Labaika hajjan,” atau, “Labaika hajjan.”

Jika sudah sampai di Mekkah setelah berihrām dia melakukan thawāf qudum, jika ingin mengerjakan sa’i dipersilahkan dia sa’i, kalau tidak juga dipersilahkan.

Dan menunggu sampai tanggal 08 Dzulhijjah dalam keadaan berihrām.

Larangan-larangan ihrām ketika dalam keadaan menunggu ini tetap berlaku. Kemudian dia melakukan seluruh amalan-amalan ibadah haji sampai selesai.

Bagi yang menunaikan ibadah haji ifrad tidak ada kewajiban menyembelih hewan hadyu (dam).

Dalīl yang menunjukkan tentang 3 (tiga) manasik ini adalah sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Bukhāri dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā.

‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā meriwayatkan bahwasanya beliau bercerita:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ، فَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِعُمْرَةٍ، وَمِنَّا مَنْ أَهَلَّ بِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

“”Kami pernah keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada tahun haji wadā’ (tahun ke-10 hijriyyah), maka di antara kita ada yang berihrām dengan ihrām umrah (haji Tamattu’), ada di antara kita yang berihrām dengan ihrām haji dan umrah (haji Qirān atau Ifrad).”

(HR Bukhari nomor 1460, versi Fathul Bari nomor 1562)

Hadīts yang lain yang menunjukkan akan hal itu adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā bercerita:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ  ” مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ وَعُمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِحَجٍّ فَلْيُهِلَّ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُهِلَّ بِعُمْرَةٍ فَلْيُهِلَّ “

Kami pernah keluar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian beliau bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin berniat haji dan umrah maka hendaklah dia kerjakan dan barangsiapa yang ingin berihrām dengan niatan haji saja maka hendaklah dia berihrām dengan niatan haji dan barangsiapa yang ingin berhaji dengan umrah saja maka hendaklah dia berihrām dengan niatan umrah.”

(HR Muslim nomor 2111, versi Syarh Muslim nomor 1211)

Mudah-mudahan ini bermanfaat.

صلى الله على نبينا محمد
و السّلام عليكم ورحمة الله وبر كا ته

Bersambung ke bagian 13, In syā Allāh
________

🌾 Donasi Program Dakwah Islam Cinta Sedekah & Bimbingan Islam ;

🌐 http://cintasedekah.org/program-cinta-sedekah/

💰 INFAQ       
🏦 Bank Syariah Mandiri (Kode Bank 451)
📟 7814 5000 17
🏢a.n Cinta Sedekah Infaq